
Hanan menghampiri Abi yang tengah sibuk bermain dengan Ruby di ruang tamu. Pria itu melihat keakraban keduanya dan seketika merasa haru. Ikatan darah memang lebih kental dari apa pun, perihal di belakangnya memang ada banyak masalah, tetapi mereka tetap ayah dan anak yang tidak bisa dipisahkan.
"Kak Abi, ayo sarapan! Sepertinya kak Ajeng sudah masak enak pagi ini," ajak Hanan mendekati keduanya.
Abi berdiri dengan wajah senang. Sudah lama ia absen dari masakan istrinya yang sempat menjadi menu favorit dan pasti membuatnya kangen.
"Kebetulan belum makan, tadi pagi-pagi langsung ke sini," kata pria itu jujur sekali.
"Ruby sayang, mainnya pindah dalam yok, biar deketan sama papa, mau makan dulu." Bocah kecil itu tidak begitu ngeh dengan perkataan ayahnya. Masih sibuk menekuri mainan baru miliknya.
"Tinggal saja Mas nggak pa-pa, yang penting pintunya ditutup, aman kok, biasanya juga main sendiri sambil aku ngerjain tugas rumah," ucap Ajeng menyusul ke ruang tamu.
Abi tersenyum menatapnya, Ajeng terlihat begitu cantik sehabis mandi. Apakah hari ini perempuan itu mau pergi?
"Kamu mau ke mana? Kok udah rapih?" tanya Abi meneliti penampilan istrinya yang tidak biasa.
"Ada acara di desa sebelah Mas, kebetulan sedang ada hajatan, aku diundang," jawab Ajeng jujur.
"Owh ... kondangan? Boleh nanti aku antar?" tawar Abi tanpa basa-basi.
"Nggak usah Mas, cuma sebentar kok," jawabnya canggung.
"Nggak pa-pa aku antar ya, sekalian nanti pulangnya kita ajak Ruby jalan."
Perempuan itu nampak bingung untuk menjawab. Ajeng belum begitu nyaman, apalagi kalau harus ke mana-mana diantar.
"Lihat nanti, sarapan aja dulu," ujar Ajeng menghalau perasaan yang mulai tak biasa.
Abi paham dengan sikap Ajeng yang masih sedikit dingin. Tidak mudah baginya melewati ini semua. Abi berharap Mama Warsa hari ini sampai dan bisa secepatnya meresmikan hubungan mereka yang sudah lama tertunda.
Ketiganya berkumpul di meja makan, suasana menjadi sedikit berbeda, yang jelas Abi sangat bahagia pagi ini bisa berada satu meja makan bersama keluarga kecilnya. Sungguh hal yang sudah lama Abi impikan.
"Ambil Mas, kamu duluan!" ujar Ajeng mempersilahkan tamunya.
"Iya Makasih," jawab pria itu lekas mengisi piringnya.
"Masakan kamu enak ya, seperti tak pernah lekang oleh waktu. Tidak ada yang berubah, selalu enak," puji Abi tersenyum setelah menyuap yang pertama.
__ADS_1
"Makasih," jawab Ajeng balas tersenyum. Kembali fokus pada isi piringnya.
Usai sarapan, Ajeng mengemas piring kotor lalu mencucinya. Sementara Abi kembali menjumpai Ruby yang masih sibuk sendiri. Hanan bersiap kuliah, hari ini kebetulan masuk siang.
"Jadi pergi? Aku antar ya?"
"Hmm ... nggak usah Mas, aku bawa motor kok," tolak Ajeng yang membuat Abi tak kehilangan akal.
"Kamu malu jalan sama aku? Padahal pingin banget ngajak Ruby ke mana gitu, diantar aja ya?"
"Aku cuma bentar Mas, kamu pulang dulu saja, kapan-kapan bisa jumpa Ruby lagi."
"Jumpa kamu juga, tapi hari ini aku nggak ada kegiatan apa pun, gimana kalau aku ajak Ruby main keluar aja. Nanti aku balikin sore," tawar Abi meminta waktunya.
Ajeng nampak bingung, meninggalkan Ruby hanya dengan Abi saja kenapa perempuan itu belum percaya. Takut tiba-tiba anaknya dibawa kabur, atau bahkan tidak pulang. Sungguh pikiran parno itu terselip di otaknya. Ia terlalu takut sesuatu yang membuatnya kecewa menghampirinya lagi.
"Ya udah boleh ikut, nani kalau ditinggal takutnya Ruby rewel, dia nggak terbiasa tanpa aku," kilah Ajeng pada akhirnya. Mengizinkan Abi untuk mengantar tanpa paksaan.
Senyum di wajahnya langsung merekah. Batinnya bersorak senang. Pria itu langsung keluar sambil menggendong Ruby. Lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Pria itu melirik Ajeng yang hanya diam, entahlah di dekatnya selalu membangkitkan gelora asmara yang sejatinya selalu membara. Rasanya ingin sekali menarik dalam pelukan, walau dekat begini saja sudah cukup membuat hatinya begitu bahagia.
"Jauh nggak?" tanya Abi menengok sambil tersenyum.
"Nggak, tetangga desa, paling sepuluh menit sampai," jawab Ajeng benar adanya. Kebetulan kenal dekat pas awal-awal yang memberikan petunjuk tempat lahan kosong yang akan dijual dan sekarang menjadi tempat usaha Hanan.
"Aku boleh ikut masuk?"
"Emang mau nunggu di luar?" tanya Ajeng balik.
"Ya kali aja aku ditinggal," ujarnya nyengir merasa aneh.
Abi baru saja memarkirkan mobilnya, pria itu kembali menggendong Ruby dengan Ajeng berjalan di sampingnya.
"Hari ini kondangan dulu ya, besok baru kita yang dikondangin," seloroh pria itu menatap perempuan di sampingnya.
Ajeng tidak menyahut, balas melirik dengan datar. Sementara Abi balas tersenyum. Keduanya masuk jamuan tamu setelah mengisi daftar hadir. Mengambil duduk dengan membawa cemilan di tangannya.
__ADS_1
Tidak begitu lama mereka di tempat hajatan. Setelah menikmati jamuan prasmanan, keduanya memberi selamat kepada mempelai pengantin dan pamit pulang.
"Jadi jalan ya?" ujar Abi memastikan.
Ajeng ingin menolak. Namun, sepertinya Ruby terlalu bersemangat keluar. Karena memang jarang keluar.
"Yang dekat aja, aku sibuk," ujar Ajeng yang terpaksa mengiyakan.
"Kan toko ada yang jagain? Hari ini have fun ya, nanti aku transfer untuk mengganti waktumu yang berharga. Jangan salah paham dulu, memang sudah seharusnya kan aku kasih ke Ruby dan juga kamu."
Karena waktunya juga sudah siang, dan sesuai keinginan Ajeng. Akhirnya mereka hanya singgah di taman kota sambil kulineran. Di sini malah Ajeng yang bertindak sebagai pengamat. Membiarkan putrinya banyak menghabiskan waktu bersama ayahnya. Sementara Ajeng duduk dengan nyaman di bangku taman.
"Ma, mau itu!" tunjuk Ruby pada abang penjual es krim.
"Owh ... mau es krim ya, ayo beli sama papa sayang!" ujar pria itu antusias sekali mendekat.
Abi memilih beberapa es krim. Lalu kembali membawanya ke bangku taman.
"Ini punya Ruby, yang ini satu buat mama Ruby yang cantik," ujar Abi tersenyum.
Ajeng menerimanya dengan senyuman. Saat tengah asyik bermain Abi mendapat telepon dari ibunya, kalau beliau sudah sampai di Bandung bersama Pras asisten Abi yang baru beberapa bulan bekerja dengannya.
"Sepertinya kita sudah harus pulang, mama udah sampai dan sepertinya langsung ke rumah kamu."
"Kok nggak bilang kalau mau ada ibu kamu datang? Aku kan nggak persiapan apa-apa," sewot Ajeng sedikit kesal.
"Nggak harus nyiapin apa pun Ajeng sayang, cukup hati kamu aja buat menerima aku lagi," ujar pria itu menatap serius.
.
Tbc
.
Sambil nunggu novel ini up, mampir di karya temanku yuk teman!
__ADS_1