
Keluarga kecil itu langsung pulang ke rumah begitu Bu Warsa mengabari. Jujur, Ajeng nampak gugup dan hanya diam sepanjang perjalanan pulang. Ruby dalam pangkuannya sudah terkantuk-kantuk sepertinya lelah habis bermain. Abi sesekali melirik samping saat menyetir.
"Ruby tidur? Biar aku gendong saja," ujar Abi menahan Ajeng yang hendak turun. Membuat perempuan itu menurut. Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, Abi mengambil Ruby dalam pangkuan istrinya, menggendong masuk.
Terlihat di dalam ruang tamu nampak ramai, seorang perempuan dan seorang pria seumuran Abi, serta Hanan tengah bercakap-cakap. Suara salam keduanya mencuri atensi semua orang di sekitaran.
"Waalaikumsalam ... alhamdulillah akhirnya pulang juga." Hanan nampak sumringah sekaligus lega.
"Ma, maaf sedikit lama," sapa Abi pada Bu Warsa. Mencium punggung tangannya dengan sopan.
"Ini anak kamu?" Nyonya Warsa langsung terpusat pada bocah kecil dalam gendongan putranya.
"Iya Ma, ini Ruby cucu Mama," jawab Abi mengangguk.
Bu Warsa langsung mengelus Ruby yang masih terlelap. Menciumnya dengan penuh kasih sayang. Apalagi sudah sekian lama perempuan yang tak lagi muda itu sudah bercita-cita menjadi seorang nenek dengan banyak cucu.
"Ini istri Abi, Ma!" seru Abi menunjuk Ajeng yang sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya dengan perasaan tidak asing.
Ajeng mengangguk mengikutinya dengan perasaan bertanya-tanya. Perempuan itu membatin dalam hati, dan masih sedikit ingat tentang sosok beliau yang pernah tak sengaja bertemu di toko baju bayi.
"Ajeng yang bantuin ibu belanja?" tebak Bu Warsa memastikan. Dirinya belum terlalu pikun untuk mengingat kejadian yang cukup berkesan itu.
__ADS_1
"Iya, Bu, Ibu ingat?" sahut Ajeng tersenyum.
"Ya Allah ... ternyata istrinya Abi itu kamu? Anak ini? Ruby yang waktu itu kamu kandung?" Bu Warsa terkejut sekaligus terharu. Dipertemukan lagi dengan sosok perempuan kuat dan pernah membatin mengenai kehamilannya kalau suaminya itu super tegaan karena membiarkan istrinya hamil besar belanja sendirian. Yang ternyata itu putranya sendiri.
"Kalian kenal?" Abi jelas bingung.
Ajeng dan Bu Warsa mengangguk kompak.
"Pernah ketemu, tapi ibu nggak nyangka kalau itu kamu, Nak, masya Allah takdir baik mempertemukan kita di sini. Dengan Ruby cucu ibu." Bu Warsa tertegun dengan rasa hampir tak percaya. Netranya berkaca-kaca membawa menantunya dalam pelukan.
"Maafkan putra Ibu, Nak, kamu pasti sangat tidak mudah melewati ini semua," ucapnya dengan hati terenyuh. Sebagai seorang wanita, mengerti betul perasaannya yang telah dilalui.
Seketika Abi merasa lega, ternyata istrinya sudah mengenal sosok ibunya yang sedikit cerewet itu. Bahkan, perangai Ajeng yang kalem cukup mengimbangi hingga keduanya terlibat obrolan yang sejalan.
"Minum Bu, maaf tidak tahu kalau tengah main, Mas Abi nggak bilang, jadi nggak sempet nyiapin apa-apa."
"Jangan sungkan, Nak, mama juga dikabari dadakan, dan Abi inginnya cepat-cepat meresmikan pernikahan kalian. Mama sangat setuju, bagaimana dengan kamu, Sayang?"
Ajeng terdiam beberapa saat, lebih tepatnya bingung. Menatap Hanan seakan meminta persetujuannya dan mengangguk. Jujur, kalau dengan Abi masih bingung mengenai perasaannya. Lebih tepatnya, takut ekspektasi tak sesuai realita.
"Aku minta maaf, Ajeng, sekiranya kita menyegerakan hajat naik ini, maukah kamu hidup denganku selamanya. Menjadi Ibu dari anak-anakku dan siap mengarungi dalam suka maupun duka," ucap Abi dengan tatapan serius.
__ADS_1
Ajeng menunduk diam, ia masih belum siap kalau masalah hati. Rasanya baru kemarin rasa sakit itu begitu terasa dan berapa sulitnya ia bangkit serta mencoba berdamai dengan hati lapang atas semua yang menimpa pada dirinya. Beruntung punya Ruby yang selalu menjadi alasan untuk tetap kuat dan tegar.
Melihat kebimbangan Ajeng, Bu Warsa mendekat lebih dalam. Mencoba menyelami hatinya sebagai seorang perempuan.
"Jangan mengkhawatirkan apa pun, dia begitu menderita selama ini terus menginginkan anak dan istrinya kembali. Saatnya kalian harus bahagia setelah ujian besar ini," ucapnya lembut. Meraih tangan Ajeng dengan wajah memohon. Terkhusus memintanya untuk putranya yang sekiranya banyak salah hingga masih menimbulkan keraguan di hatinya.
Sementara Abi menantikan jawaban Ajeng dengan perasaan waswas. Takut istrinya akan menolak, atau bahkan memutuskan untuk tetap berpisah.
"Aku ... kalau boleh jujur, perasaan aku masih bingung, tapi aku mau memberikan kesempatan untuk Mas Abi menepati janjinya," jawab Ajeng cukup jelas.
Seketika Abi mendongak, menatap wajahnya dengan perasaan lega. Apakah itu artinya menerima.
"Mama tahu tentang perasaan kamu, Sayang. Pelan-pelan saja, jangan dipaksakan, yang penting kamu tidak menolak dan lebih baik niat baik itu disegerakan. Semua dokumen pernikahan Abi sudah siap, sekiranya Hanan bisa membantu menguruskan. Aku mau secepatnya kalian meresmikan pernikahannya secepatnya."
Abi tersenyum menatap Ajeng, sementara perempuan itu masih datar saja. Walau tidak bisa dipungkiri, keakrabannya bersama Ruby, membuat hatinya menghangat, dan jelas perempuan itu mempertimbangkan itu semua.
Setelah musyawarah keluarga. Hanan dibantu Pras orang kepercayaan Abi saat ini mengurus semuanya. Dengan kekuatan uang, tentu semuanya menjadi mudah. Sejak dari hari pertama pertemuannya di rumah, hanya butuh kurang lebih tiga hari saja dan semua dokumen telah dipersiapkan.
Pernikahan mereka akan diresmikan di Bandung, serta rencananya Nyonya Warsa akan mengadakan syukuran besar di Jakarta sekaligus mengenalkan Ruby pada keluarga besarnya.
"Kamu cantik, dan hari ini aku lebih dari terpesona melihat dirimu?" puji Abi pada istrinya yang siang itu sudah dirias seperti pengantin pada umumnya.
__ADS_1
Kedua mempelai tengah menanti acara sakral itu dibuka. Dengan wajah Ajeng yang anggun, dan Abi yang menawan. Keduanya nampak serasi di persandingan.