
Ajeng langsung berdiri memberi jarak serta menenangkan Ruby dalam gendongan.
"Maaf Mas, jangan dideketin dulu, dia merasa asing sama kamu jadi takut," ucap Ajeng memohon pengertiannya.
Abi menurut, wajahnya terlihat begitu sedih. Memilih duduk ditemani Hanan sambil menunggu Ruby tenang.
"Nan, setahun lebih ini aku mencari kalian, kenapa tidak meninggalkan pesan apa pun? Pindah tanpa berkabar," ucap Abi memulai percakapan.
Rasanya Ajeng ingin menyahut, namun terhalang karena Ruby dalam gendongan dan harus ditenangkan.
"Maaf Mas, tapi kami sebelumnya sudah mencari. Hampir dua minggu menanti kabar yang tak pasti, bahkan aku dan Kak Ajeng mencari ke rumah, Mas Abi menghilang tanpa kabar. Sedangkan kuliah aku hampir mulai, jadi kami segera pindah."
"Sesuatu terjadi padaku, Hanan, aku mengalami musibah, kecelakaan yang cukup parah. Mungkin ini seperti teguran, dulu waktu kamu kecelakaan, aku datang dengan syarat dan aku pun sudah menuai hukuman Tuhan, walaupun aku bersyukur akhirnya ada Ruby sekarang. Tapi aku sedih dia tidak mengenaliku."
"Maksudnya? Mas Abi kecelakaan? Tidak menghilang karena pindah dan rujuk dengan Mbak Vivi?" tanya Hanan cukup mewakili hati Ajeng yang sebenarnya tak karuan dan masih menyisakan lara.
Perempuan itu jelas mendengar percakapan keduanya, karena Ajeng menimang Ruby tak jauh dari tempat keduanya duduk.
"Aku sudah resmi berpisah, pas di mana aku mengalami musibah naas itu. Hari yang membuat statusku jelas. Namun, hari itu pula kesedihan dan kepiluan hidupku dimulai. Tuhan telah menghukumku dengan banyak luka yang memerlukan pemulihan panjang. Kakiku cidera, tanganku cidera, dan Anto gugur dalam kecelakaan itu," curhatnya dengan sedih.
"Aspri Mas Abi?" tanya Hanan memastikan. Pria itu mengangguk mengiyakan.
"Innalillahi ... turut berduka cita, pantes Kak Ajeng mencoba hubungi ke WAnya nggak aktif. Semuanya menghilang tanpa jejak, membuat kami bingung dan mengambil sikap."
"Aku sampai nggak bisa ngebayangin setelahnya, hidupku begitu terpuruk setelah tidak menemukan kalian. Semangatku berkurang, dan rapuh menjalani hidup. Berbulan-bulan mendapat perawatan medis untuk memulihkan. Perusahaan gonjang-ganjing, karena aku sakit, banyak orang yang ingin menempati diposisi itu."
"Semua tidak mudah untukku Hanan, dan sekarang aku kembali memiliki asa setelah menemukan kalian. Walaupun harus kaya gini, Ruby nggak kenal sama aku dan ini terlalu melesakan sebagai seorang ayah."
__ADS_1
"Maafkan kami Mas, yang tidak tahu menahu soal kejadian itu. Mas yang sabar ya, pelan-pelan saja, semoga Ruby perlahan mau mengerti."
"Terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku, Hanan, semoga kakakmu mau mengerti, aku masih berharap kita bisa berkumpul kembali."
"Kalau itu, coba nanti Mas Abi berbicara sendiri dengan Kak Ajeng, masalah hati Hanan tidak bisa bantu. Semoga ada titik temu baiknya bagaimana."
Ajeng yang sejatinya mendengar, pura-pura tidak dengar. Masih sulit dipercaya rasanya. Hatinya kadung luka dan semua itu tidak mudah Ajeng lalui untuk waktu yang setahun lebih ini.
Hanan sengaja keluar sibuk di bengkelnya membantu karyawannya. Pemuda itu memberikan ruang untuk kakak dan juga ayah Ruby berbicara. Mungkin banyak hal yang harus diluruskan.
"Ruby sudah tidur? Boleh aku bicara?" pinta pria itu mendekat.
Ajeng mengangguk dengan galau, perempuan itu duduk sembari memangku Ruby dalam dekapan yang sudah terlelap.
"Kasihan sekali, aku sangat merindukanmu, Nak," ucap Abi berjongkok menatap putrinya sendu. Tangannya terulur mengelus kepalanya, lalu mencium keningnya dengan sayang.
"Kamu apa kabar? Aku minta maaf," kata Abi menatap penuh harap. Masih dengan posisinya yang sama, duduk di bawah Ajeng menghadap Ruby lebih tepatnya.
Perempuan itu terdiam, kembali memberanikan diri menatap netranya yang saat ini tengah menatapnya tanpa jeda.
"Lebih baik dari pada tahun lalu. Aku sudah tidak berharap kamu datang setelah hari itu," jawab Ajeng kembali memutus kontak matanya.
"Kamu belum percaya dengan semua yang terjadi padaku? Apa ini artinya perasaan dan hati kamu telah dimiliki orang lain?" tanya Abi sendu.
"Aku nggak tahu Mas, aku belum bisa jawab. Ini terlalu mendadak, dan rasanya hatiku baru kembali tenang," jawabnya mulai terbawa emosi dan suasana hati.
"Aku minta maaf, Ajeng, semua terjadi atas kuasa-Nya. Hari ini aku bersyukur dipertemukan lagi, bila masih sudi dan berkenan, aku ingin menebus janjiku padamu, dengan meresmikan pernikahan kita." Abi kembali berkaca-kaca.
__ADS_1
Ajeng membuang muka, setitik embun di sudut matanya basah. Masih terselip luka yang mendalam, ia berusaha untuk menguasai hatinya.
"Jangan nangis, aku tahu ini tidak adil bagimu, tapi aku sangat berharap kita masih bisa merajut lembaran baru. Demi Ruby anak kita dan tentu saja aku masih sangat mencintaimu."
Abi mengusap air mata istrinya dengan ibu jarinya. Seakan lelehan bening itu terus berdesakan berjatuhan. Ajeng hendak beranjak, namun Abi menahannya. Pria itu terus menatapnya beralih duduk di sampingnya, tepat di sebelah kepala Ruby. Sesekali menciumi puncak kepala putrinya.
"Bagaimana Ajeng? Aku tidak mau lagi berpisah dengan kamu dan Ruby."
Ajeng masih terdiam galau, tidak tahu harus menjawab apa.
"Permisi Mas, aku mau membaringkan Ruby," pamit Ajeng membawa putrinya ke kamar. Abi mengekornya, seakan tak ingin kehilangan moment yang sudah lama pria itu rindukan.
"Sebaiknya Mas pulang dulu saja, besok kalau keadaan Ruby lebih baik, pelan-pelan dekati," usir perempuan itu bingung sendiri. Status mereka yang belum jelas membuat keduanya sama-sama canggung berada dalam ruangan yang sama.
"Aku sebenarnya kangen banget, pengen peluk Ruby tapi takut nanti kebangun, sama kamu juga," kata pria itu jujur. Membuat Ajeng kembali terdiam.
Suasana mendadak canggung di antara keduanya. Ajeng yang masih slow respon dan Abi yang inginnya mendekat dengan kepastian.
.
Tbc
.
Author punya rekomendasi novel temen nih ... kepoin yuk!
__ADS_1