Rahim Sengketa

Rahim Sengketa
Bab 39


__ADS_3

"Apa maksud perkataan kalian?" Bu Warsa menatap tajam putranya dan menantunya.


"Mama!" Pria itu jelas kaget mendapati ibunya yang tiba-tiba muncul memergoki keduanya.


Abi memang sudah berencana ingin memberitahu semuanya, tetapi menunggu suasana lebih baik dan tidak dalam keadaan tertekan seperti ini.


"Jelaskan pada mama, perceraian? Ajeng itu siapa? Apa maksudnya? Dan kamu!" Bu Warsa menatap menantunya yang terdiam tak berbicara sepatah kata pun. Lalu memperhatikan perutnya yang bahkan rata dan langsing.


"Kamu sudah melahirkan? Kapan? Di mana cucu mama?" tekan perempuan paruh baya itu jelas meminta penjelasan.


"Mmm ... iya Ma, Vivi sudah melahirkan, tapi bayinya—tidak terselamatkan!" jawab Vivi menutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya.


Abi yang tengah kalut langsung menatap tajam istrinya yang tengah berbohong lagi. Namun, nampaknya kali ini pria itu sudah lelah dan bosan mengikuti caranya yang semakin menjadi. Apa maksudnya tidak terselamatkan, lancang sekali perkataannya yang sontak membuat Abi lepas emosi.


"Vivi tidak pernah melahirkan, Ma, maafkan kami, itu hanya sebuah rekayasa saja," sahut Abi jujur.


Bagai bom atom yang meledakan hatinya, Vivi tak pernah mengira Abi akan berkata nekat seperti itu hingga membuatnya dalam kerumitan. Berkata demikian jelas merusak reputasinya di mata keluarga, terlebih orang-orang sekitar.


"Apa maksud kamu, Abi? Jadi selama ini kalian bohongi mama!" bentak Bu Warsa jelas shock.


"Maaf Ma, Abi bisa jelaskan semuanya, kami minta maaf." Abi mencoba setenang mungkin menyikapi kedua perempuan di depannya.


"Jelaskan apa? Kehamilan kamu bohong, selama ini bahkan mama sudah sangat bahagia menanti kehadiran cucu mama, kalian benar-benar keterlaluan!" sentak Bu Warsa menatap tajam putranya dan juga menantunya.


"Ma, maafin Vivi, Ma, Vivi lakuin ini juga terpaksa karena Mama terus bertanya-tanya tentang kehamilan Vivi. Maafin Vivi, Ma," mohon perempuan itu merasa terpojok sambil menangis.


"Mama tidak habis pikir dengan jalan pikiran kalian, mama benar-benar kecewa," ucap Bu Warsa sendu.

__ADS_1


"Vivi memang tidak hamil, Ma, tapi Abi benar-benar punya anak, dan Mama punya cucu dari istri Abi lainnya," ucap Abi jujur.


Pengakuan Abi kali ini cukup membuat kedua wanita beda generasi itu sama-sama tercengang. Bu Warsa tidak menyangka putranya berpoligami, sedang Vivi tidak menyangka Abi jujur dan mengakuinya.


"Iya Ma, selama ini Mas Abi duain Vivi, Mas Abi menikah lagi agar punya anak," ucap perempuan itu tersedu-sedu.


Membuat Bu Warsa sedikit merasa iba dan kasihan. Sebagai seorang wanita, tentu saja merasa sakit dan tidak suka dengan yang namanya poligami.


Kali ini Abi yang menatapnya tajam, bagaimana bisa istrinya mendrama seolah terdzolimi. Padahal kesepakatan mereka hanya lantaran inseminasi dan atas ide, serta saran dari dirinya.


"Abi memang poligami, Ma, demi mendapatkan keturunan karena Vivi tidak mungkin punya anak. Tapi, itu semua tidak seperti umumnya, Abi hanya meminjam rahimnya untuk menanam benih Abi dengan inseminasi. Sekarang anak itu sudah lahir, sayangnya ada suatu hal yang membuat Abi tidak bisa membawanya pulang."


"Apa maksud kamu, Abi? Kamu membeli rahim seorang wanita?"


Pria itu mengangguk sendu, membuat Bu Warsa jelas makin murka dan tak habis pikir dengan kelakuan anak dan menantunya.


"Ma, Ma, maafin Abi, Ma, Abi benar-benar bingung waktu itu, Abi nggak tahu harus gimana, tolong maafin Abi, Ma." Pria itu bersimpuh di kaki bundanya.


Bu Warsa tidak menanggapi putranya, berlalu begitu saja. Hatinya sakit dan kecewa dengan sikap putranya dan kelancangannya selama ini.


"Bawa anakmu ke rumah mama, baru mama bisa memaafkan dirimu," ucap perempuan paruh baya itu sendu dan terlihat begitu kecewa. Pergi meninggalkan rumah putranya dengan sedih.


"Puas kamu, Mas, mama kamu marah, sama sekali nggak nganggap aku, puas kamu!" murka Vivi begitu Bu Warsa meninggalkan rumah.


"Memang ini pada kenyataannya, siapa suruh pura-pura hamil segala. Aku sudah mewanti-wanti sebelumnya, dan sekarang jangan salahkan aku jika mama tidak respect padamu!" bentak Abi ikut pusing.


"Memangnya tidak bisa bersandiwara sedikit saja, sejauh ini melangkah dan kamu menghancurkan semuanya. Sekarang, dengan lancang mengakui anak itu dengan perempuan lain, tega kamu, Mas."

__ADS_1


"Maaf Vivi, aku lelah mengikuti kebohongan kamu, aku akan jujur semuanya tentang Ajeng, dan kamu tidak bisa menahanku untuk melakukan itu," kata Abi sungguh-sungguh.


"Apa maksud kamu, Mas? Kamu mau menjadikan Ajeng istrimu sungguhan? Kamu benar-benar mau mengkhianati pernikahan kita." Vivi jelas tidak terima dan anti poligami.


"Bukankah sejak dari awal ada ikrar ijab qobul Ajeng sudah sah menjadi istriku, apa bedanya dengan sekarang, dan kamu harus terima itu."


"Tidak, aku tidak mau dimadu, kamu harus ceraikan Ajeng sesuai janjimu!"


"Maaf, Vivi, aku tidak bisa, kasihan Ruby, dia butuh ibu dan juga aku ayahnya."


"Tidak Mas, kamu tidak boleh serakah, kalau kamu memilih pernikahannya, berarti kamu menghancurkan pernikahan kita," tegas Vivi murka.


"Maaf, tapi aku tetap tidak bisa mengikutimu," ucap Abi cukup jelas.


"Jahat! Dasar pria tidak berperasaan, apa itu artinya kamu lebih memilih perempuan sialan itu!" bentak Vivi kesetanan.


"Aku menangguhkan anakku, demi Ruby, maafkan aku, Vi, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita, mulai malam ini, aku secara sadar dan tanpa emosi menjatuhkan talak padamu."


"Tidak, tidak Mas, aku tidak mau, jahat kamu Mas, jahat!" Vivi mengamuk sembari menerjang tubuh Abi. Memukulinya dengan membabi buta.


Pria itu menjaga kedua tangannya untuk menghindari timpukan itu. Hingga membuat Vivi menangis lemas.


"Maaf, Vi, kamu sudah memberikan aku pilihan, dan ini kenyataannya, akan aku urus segera surat perceraian kita," ucap Abi tidak tahan lagi. Bukan hanya perkara Vivi tidak bisa mempunyai anak, namun kelakuan perempuan itu yang tak layak dibela dan diperjuangkan lagi.


"Hahaha ... urus saja sana, urus sepuas kamu, Mas, kamu pikir pria cuma kamu saja. Sombong, angkuh, merasa paling benar di atas awan, aku juga sudah jenuh dengan tingkah dirimu yang arogan, terlebih ibumu yang cerewet dan suka mengatur. Baguslah cerai, dan aku akan menuntut harta gono gini," ucap perempuan itu tanpa tedeng aling-aling. Mengabsen satu persatuan keburukan suaminya. Lebih tepatnya berubah jadi mantan, karena pria itu telah menalaknya.


Abi yang awalnya merasa sedikit kasihan, setengah jengkel mendengar pernyataannya. Sungguh istri macam apa yang berhati demikian. Vivi benar-benar tak mejaga image lagi, terkesan pasrah penuh dendam.

__ADS_1


"Lihat saja nanti Mas, akan kubuat kalian menderita, kamu membuang aku demi wanita murahan itu, akan kubuat perhitungan untuk kalian semua," ancam Vivi dalam hati. Jelas begitu murka dan mendendam.


__ADS_2