
"Morning!" sapa Abi ketika mendapati istrinya membuka matanya. Pria itu tersenyum, lalu mengikis jarak, memberikan satu kecupan di keningnya.
"Udah bangun Mas, jam berapa ini? Aku kesiangan," ujar Ajeng langsung membuka matanya. Rasanya sungguh aneh saat terbangun tidak menemukan Ruby dan malah menemukan suaminya.
Ajeng baru ingat, semalam Ruby tidur di kamar barunya mungkin saja dengan neneknya. Sementara Ajeng malah asyik berdua. Bahkan melewati satu malam yang paling baru dan berkesan untuk dirinya. Hari ini perempuan itu benar-benar merasa berbeda. Ia telah utuh menjadi istri dengan kaidah yang sesungguhnya.
Walau rasanya capek dan remuk, ia merasa senang bisa membuat suaminya bahagia tentunya. Rasanya masih enggan beranjak dari kasur, sisa semalam membuatnya begitu lelah. Namun, ia tetap harus segera bangun mengingat harus ibadah.
"Masih pagi sayang, baru subuh. Mandi yuk!" ajak pria itu ikut bangkit dari pembaringan.
"Kamu duluan Mas," ujar perempuan itu masih sedikit canggung. Apalagi saat Abi terus menatapnya dengan senyuman, bayangan semalam kala pria itu menyentuhnya membuat pipinya memanas.
"Bareng nggak pa-pa, ayok!" ucapnya santai. Mendekap tubuhnya dari samping penuh kemesraan. Seraya dunia ini milik Abi seorang, ia benar-benar bahagia bisa memiliki seutuhnya.
"Jangan gini Mas, sana mandi!" Ajeng memberi jarak. Sementara Abi enggan beranjak sama sekali. Kenapa pria itu jadi begitu manja? Bahkan Ajeng nyaris lupa kalau dulunya suaminya pria arogan yang cukup dominan. Dia terlalu manis, bahkan begitu lembut. Abi benar-benar telah berubah seutuhnya.
"Terima kasih buat semalam, apa kita bisa mengulang sekali lagi sebelum mandi?" pinta pria itu mencoba keberuntungan di pagi hari.
"Hah! Sekarang? Tapi Mas, aku masih kurang nyaman," keluh perempuan itu dengan jujur.
"Ya udah jeda dulu nggak pa-pa, nanti malam boleh lagi ya?" Nampaknya pria itu sudah kecanduan dengan aktivitas barunya.
"Lihat nanti, kenapa harus dibahas sekarang." Perempuan itu tersenyum malu melihat kekonyolan suaminya yang bahkan terang-terangan ingin lagi.
"Duh ... sabar deh sampai nanti malam." Abi terkekrh sendiri sambil menatapnya.
"Ayo Sayang!"
__ADS_1
"Ke mana?" Ajeng kebingungan.
"Mandilah, emang ke mana? Atau jangan-jangan kamu yang udah nggak sabar," goda pria itu ngadi-ngadi sekali.
"Itu lebih nggak mungkin Mas, udah sana duluan!" usir Ajeng dengan gemas.
Setelah berdebat kecil, akhirnya Ajeng mandi lebih dulu. Lalu keduanya menunaikan ibadah bersama pagi ini. Ia keluar kamar langsung mencari putri kecilnya. Merasa tak enak hati sebab semalam malah membiarkan dititip pada ibu mertuanya.
"Eh, cantiknya anak mama, Ruby udah mandi ya?"
Bocah kecil itu mengangguk, berbinar senang menunjukkan mainan di tangannya. Kamar baru Ruby didominasi banyak mainan, membuat bocah kecil itu betah dan tidak rewel sama sekali.
"Pagi Ma, maaf jadi ngrepotin," ucap Ajeng merasa sungkan.
"Pagi sayang, enggak sama sekali, oma eneng jadi ada temannya," sahut Bu Warsa tidak merasa kesepian lagi.
"Ma, izin ke dapur ya, mau buatin minum buat Mas Abi," pamit Ajeng masih bingung plus canggung.
"Iya sayang, boleh, biar Ruby sama mama," jawab Bu Warsa dengan senyuman.
Ajeng menuju dapur yang begitu luas dan pastinya nyaman. Perempuan itu mencari-cari kopi yang sayangnya belum ditemukan.
"Cari apa?" tanya pria itu spontan memeluknya dari belakang. Ajeng yang tengah fokus jelas kaget atas tindakan suaminya yang tak kira-kira.
"Astaghfirullah ... ngagetin aja Mas," keluh perempuan itu dramatis.
"Maaf sayang, cari apa? Hmm?"
__ADS_1
"Jangan gini Mas, nanti ada orang. Mau buatin minum buat kamu, tapi kayaknya gula sama kopinya habis deh, di mana ya?"
Abi ikut mencari di tempat yang biasanya tersedia, ada gula tetapi no kopi. Pria itu memang terbiasa minum kopi hitam murni dengan tambahan gula sedikit.
"Teh aja nggak pa-pa, duh ... pagi-pagi udah dibikin repot. Makin sayang deh," ujar pria itu merasa tersanjung.
"Mau sarapan apa? Aku pingin coba masak buat kamu," ujar Ajeng merasa ingin berbuat sesuatu.
"Apa aja, buatan kamu pasti aku makan," jawab Abi dengan perasaan senang.
Pertama kali terjun ke dapur, jelas membuat asisten rumah tangga di rumah itu kaget. Menantu dari Nyonya di rumah ini bahkan mau menapakkan kakinya di dapur.
"Non, biar bibik aja," ujar art di sana tak enak hati.
"Saya Ajeng, Bik, panggil saja Ajeng, nggak pa-pa udah biasa di dapur. Bibik bisa bantuin nanti mengulek bumbunya," ujar Ajeng tak biasa.
Dirinya biasa hidup sederhana jadi merasa aneh jika mendadak diperlakukan spesial.
"Aku boleh bantuin nggak?" tanya Abi menyusul ke dapur.
Sepertinya pria itu mempunyai hoby baru menempel pada istrinya.
.
Tbc
.
__ADS_1
Teman-teman sambil nunggu novel ini up, mampir di karya temenku yuk!