
"Jaga dirimu baik-baik, Nan, kakak pasti akan sangat merindukanmu. Jangan lupa kasih kabar, jangan telat makan," pesan Ajeng menjelang pamit.
Perempuan itu jelas merasa berat meninggalkan Hanan sendirian di Bandung. Hatinya diliputi rasa khawatir yang dalam mengingat pemuda itu sering mengabaikan urusan perutnya.
"Jangan khawatir, dulu juga biasa mandiri 'kan waktu ditinggal kakak, padahal usiaku jauh lebih muda. Sekarang aku udah dewasa dan bentar lagi cari istri. Hehehe."
"Kamu benar, jaga hati, jaga sikap, jaga iman dan semuanya yang ada padamu. Jika kabar itu tiba, jangan lupa membagi kebahagiaan itu pada kakak, satu lagi sering-sering berkabar dan wajib banget liburan jengukin aku dan Ruby."
Hanan terkekeh, rupanya banyak sekali wejangan yang tentu saja berbentuk perhatian. Membuat keduanya kembali berhambur dalam pelukan.
"Titip ya Mas Abi, titip dua bidadari cantikku," kata pria itu lalu berjongkok mencium Ruby. Bocah kecil itu nampak mengerti kalau dirinya hendak berpisah. Tak beranjak menjauh darinya sedari tadi.
"Siap, hati-hati ya Nan. Mas tunggu di Jakarta, kami pamit," ucap pria itu lalu beranjak.
Memasukkan koper ke bagasi mobil, mereka pulang dengan Pras sebagai driver. Ketiganya duduk di jok belakang saling menemani.
"Sini Ruby sama papa, kasihan mama capek pangku terus." Abi mengambil alih Ruby dari pangkuan istrinya. Putri kecilnya itu sudah terkantuk-kantuk masih setengah perjalanan.
Ajeng sedikit rileks, menyenderkan punggungnya pada sandaran jok. Melihat Ajeng yang nampak lelah dan mengantuk, membuat Abi memposisikan kepala istrinya agar menyender pada pundaknya.
"Gini lebih nyaman Sayang, tudurlah, nanti aku bangunin kalau udah sampai," ujar Abi super perhatian dan pengertian.
Setelah perjalanan kurang lebih dua jam lewat beberapa menit, akhirnya sampai juga di kediaman Bu Warsa. Perempuan itu sudah menunggu kedatangan anak dan menantu serta cucunya dengan penuh antusias.
"Sayang, udah sampai ayo turun!" titah Abi keluar lebih dulu sembari menggendong Ruby, lalu membukakan pintu untuk istrinya.
"Mama nyuruh kita tinggal beberapa hari di sini, pengen deket sama Ruby, nggak pa-pa kan? Nanti baru pindah ke rumah kita."
"Nggak pa-pa Mas, di mana aja," jawab Ajeng tidak mempermasalahkan hal itu. Toh Bu Warsa terlihat begitu penyayang, apalagi dengan Ruby.
"Assalamu'alaikum ...." Suara Abi dan Ajeng menyeru salam.
__ADS_1
"Waalaikumsalam ... alhamdulillah sudah sampai, selamat datang di rumah eyang Ruby. Sini sama eyang sayang." Ruby nampak anteng dalam gendongan ayahnya. Enggan beranjak ketika neneknya mengajaknya.
"Masih asing tempatnya Ma, pelan-pelan saja nanti juga pasti mau turun. Pertama aku datang juga nggak mau, nggak kenal," curhat Abi sembari menuntun istrinya masuk.
Abi langsung membawanya ke kamar yang cukup luas. Kamar Abi ketika pria itu tengah pulang ke rumah orang tuanya, dan sewaktu sakit menjadi tempat tinggalnya hingga kemarin.
Nyonya Warsa juga nampak bahagia apabila Abi dan istrinya mau tinggal di rumahnya. Apalagi ada Ruby yang akan mengisi keramaian hari-hari mereka.
"Papa, tulun," pinta putri kecilnya mulai tidak betah dalam gendongan.
"Nah kan, bentar aja pasti Ruby makin akrab, semoga betah," ucap Abi tersenyum.
Bu Warsa nampak mendekati cucunya, perempuan yang tak lagi muda itu bahkan sudah menyiapkan kamar khusus untuk cucu kesayangannya itu beserta banyak mainan yang akan membuat bocah itu betah berlama-lama di dalamnya.
"Ini kamar kita, kamu boleh naruh pakaian kamu di lemari sebelah itu," tunjuk Abi bersebalahan dengan pakaian miliknya.
"Iya Mas," jawab Ajeng paham.
"Kamu istirahat saja, pasti capek kan habis perjalanan. Atau mau mandi dulu, silahkan!"
Abi tersenyum mendekat, rasanya bahagia hari ini bisa membawa pulang istri dan anaknya yang memang sudah begitu lama pria itu rindukan.
"Bersyukur banget hari ini kita benar-benar udah di sini, masih kaya mimpi. Terima kasih sudah memberikan kesempatan kedua untukku. Aku mencintaimu, Ajeng," ucap Abi menatap dalam.
Perempuan itu jelas gugup, lidahnya mendadak kelu untuk menjawab pernyataan itu. Ia jelas gugup, apalagi Abi menatapnya lekat, mengelus pipinya lembut, hingga membuat perempuan itu bingung sendiri.
Ajeng tidak mempunyai pengalaman apa pun sebelumnya, jelas perasaan itu belum sepenuhnya tumbuh, walau sudah bersemayam sejak lama, hingga membuatnya merasa terluka kalau suaminya menghilang tanpa kabar.
"Aku mandi dulu Mas," pamit Ajeng menghindari pertemuan bibir mereka. Mendadak Ajeng begitu gugup dan deg degan.
"Oke," jawab Abi cukup maklum.
__ADS_1
Usai bersih-bersih dan beristirahat sejenak, mereka bergabung di meja makan. Di rumah mertuanya apa-apa serba dilayani pembantu jadi membuat Ajeng tidak punya banyak kegiatan, atau masih bingung dan canggung tentunya.
Selesai makan malam, nampak Ajeng masih berbincang hangat dengan mertuanya. Bagaimana Bu Warsa sangat menyukai pribadi Ajeng yang lembut.
"Ma, kita istirahat dulu ya," pamit Abi dengan sengaja.
"Eh, udah ngantuk ya, silahkan beristirahat sayang!" seru Bu Warsa nampak paham.
Ajeng sungguh tidak enak, suaminya itu kenapa jam segini meminta tidur.
"Mas, Ruby masih di luar. Nanti ngrepotin mama." Ajeng merasa tak enak hati.
"Nggak pa-pa, mama sendiri yang minta, katanya biar tidur sama eyangnya."
"Ish ... nanti kalau tiba-tiba rewel gimana? Kasihan."
"Kamu yang tenang ya Sayang, sepertinya mama sengaja deh, memberikan kesempatan untuk kita berdua."
"Kesempatan apa?" tanya Ajeng belum ngeh.
"Ya ... biar kita fokus menjalankan ibadah, hehe." Abi tersenyum penuh arti seketika perempuan itu baru paham.
Entah mengapa pipi Ajeng mendadak memanas, suaminya itu pria dewasa yang paham dan khatam. Sudah barang tentu ia tak sabar untuk menunggu lebih lama lagi.
"Aku ke kamar mandi dulu," pamit Ajeng sedikit gugup.
.
Tbc
.
__ADS_1
Sambil nunggu novel ini up, mampir di karya temenku yuk!