Rahim Sengketa

Rahim Sengketa
Bab 37


__ADS_3

"Kenapa mengabaikan teleponku, seharusnya tidak pergi dari rumah, apalagi kamu membawa Ruby," kata Abi setelah Denis pulang.


"Kamu bilang fasilitas itu diberikan selama aku mengandung anakmu. Sekarang Ruby sudah lahir, dan aku ingin kamu menepati janjimu untuk mengembalikan kehidupanku yang dulu."


"Mungkin kemarin iya, tapi sekarang kamu membawa anakku, bagaimana bisa aku melakukan itu."


"Bisa, mudah bagimu untuk mencari ibu pengganti lainnya karena uangmu. Hanya saja pastikan yang sekarang bukan atas skandal kasus yang dibuat untuk menindas seseorang," sindir Ajeng sengit.


"Aku tidak tertarik dengan ibu pengganti lainnya, sekarang aku sudah punya anak," jawab Abi sambil mendekap hangat putrinya.


Baby Ruby terlihat anteng di pangkuan ayahnya. Membuat pemandangan itu terasa lain di mata Ajeng yang sebenarnya sama-sama tak ingin pisah dari buah hatinya.


"Kamu bisa menjenguknya lagi besok, bukankah katamu sudah malam tidak baik bertamu, ini rumah kami, dan kamu adalah tamu."


"Kamu mengusirku?" tanya Abi gemas.


"Sama halnya kamu mengusir Denis, impas bukan?"


"Jangan salah persepsi, walaupun ini rumahmu, aku ini suamimu, sangat mungkin aku di sini hingga larut, bahkan bermalam di sini sekalipun."


"Jangan gila, aku bosan berurusan dengan istrimu yang angkuh itu, tolong jangan membuat hidupku semakin sulit."


"Biarlah Vivi menjadi urusanku, aku perlu ketenangan malam ini, aku sangat merindukan Ruby," jawab Abi sendu. Enggan beranjak sama sekali melepas dari gendongannya.


Ajeng nampaknya mulai risih dengan sikap Abi yang masih menggaungkan ikrar status yang jelas seharusnya berakhir. Hingga detik itu juga, rasanya Ajeng ingin sekali terbebas dari manusia seperti dia.


"Kapan kamu mau membebaskan aku dari status yang tidak jelas ini?"


"Secepatnya status kamu akan aku perjelas," jawab Abi yakin. Entah status yang mana, status perceraian atau status pernikahannya.


Ajeng terdian, setidaknya merasa tenang, mungkin setelah selesai masa nifas, Abi akan segera menceraikannya. Harus menunggu kurang dari satu bulan. Tidak lama lagi kebebasan status itu akan Ajeng dapatkan.

__ADS_1


"Mana kamarmu, aku mau menidurkan Ruby," tanya Abi menyusuri ruangan.


Ajeng melangkah menuju kamarnya, diikuti Abi yang masih menggendong Ruby. Sementara Hanan sengaja meninggalkan keduanya sejak tadi untuk saling berbicara menyelesaikan masalah yang jelas begitu rumit.


Pria itu pasang mata, dan telinga, namun tetap berusaha tenang selama tidak menyakiti kakaknya baik verbal maupun fisik. Apalagi status mereka yang memang masih suami istri, jadi Hanan tak sampai hati melarangnya untuk tidak saling dekat satu sama lain.


Pria itu menaruh Baby Ruby di ranjang yang tidak begitu luas. Cukup longgar kalau hanya dibuni ibu dan anak, tetapi begitu pas tentunya bila harus diisi dengan ayahnya.


"Aku mau istirahat, kamu bisa keluar sekarang!" usir Ajeng gemas. Kenapa Abi malah duduk di ranjang, sambil membuai putrinya.


"Tidurlah di samping Ruby, malam ini, izinkan aku melepas rinduku bersama anakku, aku ingin menemaninya juga," kata pria itu jelas membuat Ajeng tercengang.


Situasi yang paling menyebalkan sebenarnya, bagaimana bisa pria itu setenang itu di dalam kamarnya.


"Ajeng, istirahatlah, mumpung Ruby masih bobok, bukankah setiap tiga jam sekali kamu harus kasih ASI?"


"Aku tidak bisa tidur kalau kamu tidak keluar," ujar Ajeng resah.


"Aku ingin dekat dengan Ruby, boleh aku membawanya pergi, biar aku pulang sekarang?" ancam Abi yang membuat Ajeng terdiam.


Tidak butuh waktu lama untuk membuat Ajeng menemukan kantuknya. Rasa lelah aktifitas seharian membuatnya mudah terlelap. Sementara Abi, masih betah terjaga. Mengamati dengan jelas anak dan istrinya yang begitu mirip. Hatinya begitu damai malam ini. Membuatnya memutuskan untuk memejamkan matanya.


Malam hari saat suasana sepi, seperti biasa Ruby terbangun karena merasa haus. Ajeng langsung terjaga begitu mendengar tangisan itu, tak terkecuali Abi juga. Merasa terusik dengan tangisan anaknya.


"Dia haus, cepat kamu beri asinya!" titah pria itu sampai terduduk.


Ajeng jelas bingung mau buka-bukaan di depan suaminya itu. Namun, karena Ruby sepertinya sudah kehausan, perempuan itu pun memindah posisinya dengan menggeser Ruby ke pinggir dan Ajeng memunggungi Abi seraya menutupi tubuh bagian atasnya dari mata suaminya.


"Kenapa harus malu, tubuhmu halal aku lihat, apalagi aku sentuh," celetuk Abi sambil melongok perempuan itu yang sengaja memejamkan matanya sambil menjaga kain penutup dadanya agar singkron dan membuat Ruby nyaman meraih air sumber kehidupannya.


Baru saja bernapas lega sebab Ruby kembali anteng dan tertidur, Ajeng hampir dibuat menjerit dengan tingkah konyol Abi yang cukup meresahkan. Bayangkan saja tiba-tiba pria itu merebah tepat di belakang Ajeng, lalu memeluk dari samping. Tangannya mengunci posesif.

__ADS_1


Setengah putus asa Ajeng menyikapi, suasana ranjang yang pas untuk bertiga, tak bebas membuatnya terjebak dalam situasi yang jelas tidak menguntungkan baginya.


Usai memberikan ASI dan baby Ruby terlihat nyenyak, Ajeng berusaha meloloskan diri. Namun, Abi menahannya, membuat perempuan itu jelas tidak nyaman.


"Lepasin, perutku masih sedikit ngilu saat ada yang menyentuhnya," ujar Ajeng beralibi. Nyatanya perempuan itu diberikan pemulihan cepat, mungkin memang beruntung dan dengan penanganan yang cepat.


"Maaf, apakah masih sakit?" bisik Abi melepas tanganya yang memenjara dirinya.


Ajeng mengangguk, lalu turun dari ranjang, berniat menggeser baby Ruby agar bergeser ke tengah, namun baby Ruby malah rewel dan kembali Jejerita karena merasa tidurnya terusik.


Abi langsung sigap menggendongnya, seketika dalam buaian ayahnya langsung anteng. Membuat Ajeng terdiam dengan caranya yang cepat dan begitu telaten.


"Aku ingin mengenalkan kamu pada oma, sayang," gumam Abi telah memikirkan hal itu. Jika Vivi menerima keputusannya, biarlah bayi itu tetap bersama Ajeng dan dirinya tetap rela dimadu. Atau mungkin ceritanya akan beda.


Ajeng yang mendengar itu malah khawatir Abi akan membawa baby Ruby. Membuatnya tak tenang sama sekali.


"Kenapa natap aku kaya gitu, ada yang ingin kamu katakan? Kalau tidak sebaiknya istirahat, biar Ruby aku yang jaga, kamu harus tidur agar kondisi tubuhmu tercukupi, sehat selama menyusui."


"Jangan bawa Ruby pergi, aku mohon ...." ucap Ajeng sungguh-sungguh.


"Hanya satu caranya, kamu tetap menjadi istriku, maka kita akan sama-sama dengan anak kita."


"Tidak mungkin Mas, karena aku yakin istrimu tidak mau dipoligami, dan aku juga tidak mau menjadi yang kedua," jawab Ajeng benar adanya.


Tidak akan pernah mau menjadi yang kedua, dan itu jelas Ajeng tolak mentah-mentah atau dirinya akan sakit hati selamanya.


"Bagaimana kalau menjadi yang pertama, hanya satu-satunya, dan yang terakhir?"


.


Tbc

__ADS_1


Teman-teman sambil nunggu novel ini up bisa mampir di karya temen aku di bawah ini!



__ADS_2