Rahim Sengketa

Rahim Sengketa
Bab 49


__ADS_3

"Ajeng!" seru Abi menatap kaget. Pria itu melihat dengan jelas seseorang yang tengah dicarinya menggendong balita masuk ke dalam taksi.


"Pras, ikuti taksi itu, aku yakin sekali itu anak dan istriku!" ucap Abi yakin.


"Siap Tuan, salip atau ikuti saja?" tanya pria itu sembari melajukan mobilnya.


"Ikuti saja Pras, jangan sampai kehilangan jejaknya. Aku ingin tahu di mana tempat tinggalnya," kata Abi terus mengamati.


Abi takut Ajeng akan lari atau menghindari dirinya jika tiba-tiba menghampiri. Pria itu juga takut menerima kenyataan kalau Ajeng ternyata sudah menikah lagi. Sekarang Abi hanya ingin memeluk Ruby, rindu yang teramat pada sosoknya yang terpisah dulu waktu masih bayi.


Takdir telah membawa mereka berada dalam tempat yang berbeda. Sakit jika mengingat itu semua, berharap semoga Ajeng mau memaafkan dirinya walaupun seandainya keadaan memaksa mereka tidak lagi sama.


Mobil Abi terus mengikuti taksi di depannya hingga sampai di sebuah rumah yang depannya nampak sebuah ruko. Ajeng masuk ke dalamnya, perempuan itu melewati pintu samping yang langsung tembus ke rumah. Cover rumah itu memang sengaja di desain untuk usaha kecil-kecilan dan juga bengkel.


"Ada yang bisa saya bantu Mas?" tanya seorang pegawai foto copyan di tempat itu.


"Mmm ... maaf Mbak tadi sempet lihat perempuan masuk menggendong balita lewat pintu masuk samping ini, tinggal di sini?"


"Owh ... Mbak Ajeng?"


Mendengar namanya disebut Abi rasanya sudah tak karuan dan bergetar hatinya. Berarti memang benar itu Ajeng dan balita yang digendong tadi pasti Ruby anaknya.


"Iya Mbak, benar, tinggal di sini ya?" tanya pria itu memastikan.


"Iya Mas, ini tempat usaha beliau, sama bengkel sebelah, kami karyawannya," jelas seorang perempuan itu cukup jelas.


"Terima kasih Mbak, saya tak langsung bertamu saja," ujar Abi sungguh tidak sabar ingin segera memeluk Ruby.


"Hanan!" panggil Abi yang masih di tempat semula.


"Mas Abi?" sapa pemuda itu sedikit kaget.


"Kamu baru pulang?" tanya pria itu lagi menatap pria di sebelah Hanan nampak membawa buah tangan yang sepertinya mainan.


"Eh ya, mari masuk Pak!" interupsi Hanan pada seorang pria yang cukup Hanan hormati di kampusnya.


Mendengar itu Abi sedikit bertanya-tanya, siapa gerangan pria itu. Atas dasar kepentingan apa berkunjung ke tempat yang sama. Apakah untuk Hanan atau malah jangan-jangan untuk Ajeng.

__ADS_1


"Mas Abi mau ketemu Ruby ya? Bentar Mas, aku ke dalam dulu," pamit Hanan masuk ke dalam.


Sepeninggal Hanan, menyisakan dua pria dewasa yang sama-sama terdiam duduk di sofa sembari menunggu Tuan rumah datang.


"Mas, sepertinya bukan orang sini ya?" tanya pria di depannya nampak ramah mengakrabkan diri.


"Iya, dari Jakarta Mas, Mas sendiri, mau ketemu—"


"Owh ... saya kebetulan sering lewat. Udah niat sih mau main ke sini dulu sebelum ke kampus," jawab pria itu tersenyum.


Sementara Hanan masuk ke dalam, mendatangi kakaknya yang baru saja memberi obat Ruby setelah dari klinik.


"Kak, Ruby mana?"


"Tidur, baru aja minum obat," jawab Ajeng sembari beranjak.


"Di luar ada Pak Harsa dan juga—ayahnya Ruby," kata Hanan terjaga.


Ajeng yang tadinya mengangguk saja berniat menemui menatap Hanan cukup kaget.


"Maksud kamu?"


"Masih ingat, aku kira lupa kalau punya anak. Kalau aku memilih tidak menemuinya bagaimana? Ruby kan sedang tidur, aku malas melihat wajahnya," jawab Ajeng mengenang luka lama. Hatinya masih sakit saja bila mengingat itu semua. Kenapa harus muncul di saat perempuan itu sedikit lebih tenang.


"Terus Pak Harsa gimana? Mereka datang intinya ingin bertemu kalian berdua, entah dengan versi apa."


Ajeng menjadi galau sendiri. Namun, perempuan itu harus menyiapkan hati. Ruby berhak bertemu dengan ayahnya apa pun kondisi perasaan perempuan itu saat ini.


Ajeng pun akhirnya menemui ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat. Sebelum beranjak, lebih dulu menguatkan hatinya agar tidak salah kaprah. Ajeng tidak begitu suka dikunjungi pria berprofesi dosen di kampus adiknya itu. Begitu pula tidak minat dikunjungi mantan suaminya.


"Maaf, sudah lama menunggu? Silahkan diminum tehnya," ujar Ajeng mempersilahkan.


Mata Abi tak lepas sedikit pun dari tatapan perempuan yang masih begitu rapat tersimpan di hatinya. Ada rasa bahagia, tangis, rindu, yang menggelora, membuncah menjadi satu. Bila mungkin, ingin sekali pria itu menarik tubuhnya lalu membawa dalam pelukan. Sayang sekali tidak mempunyai keberanian itu. Berusaha menahan diri dengan hati sedikit sesak.


"Lumayan, terima kasih jadi merepotkan, Ruby mana?" tanya pria itu yang sudah mengenal dengan balita itu.


"Kebetulan semalam demam, baru saja tidur habis minum obat."

__ADS_1


"Ruby sakit?" sahut Abi cepat.


"Iya Mas, sudah minum obat kok, sekarang sedang tidur, kalau Mas ingin bertemu, bisa nanti datang ke sini lagi saja setelah bangun," jawab Ajeng berusaha biasa saja.


Perempuan itu mencoba menahan diri untuk tidak membawa perasaan dalam situasi seperti ini. Apalagi yang Ajeng tahu, pria di sampingnya adalah suami orang.


"Kasihan sekali, titip ini saja untuk Ruby, kebetulan saya ada kelas sore ini, pamit dulu ya, nanti insya Allah kalau nggak kemalaman mampir lagi," pamit pria itu harus mengisi kelas sore ini.


Sepeninggalnya Pak Harsa, Abi dan Ajeng terlihat diam sejenak, sebelum akhirnya Abi yang lebih dulu membuka kata.


"Boleh aku melihat Ruby, aku sangat merindukannya?" pinta Abi menatap perempuan yang begitu ia cintai.


"Masuk saja ke dalam Mas, jangan dibangunin nanti rewel, kasihan lagi demam."


Belum sempat Abi beranjak, terdengar tangisan balita dari dalam. Abi dan Ajeng secara bersamaan beranjak hingga memenuhi ambang pintu secara kebersamaan.


"Kamu duluan, Ruby rewel!"


"Apa kamu masih sendiri? Siapa pria tadi?


Bukannya menjawab Ajeng langsung masuk ke dalam. Terlihat balita itu tengah ditenangkan Hanan.


"Bangun Kak, kalau panas kaget-kaget," lapor Hanan beranjak.


"Iya agak panas, aku gendong saja," ujar Ajeng mengambil Ruby dari ranjang.


Sementara Abi mendekat, memahami dengan netra berkaca-kaca. Menatap bocah kecil itu yang masih belum tahu betul kehadiran ayahnya, yang mungkin saja balita itu rindukan.


"Ruby, anakku sayang, ini papa Sayang, ayo gendong papa, Nak, papa rindu," ucap pria itu mendekat dengan suara bergetar. Ia berjongkok, lalu hendak meraih tangannya. Sayang sekali Ruby belum paham, dan malah takut melihat pria asing di depannya hingga menangis.


"Sayang, maafkan papa, Sayang, maafkan papa, jangan takut sayang, papa hanya ingin memelukmu, papa rindu," ucap pria itu berkaca-kaca.


.


Tbc


.

__ADS_1


Sambil nunggu novel ini up, mampir di karya temenku yuk!!



__ADS_2