
Vivi mengecek tas yang berisikan setumpukan uang yang ia minta. Perempuan itu langsung melesat dengan puas setelah mendapatkan apa yang diinginkan. Tanpa tahu pasti, polisi telah menghadangnya.
"Berhenti!" ucap aparat kepolisian dengan seragam dinas langsung menyergap Vivi di tempat. Perempuan itu terkesiap begitu keluar mendapati dirinya sudah dihadang.
"Brengsek, Abi menipuku!" batin Vivi nyalang dengan tubuh gelisah mencari celah meloloskan diri.
Sebelum sempat beranjak, polisi lebih dulu sigap meringkusnya untuk kemudian diamankan. Membuat perempuan itu menahan kesal bercampur amarah karena merasa dirinya sungguh sial.
Sementara Abi dan Ajeng langsung masuk ke ruangan yang diduga sebagai tempat penyekapan Ruby.
"Di mana Ruby, Mas. Kenapa tidak ada, jangan-jangan Mbak Vivi bohongin kita. Ruby! Ruby!" panggil Ajeng mencari-cari putrinya sembari mengecek satu persatu ruangan yang ada di sana.
Abi merasakan hal yang sama, pria itu jelas murka bila Ruby tidak ada dan penyebabnya adalah mantan istrinya. Abi sudah cek semua ruangan dan semuanya kosong.
"Mas, di mana Ruby?" tanya Ajeng yang tidak menemukan jawaban. Abi langsung keluar menghardik Vivi yang saat ini sudah di tangan polisi.
"Di mana kamu sembunyikan anak, saya! Perempuan jahara, di mana sembunyikan Ruby!" sentak Abi mengguncang bahunya dengan tatapan tajam. Sementara tangan Vivi sudah diborgol jadi tidak bisa leluasa membalas.
"Di dalam, Mas. Aku tidak membawa ke mana-mana. Mungkin masih tidur," jawab Vivi santai tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Bohong! Kamu sembunyikan di mana anakku!" bentak Ajeng murka. Saking gregetnya menampar begitu saja cukup keras.
"Aku tidak tahu, dia ada di dalam, aku tidak mungkin melukai anak kecil," jawab Vivi marah.
__ADS_1
"Kalau sampai terjadi apa-apa sama Ruby, aku pastikan kamu tidak akan pernah keluar dari penjara!" bentak Abi geram.
Pria itu mengusak kasar rambutnya dengan kedua tangannya frustrasi. Kesal sekali di hadapkan dengan situasi seperti ini. Ruby belum juga ketemu, tentu saja membuat seluruh keluarga kalang kabut mencarinya.
"Mas, Ruby itu kan masih kecil, bagaimana kalau keluar sendiri. Vivi benar-benar tak termaafkan kalau anakku sampai kenapa-napa." Ajeng kembali menangis tergugu.
Pencarian dilakukan di sekitar tempat kejadian. Bahu jalan hingga jalan raya. Menyusuri jalanan hingga jauh. Pencarian Ruby dibantu aparat kepolisian hingga ke sisir pemukiman yang jaraknya lumayan jauh dengan tempat kejadian.
Berita kehilangan Ruby pun sampai ke telinga Hanan. Adik dari Ajeng itu begitu kaget dengan musibah yang tengah menimpa kakaknya. Bahkan pria itu langsung bertolak ke Jakarta demi mendapatkan kabar up date ponakannya itu.
Sementara bocah kecil yang tengah dicari-cari itu tengah berjalan sendiri sembari membawa botol susu yang tidak ada isinya.
"Astaghfirullah ... anak orang atau tuyul, kok jalan sendirian tanpa pengawasan orang dewasa gini!"
"Adek, ibunya mana, Sayang?" tanya Olive antara takut tetapi nekat. Salah-salah anak setan turun ke jalan.
Bocah balita itu tidak menyahut, hanya berkedip lembut dengan muka sedih. Kemudian menangis jejeritan.
"Eh ya ampun ... anak manusia kah? Kasihan sekali sayang, kamu kenapa jalan di sini. Tega banget sih orang tuanya." Gadis itu mengomel. Langsung mengamankan bocah kecil itu dalam gendongan. Bermaksud membawanya pulang, setelah memberi bantuan, baru ingin melaporkan pada polisi setempat atas penemuannya.
Ruby kecil masih menangis dalam gendongan. Olive yang kwalahan langsung menurunkan ke lantai dengan hati-hati. Memanggil para asisten rumah tangganya untuk membantunya membuatkan susu.
"Astaga Non Olive, dia siapa?" tanya Mbak Welas terkesiap mendapati anak majikannya yang super manja itu membawa seorang anak kecil pulang.
__ADS_1
"Nemu Mbak, anak orang sepertinya, makanya aku kasihan. Kasih susu apa ya. Tolong mandiin Mbak, dia pasti tidak nyaman!
"Siap Non," jawab ART itu membimbing bocah kecil itu untuk mengikutinya. Namun, nampaknya balita itu enggan beranjak, malah ngikutin Olive terus sambil gelendotan di kakinya.
"Anak pintar yang entah anak siapa? Tante yang cantik ini nggak bisa mandiin kamu. Mandi dulu ya Sayang, nanti janji dikasih es krim kalau nggak nangis," bujuk Olive yang tidak mempan.
Bocah kecil itu malah kabur keluar sesuka hati. Membuat Olive mau tidak mau mengikutinya karena merasa khawatir.
"Ya ampun ... bayi, mau susu nggak? Es krim, coklat," tawar Olive akhirnya mengalah. Mlipir ke mini market sebentar untuk membujuk bocah kecil itu.
"Bayi, kamu boleh milih, janji habis ini nurut," kata Olive ngomong sendiri.
"Ruby!" pekik seorang pria jelas terkejut mendapati keponakannya dalam pelukan seorang perempuan muda.
"Eh, lo siapa, Ruby?" tanya Olive waspada begitu Hanan mendekat.
.
Tbc.
.
Taman2 sambil nunggu novel ini up mampir di karya temenku yuk!
__ADS_1