Rahim Sengketa

Rahim Sengketa
Bab 44


__ADS_3

Usai makan malam, Ajeng membereskan sisanya dan membawa piring kotor ke belakang. Disusul Abi yang sengaja ingin mencuci tangannya. Pria itu mengamatinya seraya menunggu giliran.


"Kamu duluan, jangan berdiri di situ," tegur Ajeng tak nyaman. Mempersilahkan Abi untuk mencuci tangannya terlebih dahulu dengan memberikan ruang untuk mendekati wastafel, sementara Ajeng mundur beberapa langkah.


"Bukannya tangan kamu masih sakit? Buat besok aja, sebaiknya istirahat," ujar Abi memperingatkan.


"Jarinya yang sakit, nanggung cuma dikit, kamu duluan aja," ujar Ajeng tak mendengar kata Abi.


Perempuan itu sebenarnya bingung sendiri hendak menyusul ke kamar, mencari-cari kesibukan buat alasan, berharap juga Hanan malam ini pulang karena hatinya mendadak tidak tenang.


Ajeng merasa sikap Abi yang terlampau manis malah membuatnya bingung dan takut mengambil sikap. Hingga masuk ke kamar sendiri saja menjadi deg degan.


Abi yang merasa istrinya terlalu lama meninggalkan kamar pun kembali keluar karena penasaran. Kenapa tak kunjung masuk, padahal tadi hanya membereskan piring kotor sedikit.


"Ajeng, kenapa malah duduk di sini? Istirahatlah ini sudah malam," tegur Abi mendapati Ajeng termenung sendiri dengan pikirannya di ruang tengah. TV-nya menyala dengan volume kecil.


"Belum ngantuk, kamu tidur duluan aja," jawab Ajeng tanpa menoleh ke arah Abi. Tetap lurus pada layar TV yang sebenarnya hanya mengalihkan perhatiannya saja.


"Aku juga belum ngantuk, aku temenin nonton ya," ujar pria itu tak menyerah.


Ajeng yang sengaja ingin menghindar dari Abi nampaknya gagal total karena pria itu kini malah makin rapat duduk di dekatnya.


Membuat perempuan itu mati gaya dipepet terus.


"Sepertinya aku udah ngantuk, duluan ya," pamit Ajeng berdiri hendak meninggalkan ruangan.


"Kamu menghindariku?" Abi menahan tangannya, membuat perempuan itu menoleh dan tetap berdiri gagal beranjak.


"Sebentar lagi pasti Ruby bangun, aku harus kasih ASI," jawab Ajeng sembari melepaskan cekalan tangannya.


Pria itu pun maklum, menahan sabar lalu mengekor Ajeng masuk ke dalam setelah mematikan TV-nya.

__ADS_1


Mendadak Ajeng canggung dan bingung hendak berbagi ranjang. Ia memindah Ruby agar di tengah menjadi sekat keduanya. Sempat melirik Abi yang sedari tadi menatap dirinya. Jelas membuat Ajeng tidak nyaman, tetapi akhirnya memilih mengabaikan saja dan bersiap tidur. Barulah perempuan itu menutup matanya mengistirahatkan diri.


Berbeda dengan Abi yang masih betah melek memperhatikan keduanya. Ajeng dan Ruby begitu mirip, mereka adalah orang yang paling dekat, namun kadang serasa jauh. Mungkin karena Ajeng belum bisa membuka hatinya, membuatnya merasa ada yang berbeda.


"Maafin aku, Ajeng, sudah melibatkan perasaan yang awalnya aku sangkal. Nyatanya aku tidak bisa jauh maupun kehilangan kalian, aku mencintaimu dan anak kita," gumam Abi seraya membelai wajahnya.


Saat itulah Ruby terbangun dengan rengekan kecil. Melihat pergerakan Ajeng yang terusik karena tangisan Ruby, buru-buru Abi menarik tangannya dan pura-pura tertidur.


"Cup cup cup ... sayang, bunda di sini." Ajeng menenangkan, Ruby sepertinya haus dan harus minum ASI. Melihat Abi yang menutup matanya tertidur pulas, membuat Ajeng tidak berpikir panjang dan langsung mengASI Ruby tanpa memindah bayi mungil itu dulu.


Perempuan itu tengah fokus memberi ASI serta membuai putrinya agar lelap kembali. Tanpa diduga sama sekali, Abi membuka matanya yang jelas-jelas membuat ia mupeng sendiri melihat sumber kehidupan Ruby menjulang indah di depannya.


"Eh, kamu nggak tidur?" sentak Ajeng kaget hingga menarik dengan cepat dan mengamankan buah kenyalnya dari netra suaminya yang menatapnya tanpa berkedip. Ya, pria itu terciduk secara nyata. Tindakan spontan itu membuat Ruby jejeritan karena terlepas di saat belum kenyang.


"Us us ush ... sayang, dia mau lagi," ujar Abi ikut menenangkan.


Ajeng langsung menutup dadanya dan Ruby sekaligus dengan selimutnya sembari memberi ASI. Wajahnya muram, antara malu dan kesal. Rasanya begitu aneh, pria itu memang tidak berdosa jika melihatnya. Namun, seperti ada batasan yang tak boleh dilalui keduanya.


"Jangan gini, kasihan Ruby sumpek," ucap Abi hendak menarik selimutnya. Ajeng jelas menahannya, sumpah Demi apa, perempuan itu malu mengumbar di depan Abi.


Ajeng tidak menyahut, Kata-kata Abi memang benar, tetapi tentu saja itu tidak berlaku sekarang. Ajeng brlum yakin sepenuhnya dengan perasaannya sendiri maupun pria itu. Tidak munafik, dirinya bukan bocah kemarin sore yang tidak tahu hal begituan, namun, sungguh semuanya terasa belum jelas.


Keduanya kembali tertidur hingga pagi menyapa dan Abi sudah beralih mendekapnya. Apa ini cuma mimpi? Kenapa tetiba posisi tidur Ruby sudah di pinggir?


Ajeng menyingkirkan tangan suaminya yang memeluk dirinya. Tanpa diduga pria itu terjaga, hingga tak melepas sedikit pun tapi malah mengeratkan posesif.


"Mas, aku mau bangun, kamu memindah Ruby ke pinggir?" tuduh Ajeng sembari menyingkirkan tangan Abi yang enggan melepaskan.


"Semalam Ruby rewel, aku timang karena kamu nggak bangun, eh giliran mau aku taruh ke ranjang, kamu udah geser sendiri, ya udah aku taruh Ruby di dekat tembok," jelas Abi yang membuat Ajeng terdiam.


Semalam mungkin Ajeng terlalu lelah, hingga tak sadar kalau Ruby terbangun.

__ADS_1


"Kamu hubungi Hanan ya, kalau hari ini pindah," ucap Abi tak ingin menunda.


"Kenapa terburu-buru, aku harus meminta pendapatnya, sebaiknya kamu pulang dulu saja," ujar Ajeng tak ingin cepat-cepat.


"Setidaknya ketemu dulu dengan mama, biar kalian bisa saling mengenal," bujuk Abi pantang menyerah.


"Kenapa kamu jadi maksa, aku kan udah bilang, belum mengiyakan."


Kedatangan Anto ke rumah Ajeng siang itu jelas untuk urusan pekerjaan. Serta mengabari agenda sidang lanjutan perceraiannya.


Pria itu juga sedikit banyak ikut menyakinkan Ajeng tentang kasus Hanan yang tidak melibatkan Abi sama sekali.


"Kamu kan bekerja untuk tuanmu, jadi sangat mungkin hanya berbicara yang baik tentang dia," ujar Ajeng masih menyisakan kecurigaan yang mendalam.


"Sudah kubilang aku tidak setega itu, tolong percayalah, dan hari ini ikut aku ke rumah mama," mohon Abi yang membuat Ajeng begitu galau.


"Aku mau menunggu Hanan pulang, aku butuh pendapatnya," ujar Ajeng kebingungan. Keputusan Hanan sangat berpengaruh baginya.


"Baiklah, nanti aku jemput ulang, sekarang aku akan menyelesaikan urusanku terlebih dahulu," pamit Abi yang membuat Ajeng mengangguk lega. Tidak harus mengikutinya hari itu juga.


"Jaga Ruby baik-baik, aku akan segera kembali setelah urusanku selesai," pamit Abi mendekat. Untuk pertama kalinya, pria itu memberanikan diri mencium kening istrinya setelah mencium pipi gembul Ruby.


Interaksi tak biasa itu membuat Ajeng terdiam.


"Aku berangkat dulu, I love you istriku, mamanya Ruby yang cantik," ucapnya sembari beranjak.


.


Tbc


.

__ADS_1


Gaes sambil nunggu novel ini up mampir di karya temenku yuk ...!



__ADS_2