Rahim Sengketa

Rahim Sengketa
Bab 69


__ADS_3

"Bener ini rumahnya?" Abi menghentikan laku mobilnya tepat di depan rumah gedongan yang cukup besar, dengan halaman yang luas.


"Alamat yang dikasih Hanan ini Mas, kok ramai ya."


"Ayo kita masuk saja sayang, mungkin orangnya di rumah sudah menunggu. Semoga Ruby baik-baik saja," kata Abi membimbing istrinya berjalan masuk sembari menggumamkan salam.


Nampak kedatangan Abi dan Ajeng sudah ditunggu-tunggu oleh keluarga tersebut.


Suara sautan salam langsung membuka banyak pasang mata menyambut kedatangan dua insan yang baru masuk tersebut.


"Kak, masuk!" Hanan menyeru langsung menghampiri kakaknya.


"Mana Ruby?" tanya Ajeng clingukan. Mencari-cari sosok putri kecilnya.


"Ada di dalam, lagi bobok tadi, udah diurus sama Oliv," jawab Hanan menyebut nama perempuan yang baru beberapa jam diketahui namanya.


"Aku ingin ketemu, ngomong-ngomong ini kenapa ramai gini Hanan, lagi mau ada acara?" tanya Ajeng kebingungan.


"Ceritanya panjang, Kak Ajeng dengerin dulu, aku nggak tahu mau mulai dari mana, dan gimana nolaknya."


"Maksudnya?"


Hanan pun menceritakan kronologi terkonyol dalam sejarah hidupnya dibalik hikmah hilangnya Ruby. Perempuan itu menyimak dengan seksama.

__ADS_1


"Kok bisa gitu, emangnya kamu udah kenal?" tanya Ajeng keheranan.


"Belumlah, aku aja udah bingung, kalau sekarang udah kenal sih, namanya doang. Kata ayahnya kita temu keluarga dulu, gimana ini menurut kakak?"


"Mungkin udah jalan jodoh kamu gini, ya nggak pa-pa taaruf dulu. Kalau setelah ini lihat ke depan kurang nyaman di hati, mungkin bisa ada yang lebih baik di luar sana yang menanti."


Keluarga Olive sudah mengetahui duduk permasalahannya. Namun, anehnya papinya Olive tetap dengan keputusannya yang pertama. Tentu saja tanpa alasan, sebagai balas budi baik karena telah menemukan Ruby dengan keadaan aman dan selamat.


Keluarga Hanan pun tak bisa banyak komentar masalah hal ini, yang pastinya banyak berterima kasih dengan gadis bernama Olive yang telah menemukan putri kecilnya dan merawatnya selama kurang dari sehari tersebut.


Ajeng langsung menemui anaknya yang begitu ia rindukan. Tangisnya kembali pecah dengan rasa syukur mendalam melihat putri kecilnya baik-baik saja tengah tidur dengan nyaman dan pulas. Ajeng langsung masuk ke kamar gadis itu dan menghampiri putrinya. Memeluknya lalu menciumnya dengan rasa syukur.


"Terima kasih ya Allah ... terima kasih telah mempertemukan kami kembali," batin Ajeng bernapas lega bercampur haru nan bahagia.


"Terima kasih Dek Olive, sudah merawat Ruby," ucap Ajeng sembari menyusut air matanya. Hatinya yang kemarin khawatir terasa plong melihat buah hatinya baik-baik saja.


Ajeng tersenyum, nampaknya jodoh telah sampai pada adiknya. Olive terlihat gadis baik-baik, walaupun sedikit bar bar. Namun, sepertinya akan cukup melengkapi Hanan yang cenderung kalem dan pendiam.


Bagaimana ceritanya dia mendadak dijodohkan dengan pemuda yang tidak tahu asal usulnya. Terlebih baru mengenal beberapa jam lalu, ini sangat mengejutkan pada jiwa-jiwa mereka yang tentu saja tidak siap.


Akhirnya kedua keluarga pun bertemu dalam satu ruang. Memutuskan untuk saling mengenal dan tentu saja dengan maksud yang lebih baik. Keluarga Ajeng juga dijamu cukup baik oleh keluarga Olive yang nampak begitu welcome. Sebenarnya ayah Olive itu siapa? Kenapa mau iya iya aja langsung nikahin anaknya dengan Hanan. Apakah mereka sebelumnya saling mengenal?


"Terima kasih atas jamuannya, Pak, kami mohon pamit," ucap Abi mewakili keluarga setelah drama penjemputan Ruby yang cukup dramatis lagi lain sekali.

__ADS_1


"Sama-sama, ditunggu kabar baiknya," sahut Pak Harsa dengan senyum terkembang.


Ruby dalam gendongan ibunya, ikut pamit dengan suka cita. Bahagia pastinya bisa memeluk buah hatinya kembali. Sementara Hanan dan Olive hanya saling melirik dalam diam. Keduanya masih cukup speechless dengan apa yang menimpanya.


"Nan, sini dulu," panggil Pak Harsa memanggil pria yang diklaim calon menantunya.


"Iya Om, ada yang bisa saya bantu?" ucap Hanan sopan. Sebenarnya pengen kesal dengan orang itu. Namun, rasanya tidak sopan dan apa salahnya dicoba dulu sembari berpikir ke depannya bakalan seperti apa.


"Tulis nomor ponsel kamu," ucap pria itu menyodorkan ponsel miliknya.


Hanan pun menerima lalu memasukkan nomor miliknya. Lalu mengembalikan benda pilih itu pada empunya.


"Terima kasih, jangan dijadikan beban, saya tahu kamu pemuda yang bertanggung jawab. Papi tunggu iktikad baik kamu."


Hanan pun hanya mengangguk pasrah, jawaban yang paling baik untuk saat ini. Selebihnya dipikir sambil berjalan karena saat ini ngeblank dan sepertinya menemui jalan buntu.


"Pamit dulu Om," ucapnya sembari melirik Olive yang menatapnya datar. Entah apa yang gadis itu pikirkan, Hanan pun merasa lucu dan terlalu mendadak.


.


Tbc


.

__ADS_1


Teman-teman sambil nunggu up, mampir di karya temenku yuk!



__ADS_2