Rahim Sengketa

Rahim Sengketa
Bab 46


__ADS_3

Keadaan Ajeng dengan statusnya yang tidak jelas membuat di antara Denis dan Ajeng tidak bisa melakukan apa pun. Perempuan itu hanya mewanti untuk pria yang sudah mencintainya dengan tulus agar tidak menunggunya. Pria itu berhak bahagia dengan hidupnya tanpa bayang-bayang dirinya. Walaupun jujur, mungkin Ajeng tidak pernah akan menemui orang sebaik Denis dan setulus Denis nantinya.


"Apa kamu mencintai Abi?" tanya Denis sebelum beranjak.


"Maaf Kak, aku tidak tahu," jawab Ajeng di fase bingung.


"Apa kamu masih mencintaiku?" tanya Denis lagi yang membuat perempuan itu menatapnya sendu.


"Kamu terlalu baik, berhak mendapatkan orang yang lebih dariku, rasanya tak pantas orang sebaik dan setulus dirimu sakit hati atas diriku."


"Bagaimana kalau dengan begini saja sudah mampu membuat perasaan aku terluka, susah buat diriku untuk berpaling pada perempuan lain," ucap Denis menatap berat.


"Aku minta maaf, semua terjadi begitu saja, dan semua telah berbeda, aku minta maaf kalau pada akhirnya membuat kamu terluka."


Ajeng tertunduk lesu. Kalaupun bukan bersama Denis, belum juga tentunya bersama Abi, prioritas sekarang adalah Ruby, cukup berdua saja, untuk sekarang yang bisa mendamaikan hati.


"Aku dengar rumahmu dijual, untuk apa? Apa kamu butuh uang?" tanya Denis menatap serius.


Ajeng selalu menolak pemberiannya dalam bentuk apa pun, kecuali makanan yang ia bawa sebagai buah tangan. Sulit di zaman sekarang menemukan perempuan yang tulus tanpa pamrih memandang pangkat dan harta seperti Ajeng.


"Besok aku akan pindah ke Bandung, Hanan kuliah di sana, aku juga ingin suasana yang baru."


"Apa aku boleh sekali waktu berkunjung? Tolong jangan putus kontak, beri aku kabar selalu."


"Kamu juga, apa pun keputusannya, aku akan bahagia melihat dirimu menemukan kebahagiaanmu sendiri."


"Bagaimana kalau pada akhirnya bahagia aku hanya denganmu?"

__ADS_1


"Biarlah waktu yang menjawab, sesuai dengan jalan takdir-Nya," ujarnya sendu.


Usai kepulangan Denis, Ajeng berniat menemui Abi ke rumahnya. Dengan diantar oleh Hanan, mengunjungi rumah lama yang pernah Ajeng singgahi. Nampak sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Jujur, Ajeng tidak bisa pergi dengan perasaan begini.


Kalaupun pada akhirnya Abi kembali rujuk dengsn Vivi, itu sama sekali tidak masalah, dan dirinya sudah mempersiapkan hatinya sedari awal. Ia hanya ingin meminta kejelasan statusnya untuk mengakhiri hubungan ini yang cukup rumit.


"Mbak Ajeng? Udah lahiran?" tanya seorang ibu yang dulu menjadi tetangganya di sekitar perumahan.


"Iya Bu, kalau boleh tahu, Ibu lihat suami saya sering pulang ke sini tidak ya?"


"Tidak Jeng, bahkan sudah lama sekali tidak datang. Rumahnya kosong, hanya ada sesekali orang yang terlihat membersihkan."


"Owh, terima kasih Bu," jawab Ajeng memilih mencari dengan jalan yang lain.


Perempuan itu mencoba menghubungi Anto, satu-satunya asisten pribadi Abi yang selalu tahu kondisinya. Sayang sekali handphone pria itu juga tidak bisa dihubungi, seakan semua informasi menghilang. Haruskah Ajeng datangi rumah Vivi, yang pernah ia tinggali dan berujung di bad rumah sakit. Mungkin saja Abi menempati rumah itu lagi dan tengah hidup bahagia sampai benar-benar lupa dengan janji manis dan anaknya.


"Lebih baik, biar jelas dan aku makin yakin untuk pergi darinya. Kalau memang Mas Abi kembali, dia juga harus mengakhiri bukan, tidak malah memberikan beban menggantung status yang tidak jelas begini, aku harus melanjutkan hidupku Hanan, tanpa mereka pastinya."


"Baiklah, aku akan mengantar kakak, kumohon jangan bersedih apa pun keputusannya nanti yang kakak lihat."


"Iya, aku janji, sudah cukup kesedihan kita sampai di sini, setelah ini, aku janji akan membuat hidupku bahagia bersama Ruby."


Motor milik Hanan kembali melaju mendatangi rumah yang cukup megah itu. Rumah milik Vivi dan Abi setahu perempuan itu. Ajeng dan Hanan menatap palang yang di pasang di depan pintu gerbang dengan tulisan 'rumah di jual' cukup jelas tertera nomor ponsel di bawahnya.


"Mereka tidak tinggal di sini lagi, mungkinkah pindah? Apa pindah berdua?" Sungguh Ajeng tidak menemukan jawaban apa pun.


"Kakak ingin menghubungi nomor yang tertera di papan plang?"

__ADS_1


"Tidak Hanan, kita pulang saja, biarlah ini berjalan sesuai kaidah saja. Bukankah talak itu akan jatuh dengan sendiri apabila seorang suami dalam kurun waktu tidak pulang, datang menemui tanpa kabar, menghilang begitu saja tanpa nafkah apa pun tentunya."


"Iya, dengan syarat istri tidak ridho, tetapi ini belum jelas benar, kita tunggu saja sampai waktunya tiba menemukan jalannya, sabar," pesan Hanan yang ia lontarkan untuk menenangkan kakaknya.


Sore itu akhirnya Ajeng pulang, bersiap mengemas barang untuk kepindahannya besok. Kuliah Hanan hampir dimulai, tidak ada waktu lagi untuk menunggu di sini. Walaupun hatinya masih samar, jujur Ajeng sakit hati atas semua ini. Kenapa Abi seperti memainkan perasaannya dengan memberikan harapan dan janji manis. Sungguh sebuah kesalahan kalau pada akhirnya Ajeng benar-benar menyakini dan membalas dengan penuh cinta kasih.


Sementara di sebuah ruangan yang serba putih, seorang Ibu tengah prihatin menjaga putranya. Sekitar sepekan yang lalu, setelah pulang dari persidangan finalnya, Abi begitu bahagia memberikan kabar itu bahwa dirinya sudah resmi berpisah dan akan segera membawa anak dan istrinya ke hadapan mama.


Abi pulang beserta asisten pribadinya yang menjadi driver. Namun, tanpa bisa dicegah, sebuah mobil prestisius menyambar begitu saja dari arah berlawanan. Kejadian itu membuat Abi dan Anto yang berada di dalamnya luka parah karena mobil mereka kecelakaan tak terelakan demi menghindari tabrakan yang tak terduga.


Abi yang mendapat musibah itu mengalami luka yang cukup serius dan tidak sadarkan diri beberapa hari. Sampai pada akhirnya pria itu mendapatkan kesadarannya yang pertama, dengan mengingat nama Ajeng istrinya dan Ruby anaknya.


"Ma, saya di mana, kenapa istri dan anak saya tidak ada di sini saat aku sakit?" tanya pria itu seperti linglung.


"Abi, anakku sayang, kamu baru saja sadar, Nak, maafkan mama, Nak, tapi pada kenyataannya kamu baru saja bercerai? Apakah kamu ingat?"


Nyonya Warsa sedikit memberi pengertian tentang kejadian sebelumnya.


"Iya Ma, aku ingat, bukan Vivi maksudku, tapi Ajeng dan Ruby, aku ingin ketemu, Ma?" pinta pria itu yang membuat Nyonya Warsa tercengang.


Rupanya beneran nyata perempuan yang Abi beli rahimnya itu? Anak? Istri? Mereka benar-benar terlibat pernikahan? Abi belum sempat membawa keduanya ke hadapan mama, jadi belum saling kenal satu sama lain.


"Anto mana Ma? Biar dia yang membawa Ajeng ke sini, aku harus ketemu, aku punya banyak hutang padanya," pinta Abi mencoba bangkit duduk.


"Sayang, sayang, kamu baru saja sadar, tenangin diri kamu dulu, biarkan dokter memeriksamu."


Bu Warsa mencoba menenangkan putranya, bahkan perempuan itu belum berani mengatakan kalau Anto gugur dalam kecelakaan itu.

__ADS_1


__ADS_2