
"Sebelumnya kamu kenal?" tanya Ajeng pada adiknya. Mereka tengah dalam perjalanan pulang masih di dalam mobil.
"Baru pertama ketemu, gimana Kak?" saut Hanan meminta pendapat.
"Kenalan dulu nggak pa-pa, lebih dekat, siapa tahu jodoh," ujar Abi menyahut sembari fokus menyetir.
Ruby dalam pangkuan ibunya, gadis kecil itu masih setengah lesu karena bangun tidur. Rasanya Ajeng begitu lega bisa memeluk putrinya kembali. Tiada hal yang lebih berharga di dunia ini selain putrinya yang paling ia sayang.
"Sepertinya dia gadis yang baik, Ruby aja mau sama dia, padahal baru ketemu," ujar Ajeng menimbang-nimbang.
Perempuan itu akan merasa senang jika Hanan menikah nanti. Adiknya tak sendiri lagi dan pastinya ada yang mengurusi.
Mobil melaju menuju kediaman Abi. Bu Warsa sudah menunggu di depan pintu siap menyambut cucunya dengan suka cita. Nenek dari satu cucu itu langsung memeluk Ruby dengan haru. Bersyukur sekali Ruby kembali dengan utuh tanpa kurang suatu apa apun.
"Oma ...," celetuk Ruby menanggapi neneknya. Ruby tersenyum melihat berapa mertuanya begitu menyayangi putrinya.
Hanan ikut masuk menyapa Bu Warsa lebih dulu. Pria itu akan menginap untuk dua hari ini. Mengenai masalahnya yang mendadak ada, nanti akan dimusyawarahkan bagaimana baiknya saja.
"Nan, mari kakak tunjukkan kamar kamu," ujar Ajeng mempersilahkan adiknya menempati ruang kamar.
Hanan mengikuti, sebelum beranjak memastikan terlebih dahulu pada kakaknya.
"Kak, aku mau mengikuti pendapat kakak, aku bingung," ujar Hanan mendadak dirundung galau.
"Sholat istikharah ya, biar hati kamu tenang," saran Ajeng pada sang adik. Lalu keluar sembari menutup pintu.
Ajeng menyambangi Ruby yang masih dalam pangkuan neneknya. Perempuan itu mendekat, sontak saja Ruby kecil langsung berpindah posisi. Mungkin merasa kangen di antara keduanya. Ruby yang biasanya nampak aktif terdiam saja dalam pangkuan.
"Sayang, Ruby mau apa?" tawar Ajeng memeluk lembut.
__ADS_1
Bocah kecil itu diam saja, sedikit panas hingga membuat Ajeng khawatir. Ibu dari satu anak itu merasa putrinya tidak seaktif biasanya, atau mungkin merasa takut sehingga tidak mau lepas dari gendongan.
Ajeng pun membawa ke kamar, merebahkan putrinya di ranjang. Makin malam panas Ruby bertambah, Ajeng berinisiatif mengompresnya.
"Masih panas? Ke dokter aja ya," ujar Abi khawatir.
"Nunggu dulu Mas, kalau besok pagi panasnya tak kunjung reda apa boleh buat," sahut perempuan itu mencoba alternatif alami dulu.
Mungkin juga Ruby lelah, mengingat hampir dua hari hilang tidak tahu apa saja yang gadis kecil itu lakukan tanpa pengawasan. Ajeng juga tidak tahu apa saja yang Vivi lakukan terhadap putrinya. Beruntung tidak ada luka fisik yang kentara di tubuh Ruby saat gadis kecil itu diganti pakaiannya.
Malamnya panas Ruby tak kunjung turun, selain rewel gadis mungil itu tertidur dengan gelisah dan terkaget-kaget. Hingga pagi-pagi sekali Ajeng membawa putrinya ke dokter anak.
Tidak ada indikasi penyakit yang serius. Namun, mungkin efek kaget dan lelah membuat balita itu juga merasa tidak enak badan. Setelah meminum obat, beruntung siangnya sudah kembali ceria dan bisa main lagi.
Ajeng pun banyak meluangkan waktunya untuk putrinya. Ia kadang merasa khawatir walau hanya bepergian ke luar selain dengan suaminya.
"Nggak usah ke kantor nggak pa-pa, nanti aku makan di luar. Aku berangkat dulu ya," pamit Abi pagi itu.
Perempuan itu langsung masuk begitu mobil yang membawa suaminya melaju.
Semenjak kejadian itu, Ruby selalu dalam pengawasannya. Bahkan Ajeng tidak memakai jasa pengasuh mengingat kejadian sebelumnya mempercayakan pada orang dan masih sedikit trauma.
Abi pun mengikuti kenyamanan istrinya. Pria itu juga lebih banyak menghabiskan waktu di rumah jika tengah libur. Keluar kota atau ke mana pun bila memungkinkan Abi membawa serta anak dan istrinya.
Seiring berjalannya waktu mulai kondusif lagi. Ajeng tak separnoan dulu. Ajeng juga mulai berani lagi membawa Ruby keluar. Hanya sekedar bermain yang sebentar lagi akan masuk ke dunia play grup.
"Papa pulang ...!" seru Abi begitu masuk rumah.
Pria itu membawa buah tangan sembari menyambut Ruby yang tengah main.
__ADS_1
"Sudah pulang?" sambut perempuan itu sumringah mendapati suaminya sampai rumah. Ajeng membantu suaminya membawa tas kerjanya sembari menggendong Ruby. Menyuruhnya duduk di bibir ranjang.
"Ada apa ini, kok tumben manja gini?" tanya pria itu sedikit heran saat istrinya langsung menariknya ke kamar.
"Aku punya sesuatu untukmu, Mas," ujar perempuan itu beranjak. Setelah lebih dulu menaruh Ruby dalam pangkuan ayahnya. Mengambil sebuah kotak persegi panjang lalu memberikannya pada sang suami.
"Apa ini?" tanya Abi memperhatikan kotak hadiah di tangannya.
"Buka dong," ujar perempuan itu tersenyum sumringah.
Abi pun membukanya, wajahnya langsung tersenyum bahagia mengetahui kalau Ruby akan segera punya adik.
"Ini beneran?" tanya pria itu tersenyum haru.
Ajeng mengangguk, balas tersenyum. Abi langsung menariknya dalam pelukan. Bahagia untuk keduanya, dan keluarga mereka.
"Alhamdulillah ... terima kasih sayang, semoga sehat selalu, sampai nanti pada saatnya berkumpul menyambut kelahirannya."
"Aamiin ... terima kasih Mas, doa baik kembali pada kamu, kita semua. Semoga keluarga ini selalu bahagia dalam lindungan-Nya."
"Aamiin!"
.
TAMAT
.
Hallo gaes ... akhirnya telah sampai di penghujung cerita. Terima kasih yang sudah mengikuti sampai end. Nantikan karya author terbaru di judul berbeda yang tak kalah seru.
__ADS_1
Launching tanggal 1 Januari 2023. Pastikan mengikuti akunku agar menerima pemberitahuan up date terbaru. 🙏🙏