
Hanan mendekat, ikut memeriksa kening Ruby yang lumayan panas. Bocah yang biasanya aktif itu juga terlihat uring-uringan dan rewel.
"Biar nanti Hanan antar, Kak," ujar pemuda itu ikut khawatir.
"Aku pakai taksi saja, kamu jaga bengkel, lagi ramai," tolak Ajeng berbagi tugas.
"Iya juga kasihan Ruby kalau pakai motor, biar aku pesankan taksi saja."
Ajeng membawa ke klinik terdekat. Perempuan itu sedikit khawatir sebab biasanya Ruby hanya panas sebentar, setelah dikompres sembuh. Hari ini demam disertai panas dan batuk. Membuat bocah yang belum genap dua tahun itu rewel dan susah makan.
Begitu sampai di pusat kesehatan, Ajeng langsung masuk mengambil antrian yang cukup panjang sembari menggendong putrinya. Perempuan itu menunggu giliran sembari menimang agar anak itu tidak rewel.
"Ruby Oleena P!" panggil seorang perawat menginterupsi.
Begitu nama anaknya dipanggil, Ajeng langsung masuk ke ruangan.
"Adek berbaring ya, biar dokter periksa," ujar Dokter yang bertugas.
Ajeng membaringkan anaknya, gadis kecil itu sedikit rewel dan tidak mau lepas dari ibunya. Dokter juga mengukur suhu badan Ruby yang ternyata tiga puluh delapan lebih, pantas saja Ruby panas.
"Batuk panas? Udah berapa hari?" tanya Dokter membaca riwayat pasien.
"Dari semalam Dok, sudah dikompres tapi panasnya masih tinggi."
"Panasnya agak tinggi ya, ada batuk, demam," ujar Dokter sembari menganalisa.
"Mau makan?"
"Hari ini susah makannya Dok, hanya minun susu saja," jawab Ajeng benar adanya.
__ADS_1
"Saya kasih resep ya Bu, nanti ambil di tempat obat. Pastikan obatnya masuk biar cepat turun demamnya."
"Siap Dok!" jawab Ajeng kembali menggendong putrinya.
Perempuan itu kembali memesan taksi untuk mengantarnya pulang. Cukup lama menunggu di halte yang tak jauh dari halaman klinik.
"Pesanan atas nama Ayu Rahajeng," ujar driver menghampiri.
"Iya Pak, bener," jawab perempuan itu merasa lega.
Sementara Abi dan segala kehidupannya, setelah beberapa bulan dalam pemulihan. Pria itu mencoba mencari Ajeng dan anaknya yang benar-benar menghilang tanpa jejak. Abi juga memulihkan perusahaannya yang sempat gonjang ganjing dan hampir diganti kepemimpinannya.
Setelah rapat dewan direksi dan pemegang saham, semua masih sepakat dipimpin Abi setelah pria itu kembali. Selama beberapa bulan berjalan, dipegang pimpinan sementara sebagai wakil direktur. Sebagai pemegang saham terbesar keluarga Nyonya Warsa, jadi kedudukannya masih sangatlah kuat. Walaupun perusahaan itu dinaungi keluarga. Bisnis tetap bisnis, yang kadang kejam hingga menggulir lawan lewat jalur licin.
Musibah yang menimpanya benar-benar membuat pria itu terpuruk. Ditambah tak ada kabar tentang anak dan juga istrinya, semakin memperkeruh keadaan dan menggugurkan angan.
Disaat itulah Abi merasa begitu sendirian. Tanpa Anto yang begitu setia, tanpa anak dan istrinya yang setiap harinya menjadi booster dalam setiap aktivitas. Hidupnya serasa hancur dalam sekejab, ujian itu membuat Abi tahu, dan pastinya membawa hikmah yang tak terduga.
Hampir setahun semuanya berjalan dan baru kembali normal. Selama itu Abi berusaha mencari anak dan istrinya yang tidak meninggalkan jejak apa pun.
"Denis?" tanya Abi menemukan pria yang dulu sempat dekat dengan istrinya.
"Pak Abi?" sapa Denis yang ternyata menjadi rekan bisnisnya saat ini.
Pria itu menjalin kerja sama dan tanpa sengaja dipertemukan dalam rapat hari ini.
Abi melirik tangan Denis yang tersemat cincin putih di jari manisnya. Seketika pria itu bertanya-tanya dalam hati. Apakah Denis sudah menikah dengan Ajeng? Berarti pria itu tahu keberadaan Ruby saat ini. Seketika binar asa itu menyala. Ada harapan besar untuk bertemu dengan anaknya kembali dan dengan Ajeng yang mungkin sudah menikah lagi.
Usai rapat, Abi menahan Denis. Pria itu ingin bertanya banyak hal yang mungkin saja Denis tahu.
__ADS_1
"Den, saya bisa bicara sebentar?" ujar Abi mendekati Denis yang hampir beranjak.
"Iya, boleh, ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu menatap wajar.
"Kamu sudah menikah? Bagaimana kabar Ajeng? Bolehkah aku menemuinya? Aku ingin sekali bertemu dengan Ruby," pinta pria itu yang membuat Denis terdiam.
Denis mengira Ajeng tidak datang ke pernikahannya lantaran kembali dengan Abi dan tidak menetap di Jakarta. Pria itu memang sudah lama sekali tidak berbagi kabar, semenjak Ajeng memutuskan kontaknya secara cuma-cuma. Terakhir mengabari bahwa pria itu hendak menikah. Tetapi Ajeng tidak pernah datang. Denis kira karena tidak diberi izin Abi, sebagai suaminya.
"Iya, saya sudah menikah, tapi bukan dengan Ajeng. Bukankah kamu tidak pernah menceraikannya, bagaimana aku bisa menikahinya. Tapi itu hanya masa lalu, sekarang Allah sudah pertemukan aku dengan jodoh yang baru," jawab Denis cukup jelas.
"Aku memang tidak pernah menceraikannya, tapi sesuatu terjadi padaku dan kami terpisah. Sekarang aku tidak tahu dia di mana?"
Abi pun menceritakan kronologi kejadian yang menimpa dirinya. Siapa tahu saja Denis tahu sesuatu dan dapat memberi petunjuk.
"Waktu itu, Ajeng hanya pamit pindah ke Bandung karena Hanan kuliah di sana. Ajeng menjual rumahnya yang di Jakarta. Kamu bisa mencarinya di sekitaran tempat kampusnya Hanan, siapa tahu dapat petunjuk. Karena saya tidak tahu pasti alamatnya."
Seperti mendapat sinar asa, pria itu tak ingin menundanya lagi dan hari itu juga langsung bertolak ke Bandung. Berhubung sampai kota kembang itu sudah malam, Abi memutuskan untuk rehat dan mencoba keberuntungan besok.
Kebetulan minggu ini juga ada pekerjaan di kota itu. Sambil menyelam dapetin ikan. Siapa tahu ini jalannya dan Tuhan mudahkan untuk hari ini. Abi yang tengah melakukan perjalanan siang itu, seperti melihat sosoknya yang selama ini dicari.
"Ajeng!"
.
Tbc
.
Sambil nunggu novel ini up mampir di karya temenku yuk!
__ADS_1