
"Udah nggak pa-pa!" ujar Ajeng menarik tangannya seraya mengipas-ngipas agar tidak terasa perih. Menjauh dari Abi lalu menuju ruang tengah di mana ia menyimpan plester.
Abi mengekornya, saat Ajeng duduk, pria itu ikut duduk di sampingnya.
"Sini aku bantu masangin," ujar pria itu perhatian.
"Nggak usah Mas, bisa," tolak Ajeng menjauhkan tangannya. Namun, pria yang masih berstatus suaminya itu menahan lutut istrinya agar tidak bergeser dan tetap menghadap dirinya.
"Cuma mau bantu ibunya Ruby, oke sayang," tekan pria itu menyakinkan.
Seketika Ajeng terdiam dengan wajah memanas, tertunduk malu lebih tepatnya. Perempuan itu membuka sela jarinya menurut agar mempermudah pria itu bekerja.
"Done, besok kalau pegang pisau hati-hati, tatap objeknya jangan natap aku, jadinya gini deh," seloroh pria itu masih menggenggam tangan Ajeng yang terasa dingin lalu mengecup jemarinya yang sakit.
"Siapa yang natap kamu, ge-er!" sahut Ajeng merubah posisinya menyamping. Tentu saja dengan jantung jedag jedug dan pipi merah jambu yang terasa terbakar.
"Nggak usah diterusin ya, buat besok aja sarapan, sekarang kita delivery aja," ujar pria itu seraya mengelus puncak kepalanya yang masih berbalut handuk.
Ajeng tidak menyahut, memilih beranjak dari sana lalu menuju kamar. Melihat Ruby yang masih lelap dan cukup aman.
"Kamu mau makan apa?" tanya Abi menyusul ke kamar.
Ajeng tengah melepas handuk di kepalanya lalu hendak menyisir.
"Apa aja terserah," jawab perempuan itu menoleh.
"Disamain kaya aku aja ya?" ujar pria itu mulai memesan di applikasi. Setelah beres, menaruh ponselnya di meja lalu kembali mendekati istrinya yang tengah sibuk di depan cermin.
"Sini aku bantu," ujar pria itu lagi-lagi bersikap manis melebihi gulali yang tentu saja membuat Ajeng sedikit grogi, bukan sedikit tetapi benar-benar nervous.
__ADS_1
"Nggak usah, kamu kenapa ngikutin aku terus sih, sana pulang aja," usir Ajeng pada akhirnya. Merasa tak tenang dengn jantungnya sendiri.
"Jangan mengusirku, aku cuma mau bantu, mulai sekarang harus terbiasa dengan kehadiran aku, karena akan selalu seperti ini."
"Maksudnya?" Perempuan itu harusnya jangan sok kaget, cukup jelas Abi ingin menjadikan istri yang sesungguhnya.
Tetapi bagi Ajeng, pura-pura kaget dan benar-benar belum yakin untuk menutupi kegugupan hatinya.
"Aku kan udah bilang Ajeng, ingin mengesahkan pernikahan kita secara negara, untuk keperluan buat akte Ruby juga, biar ini menjadi urusanku," ucap Abi meyakinkan.
"Aku belum menjawab, kenapa kamu sudah berspekulasi dengan keputusanmu."
"Karena aku tidak mau pisah, jadi cuma ada jalan kita menyatu dalam ikatan pernikahan yang sesungguhnya," jelas Abi cukup kuat.
"Aku belum mau bahas ini sebelum semuanya jelas," jawab Ajeng makin galau saja.
Rupanya pria yang selalu terlihat dominan dan cukup kaku itu benar-benar pantang menyerah. Membuat Ajeng benar-benar bimbang dengan perasaannya. Bagaimana dengan Denis? Jujur Ajeng tidak sanggup menyakiti pria sebaik dan sesabar Denis. Sejauh mengenal, bahkan hanya ada kenangan manis, bagaimana bisa ia abai begitu saja.
"Maaf, Mas, aku belum bisa bahas ini sekarang," kata perempuan itu tertunduk bingung.
"Iya nggak pa-pa nggak sekarang, bisa besok juga," jawab Abi sembari meraih sisir di tangan Ajeng.
Pria itu mulai merapikan mahkota istrinya yang bahkan dengan perempuannya yang dulu lima tahun bersama hampir belum pernah.
"Rambut kamu indah, sepertinya nurun ke Ruby, anak kita juga gini, 'kan?" ujar Abi dengan akrabnya. Tangannya bekerja mulutnya terus mengoceh, kadang memuji.
Ajeng hanya diam menurut bak boneka, diperhatikan terus itu bikin baper, tetapi itu tidak begitu berlaku dengan Ajeng. Nyatanya ia malah takut dengan perasaannya sendiri jika menjatuhkan pilihan yang salah.
Cover pria itu yang pertama bahkan masih begitu melekat di hati. Bagaimana pria itu memperlakukan dirinya waktu itu dengan mulut yang tak pernah absen dari rasa nyeri bila mendengar. Ajeng belum lupa, dan entah mengapa perangai itu yang membuat Ajeng takut, suaminya penuh misteri.
__ADS_1
Walaupun sekarang begitu manis dan romantis, bukan tidak mungkin pria itu akan melakukan hal yang sama jika istrinya melakukan kesalahan. Hati manusia sungguh susah diselami, yang nampak kadang tak sesuai realita yang sesungguhnya.
Kecanggungan keduanya terjeda lantaran ada sebuah ketukan pintu. Yang diduga Abang kurir pengantar makanan.
"Terima kasih, Mas," jawab pria itu setelah melakukan pembayaran.
Abi memesan ayam kalasan beserta pelengkapnya. Pria itu menaruhnya di meja makan lalu kembali ke kamar memanggil istrinya yang ternyata tengah sibuk melakukan panggilan.
Cukup jelas dengan percakapan Ajeng yang sengaja menghindari dirinya. Pria disebrang sana pasti Denis yang saat ini menjadi rival cukup alot di sekitar hubungannya.
Jelas saja kondisi itu membuat Abi cemburu dan sengaja mendekat agar Ajeng menyudahi obrolannya karena harus makan juga.
"Ayo makan, pesanannya sudah datang," ajak Abi dengan raut muka sedikit berubah.
Ajeng mengangguk, buru-buru menutup teleponnya dan pamit dengan salam bernada lembut. Sungguh hati Abi panas, apakah setiap malam saat dirinya tidak berkunjung mereka selalu berbagi kabar mesra, kenapa ini terasa sakit?
Pria itu keluar lebih dulu dengan muka mendung, duduk termenung di meja makan dekat ruang tengah yang menjadi satu ruangan. Sementara Ajeng ke dapur mengambil dua piring. Suasana menjadi sedikit berbeda karena pria itu hanya diam sambil mengontrol hatinya.
"Makan Mas, kenapa diam?" Ajeng menginterupsi suaminya yang malah melamun setelah menu tersaji di hadapannya.
"Apa pria itu setiap hari datang, setiap hari menelponmu?" tanya Abi dengan topik lain. Hatinya tidak tenang terlampau cemburu dan takut akan kehilangannya.
"Kadang-kadang saja," jawab Ajeng jujur. Mereka mempunyai kesibukan masing-masing yang tidak memungkinkan untuk berkunjung sesuai tuduhan Abi.
"Besok kita pindah ya? Sambil menunggu keputusan final sidangku, supaya aku lebih dekat dengan Ruby," ujar pria itu mulai menyantap makanannya dalam diam.
.
Tbc
__ADS_1
Teman-teman sambil nunggu novel ini up bisa mampir ke karya temanku di bawah ini