Rahim Sengketa

Rahim Sengketa
Bab 41


__ADS_3

Bagai buah simalakama maju kena mundur sial. Mungkin terlihat simple jika ada bukti dan memasukan mantan istrinya ke penjara. Namun, kenyataan tak sesederhana itu karena jelas menyeret dirinya tentang perjanjian ilegal yang telah Abi buat sendiri. Yaitu tentang perahiman yang masih dianggap kurang umum di wilayah tempat tinggalnya, dan Vivi, jelas mengantongi bukti itu.


Mungkinkah ini sebuah karma yang harus Abi tuai setelah menyakiti orang yang tak berdaya. Baru terasa, uang juga telah membuatnya lupa, bahwa sebuah ketulusan menemukan jalannya dengan begitu baik. Terbukti, semua perkataan dan rasa sakit yang pernah pria itu torehkan ke Ajeng, kini berbalik menjadi bumerang untuk dirinya.


"Aku datang lagi, sekalipun kamu membenciku, aku butuh Ruby, dan aku tidak bisa jauh darinya." Abi kembali menemui anak dan istrinya walau seperti biasa, Ajeng menyambutnya dingin.


Perempuan itu sebenarnya sedang sedikit sibuk tengah menyetrika pakaian Ruby dan adiknya.


"Di mana Ruby? Aku mau menggendongnya," ujar pria itu begitu rindu.


Ajeng yang sore itu itu memakai baju tidur pendek di atas lutut dengan atasan pendek dan rambut digulung ke atas, sedikit membuat Abi gagal fokus kala menatap wajahnya. Natural, dan terlihat begitu cantik. Usianya yang memang juga masih muda, pantas saja Denis rela menunggunya untuk sebuah kepastian. Perempuan itu mempunyai daya tarik tersendiri di balik penampilannya yang sederhana.


"Ada di ruang tengah," jawab Ajeng mengekor Abi yang langsung masuk ke dalam.


Ruby tengah tiduran di kasur khusus bayi beralaskan lantai karpet. Sedang di sampingnya nampak pakaian bersih yang belum selesai dilipat.


"Kamu perlu asisten rumah tangga? Biarkan aku carikan ya, tubuhmu pasti sudah lelah mengurus Ruby, ditambah harus mengurus semuanya di rumah," tawar Abi demi melihat kesibukan istrinya.


"Tidak perlu, aku bisa mengurusnya sendiri," jawab Ajeng cepat.


Pakaian sederhana yang membungkus tubuhnya, perangainya yang lembut, semua telah mematahkan pandangan Abi, bahwa kesederhanaan Ajeng telah membuatnya jatuh cinta. Pria itu ikut duduk lesehan sembari bermain bersama putrinya yang sudah bisa merespon benda di dekatnya serta tersenyum lucu mengamati orang di depannya, bahkan mulai pintar miring-miring menggerakan tubuhnya.


Pria itu terlihat bahagia memainkan sebuah benda di dekat Ruby. Ajeng yang tengah sibuk di dekatnya menyimak saja, sesekali melirik pria itu yang tersenyum lepas terlihat lucu. Tak sengaja netra itu bertemu, membuat Ajeng cepat-capat memutus pandangannya yang tersenyum lembut padanya.


"Ke mana Hanan? Kamu di rumah sendirian? Maksud aku, hanya dengan Ruby?"


"Sedang ada urusan, mungkin baru pulang besok. Aku tidak melarangmu untuk menjenguk Ruby, Mas, tapi untuk malam ini tolong jangan menginap," ujar Ajeng merasa waswas.


"Kenapa? Aku rindu sekali dengan Ruby, Ajeng. Mana aku puas kalau tidak membersamainya sampai tidur."


Biarlah dianggap tebal muka dan tak tahu malu, toh Ajeng masih dah menjadi istrinya. Tentu saja Abi memanfaatkan status mereka.

__ADS_1


"Uang untuk bulan ini sudah aku transfer ke rekening, kamu bisa katakan apa saja yang sedang kamu butuhkan biar aku tahu."


"Terima kasih," jawab Ajeng datar. Masih sibuk sendiri dan kadang bingung cara menyikapi pria itu yang begitu cuek dengan keadaan dirinya yang tidak begitu diterima.


Dua bulan semenjak Ruby lahir, Abi memang masih memberikan nafkah lahir full, bahkan lebih dari yang semula waktu hamil. Pria itu memang loyal terhadap uang, sayang sekali bukan hanya uang yang dibutuhkan dalam sebuah ikatan pernikahan.


"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan supaya kamu memaafkan aku?" tanya Abi sedikit putus asa.


Ajeng menghentikan aktivitasnya, lalu mencoba memberanikan menatap wajahnya lebih lama.


"Aku sudah memaafkan kamu, Mas. Berdamailah dengan hidupmu, Ruby tetap anakmu, dan juga anakku, tolong ceraikan aku," pinta Ajeng lembut.


Keputusan yang sulit untuk Abi sebenarnya, karena pria itu sekarang berbalik mencintainya.


"Aku menyayangi Ruby, tapi aku juga menyayangi ibunya, bagaimana bisa aku menjatuhkan talak untuknya. Sangat tidak adil, selama bersamaku, bahkan aku belum pernah membuat istriku bahagia. Beri aku kesempatan untuk menebusnya," mohon Abi sungguh-sungguh. Raut wajahnya mendung.


Gamang, berada dalam dilema, Ajeng belum menemukan petunjuk apa pun. Walaupun lambat laun mulai melihat peringatan Abi yang jauh lebih baik. Bahkan, semenjak masuk ke ruang operasi, Ajeng tak pernah lagi mendengar suaranya yang terdengar menyakitkan. Pria itu begitu banyak berubah.


Ajeng masih setia mengunci rapat mulutnya, dia tidak punya jawaban apa pun untuk saat ini.


"Sudah sore, sebaiknya kamu pulang, Mas, besok bisa datang lagi," usir Ajeng antara tidak tahu harus bagaimana dan juga merasa kurang bebas leluasa bergerak jika ada Abi di sini.


"Jangan mengusirku, aku masih kangen sama kalian, kamu dan Ruby," jawab Abi yang kali ini tidak hanya berdalih anak saja.


Perempuan itu menghela napas dalam, pria itu begitu nekat dan membuat Ajeng bingung mengambil sikap.


"Ruby mau mandi ya?" tanya pria itu demi melihat Ajeng menyiapkan ganti di kasur.


Ajeng hanya mengangguk saja, pria itu benar-benar tidak ada pekerjaan selain menjadi penguntit untuk dirinya sekarang.


"Dia sangat lucu, cantik seperti dirimu," puji Abi tersenyum sendiri melihat bayinya yang tengah menatapnya dengan gerakan aktif tangannya.

__ADS_1


Ajeng menggendong bayinya, lalu dengan cekatan mulai memandikan bayi mungil itu ke dalam ember oval yang besar yang sebelumnya sudah diisi dengan air bersih. Ajeng selalu menikmati setiap momenya, perempuan itu mengajak bercakap-cakap kecil sembari tertawa karena Ruby menggerakkan tangannya yang menyebabkan airnya nyiprat ke mana-mana.


Senyum yang langka untuk Abi jumpai. Seketika pria itu begitu terpesona, Ajeng terlihat sangat cantik.


Setelah dirasa bersih, perempuan itu mengangkatnya lalu memeluknya dalam handuk hangat. Membawa ke kamar mengganti pakaiannya.


"Boleh aku mencoba, sepertinya aku perlu latihan."


Kali ini Ajeng menoleh dengan lirikan ragu, benarkah pria yang selalu terlihat dominan dan kaku itu bisa melakukan pekerjaan ini? Impossible, tapi apa salahnya memberi kesempatan ini.


Ajeng pun bangkit memberi ruang untuk Abi memakaikan pampers. Tanpa diduga sama sekali, ternyata Ruby pipis hingga mengenai lengan kemejanya sebelum sempat selesai. Membuat pemandangan itu begitu lucu dan Ajeng pun sampai tersenyum dibuatnya.


"Yah ... yah, kena ke ayah, kamu pintar sekali," keluh Abi belum apa-apa merasa kepayahan.


"Sudah sana ganti, biar aku saja, kubilang juga apa, kamu nggak bisa, kena kan jadinya."


"Aku numpang mandi sekalian ya, handuknya mana?"


"Di lemari yang bersih, ambil saja," sahut Ajeng menginterupsi.


"Ini aja nggak pa-pa," ujar Abi mengambil handuk yang tersampir di pundak Ajeng, sepertinya perempuan itu hendak mandi juga.


"Eh, itu punya aku, Mas!" ucap Ajeng yang tak dihiraukan sebab pria itu langsung melesat ke kamar mandi.


Usai membersihkan diri, Abi yang keluar hanya berbalut handuk sebatas pinggang saja langsung masuk ke kamar di saat Ajeng tengah mengasihi bayinya. Sontak membuat Ajeng langsung memunggungi dengan canggung.


"Apaan sih Mas, jangan asal masuk!" omel perempuan itu menjadi kesal.


"Sorry, tapi aku nggak ada ganti, bisa pinjamkan aku kaus, atau apa saja," ujar Abi malah mendekati istrinya.


"Ruby sudah tidur? Cepet juga ya?" ujar pria itu melongok yang membuat Ajeng buru-buru merapikan pakaian atasnya yang jelas terbuka.

__ADS_1


Keduanya saling tatap hingga beberapa detik, membuat suasana yang tercipta sungguh tidak biasa.


__ADS_2