
Abi membungkam bibir mungil ranum itu dengan mulutnya. Tidak membiarkan istrinya protes barang sekata pun. Pria itu memberikan serangan nakal hingga membuat wanitanya terengah hampir kehabisan napas.
Abi tersenyum sembari memberi jarak, membiarkan Ajeng bersantai beberapa detik selama pria itu melakukan panggilan pada asisten pribadinya untuk mematikan CCTV yang menghubungkan ruangannya.
"Siap Pak," jawab Pras mengiyakan. Bahkan, pria itu bagai satpam yang mengamankan pintu. Tentu saja bertanggung jawab penuh untuk memastikan kenyamanan atasannya yang kini sepertinya tengah puber kedua.
Cukup lama pintu itu tertutup, tentu saja tidak ada yang berani membukanya, apalagi sengaja masuk sekalipun berkepentingan. Harap tenang, untuk tidak mengganggu aktivitas dua pasutri yang tengah memadu kasih dengan penuh keindahan di dalamnya yang tercipta.
Satu kecupan melayang indah di kening Ajeng setelah membuat suaminya tersenyum kembali. Dengan hati bahagia ia membenahi kekacauan yang baru saja terjadi. Berbeda dengan Ajeng yang masih terdiam karena seperti tersedot energinya. Sensasi yang cukup berbeda, dan menantang pastinya. Sontak saja membuat perempuan itu sedikit bekerja keras mengimbangi kemauan suaminya yang sangat nakal itu.
"Makasih Sayang, love you more," ucap Abi senyum-senyum gaje. Setelah merasa terpuaskan dengan suguhan menu spesial siang ini, nampaknya akan menjadi candu.
"Hmm," jawab Ajeng sembari merapikan pakaiannya yang baru saja menempel kembali ke tubuhnya.
"Laper," ujar pria itu melongok bekal yang dibawa istrinya.
"Hmm ... enak nih, aku cuci tangan dulu," ujar Abi melangkah ke kamar mandi.
Ajeng masih sibuk bersih-bersih saat Abi mulai menyantap makan siangnya. Perempuan itu sedikit lebih lama di kamar mandi menyelesaikan urusannya.
"Habis ini aku langsung pulang ya," kata Ajeng sembari membenahi tatanan make up-nya.
"Nggak mau nungguin? Katanya mau belanja bulanan, susu Ruby sudah mau habis."
"Capek, pengen tidur bentar," sahut Ajeng jujur.
"Duh ... yang habis nyenengin suami sampai kecapean gini, bobok dulu di sofa, tunggu aku pulang, nanti diantar belanjanya."
"Nanti gangguin, di rumah aja," ujar Ajeng merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Beneran nggak mau nunggu, bentar lagi aku pulang loh. Nungguin aja ya, selamat beristirahat istriku sayang."
"Aku kerja dulu ya, kamu tidur aja," ujar Abi melepas jasnya lalu sengaja untuk menyelimuti tubuh istrinya.
"Beneran tidur di sini? Emang nggak keganggu ya?"
"Enggak, asal pakai baju kamu dengan benar. Hehehe, nanti bisa dibikin capek lagi kalau kamunya mancing.
"Eh, aku pulang aja deh, kamu menakutkan Mas, omes."
"Jangan, tunggu dong, aku becanda Sayang, yakali tega minta lagi, eh, tapi aku seneng loh kalau kamu seberani tadi, makin pinter buat nyenengin aku."
"Jangan dibahas, kerja Mas, kerja, biar cepet pulang, aku bisa lebih dari itu,"jawab Ajeng yang terdeteksi mulai berani dan sedikit nakal di atas ranjang.
"Wao ... aku tunggu sensasinya. Hahaha, jangan di KB ya, biar adik Ruby cepet launching. Seneng banget rumah kita akan ramai dengan kehadiran buah cinta kita."
"Nanti dicariin pengasuh khusus buat Ruby, biar kamu bisa fokus kalau beneran hamil. Kan udah banyak kali gituan, siapa tahu rezekinya cepet."
"Kerja Mas, kok malah bahas ngalor ngidul, aku kapan tidurnya," protes Ajeng sembari memposisikan tubuhnya rebahan di sofa.
Abi tersenyum, kembali menyambar bibirnya sebelum akhirnya beranjak ke meja kerja. Ajeng benar-benar terlelap, mengistirahatkan tubuhnya, sementara Abi kembali merampungkan pekerjaannya.
Hingga sore menyapa saatnya Abi pulang, Ajeng nampak masih terlelap. Membuat Abi tak sampai hati membangunkannya, dan memilih membiarkan saja sampai istrinya terbangun sendiri.
"Loh Mas, kok malah nyantai di sini, cepetan selesaikan dulu, Mas!" tegur Ajeng mengambil duduk. Perempuan itu masih setengah mengantuk dan cukup malas beranjak.
"Pulang yuk! Jadi nggak?"
"Eh, emangnya udah pulang? Jam berapa ini." Ajeng melirik layar ponselnya yang menunjukkan angka pulang kerja.
__ADS_1
"Udah sore gini kok nggak bangunin, ya ampun ... aku ketiduran berapa jam," kata Ajeng keheranan pada diri sendiri.
"Nggak pa-pa, namanya juga capek, gimana? Udah enakan?" tanya, Abi memastikan. Seketika bayangan liar nan panas adegan tadi terngiang di otaknya, membuat Ajeng tersenyum merona.
"Udah kok, aku kamar mandi dulu," pamit perempuan itu beranjak. Rasanya begitu aneh melakukan banyak hal di kantor, yang tentu saja baru pertama buat Ajeng.
"Eh, tapi seru ya, berasa berbeda sensasinya, bolehlah kapan-kapan perlu diulang lagi," ujar Abi mengerling nakal.
"Emangnya dulu nggak pernah di kantor, sepertinya hafal medan."
"Sumpah baru pertama, perlu diulang berarti, kamu ngerasa beda nggak?"
"Suasananya, takut kalau tiba-tiba ada orang masuk, nggak bisa bayangin."
"Satu persen dari seratus, aku jamin, dan orang itu siap dipecat."
"Kejamnya keluar, ngeri," seloroh Ajeng melihat Abi yang sesungguhnya.
"Apa sih, aku hanya kucing anggora yang tersesat di hatimu minta dirawat dan dipelihara."
.
Tbc
.
Sambil nunggu novel ini up, mampir di karya temenku yuk!
__ADS_1