
Ini bukan mimpi tetapi nyata yang benar-benar mendebarkan dan menentramkan. Bisa memeluknya semalaman, bahkan berbagi ranjang dan selimut tanpa paksaan. Rasanya tuh beda, padahal jelas bukan yang pertama untuk Abi. Tetapi terasa sangat istimewa.
Ajeng yang pagi itu masih terlelap sedikit kaget kala terbangun ada tangan kokok yang memenjara tubuhnya. Hampir ia memekik kalau saja tidak sadar bahwa dirinya bahkan sudah meresmikan pernikahannya kemarin.
Perempuan itu dengan hati-hati menyingkirkan tangan suaminya mengingat ia harus bangun pagi. Belum sempat beranjak sama sekali, Abi kembali menariknya dalam pelukan lebih erat.
"Mas, aku mau bangun," gumam Ajeng berusaha meloloskan diri.
"Hmm ... kamu mau kabur, aku masih betah begini," jawab Abi enggan memindah tangannya. Bahkan, mengusak lembut di bagian cerukan leher hingga membuat Ajeng seketika meremang.
"Enggak, cuma ini udah pagi dan kayaknya kita kesiangan," ujar Ajeng sembari menguasai degup jantungnya yang mulai rancak.
Abi memberi jarak, namun tak melepaskan pandangan. Membimbing istrinya agar menatapnya.
"Semalam capek banget ya, sampai pamit tidur duluan."
"Iya Mas, maaf," ucap Ajeng berusaha menghindari tatapan Abi yang lembut.
"Nggak pa-pa sih, cuma sebenarnya semalam pingin ngobrol aja. Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu selama setahun lebih ini. Kamu kan udah denger cerita aku, kalau versi kamu gimana?"
"Penting buat diceritain? Nggak ada yang menarik, semua hanya tentang luka. Aku pikir kamu udah bahagia dengan istrimu."
"Kamu sih cepet-cepet pindah, coba bersabar dikit aja. Tahu nggak saat pertama kali aku terbangun sadar dari rumah sakit. Hanya ada kamu dan Ruby yang pertama aku ingat. Rasanya rindu sekali pada kalian. Tapi harapan itu seketika sirna saat mengetahui kamu telah pergi ninggalin aku. Mungkin kalau bukan karena mengingat janjiku padamu dan tekat bulatku untuk memeluk kalian lagi, aku sudah berpulang karena tidak punya semangat hidup."
__ADS_1
"Kasihan, ternyata kamu menderita juga Mas, aku kira kamu udah bahagia. Makanya aku memutuskan untuk membenahi hatiku dan melupakan dirimu. Aku sebel waktu pertama kamu tiba-tiba datang. Kesel, marah, kecewa, dan rasanya sebel banget lihat muka kamu muncul membawa penyesalan.
"Sekarang masih kesel nggak?"
"Masih, mana nempel-nempel mulu, aku susah gerak," keluh Ajeng yang membuat Abi semakin gemas.
"Kan udah sah, yang nggak pa-pa, halal juga lebih dari menempel. Nanti malam boleh nggak?"
"Nggak tahu," jawab Ajeng bersemu merah.
"Duh ... kamu manis banget sih, apa ya nggak nambah aku makin sayang. Kalau pagi ini cium dulu boleh nggak?"
"Nggak Mas, belum cuci muka. Sana jauhan, aku mau bangun."
Jangankan menjauh, bergeser pun tidak. Pria itu malah mengikis jarak hingga keduanya sama-sama saling terdiam sesaat, sebelum akhirnya Abi menyentuh bibirnya.
Keduanya memberi jarak waktu rengekan balita masuk mengusik indera pendengarannya. Ajeng langsung menengok Ruby yang bahkan saat ini sudah terjaga sepenuhnya. Bocah lucu itu tiba-tiba langsung bangkit dan merusuh di tengah hingga membuat keduanya terdiam, lalu tertawa saling tatap.
"Intermezo ... duh ... anak papa pengertian banget sih, besok tidur sama oma ya, papa pengen pacaran," ujar pria itu jujur sekali sambil tersenyum.
Ruby yang belum begitu ngeh dengan perkataan ayahnya seakan tak peduli dan malah meminta dikelonin ibunya.
"Bangun yuk udah siang, Ruby mandi dulu biar wangi," ujar Ajeng menginterupsi. Bangkit dari kasur lalu mengikat rambutnya.
__ADS_1
Tidak ada pekerjaan yang signifikan, hanya makan, menemani Ruby main dan mengemas barang yang hendak dibawa. Abi akan memboyong keluarga kecilnya balik ke Jakarta esok mengingat pekerjaannya sudah menunggu.
"Ini yang mau dibawa?" tanya Abi memastikan. Sesungguhnya berat buat Ajeng meninggalkan Hanan sendirian. Namun, ia juga telah mengambil sebuah keputusan yang tentunya harus mengikuti Abi, suaminya tinggal.
"Aku pasti akan sangat merindukan tempat ini."
Ajeng terlihat sedih hingga Abi mendekat. Sejujurnya perempuan itu sedikit takut mengingat hal yang dulu, sepintas tentang karakter Abi yang sedikit banyak masih membekas di hati. Namun, segera ia menyakinkan diri, apalagi melihat sifatnya yang sekarang jelas berbeda. Lembut, perhatian, dan pastinya penyayang.
"Apa yang membuatmu ragu, Sayang. Katakan padaku, biar aku tahu, atau kamu butuh sesuatu?" tanya Abi ikut sedih melihat wajah istrinya yang sendu.
"Aku takut Mas, aku hanya takut tentang apa yang telah terjadi padaku dulu. Aku takut kamu," lirih Ajeng tertunduk dalam kebingungan.
"Maafkan aku Sayang, maaf, telah membuat kenangan buruk dan ternyata sangat melukai dirimu. Maafkan aku yang pernah berbuat tidak adil padamu, maaf untuk semua hal yang mungkin dengan sengaja mulut ini menyakiti dirimu. Maaf, jangan nangis, janjiku padamu, akan aku jaga selalu cinta kita, keluarga kita, dan membawamu bersama-sama bahagia."
Abi membawa istrinya ke dalam pelukan. Menenangkan, netranya ikut berkaca-kaca sembari menggumamkan janji dalam hati kalau ia akan berusaha menyayangi dan memberikan cinta kasih sampai menua bersama.
"Jangan nangis, hati aku sakit kalau lihat kamu gini. Biarlah kepiluan di antara kita berlalu. Kita harus menjemput kebahagiaan itu bersama," ucap Abi sembari menghapus air matanya dengan jemarinya.
.
Tbc
.
__ADS_1
Sambil nunggu novel ini up, mampir di karya temenku yuk!