
Ajeng cukup lama di kamar mandi dengan perasaan deg degan. Antara ragu ingin keluar, tetapi tidak mungkin juga terus berada di dalam. Setelah mengatur napasnya dengan perasaan tak karuan, ia pun membuka pintunya dengan perlahan. Lengkap dengan gaun malam yang lumayan aduhai.
"Udah?" tanya Abi tersenyum menatapnya yang berdiri tepat di samping ranjang. Pria itu langsung menutup macbook di tangannya lalu berdiri turun dari ranjang. Membimbing istrinya agar mendekat.
"Wangi banget, sini sayang," ucap pria itu membawa tubuh kekasihnya dalam dekapan menuju peraduan terkasih mereka.
"Hmm ...." Ajeng nampak ingin mengucapkan sesuatu. Namun, sepertinya ia malu hingga terdiam dengan wajah bersemu.
"Kenapa Sayang? Aku boleh kan malam ini?"
Ajeng mengangguk canggung, namun ia menahannya saat Abi mendekati lebih rapat.
"Ada apa, hmm?" bisiknya yang seketika membuat kulit Ajeng meremang.
"Pintunya belum dikunci, yakin?" ucap perempuan itu hingga seketika membuat Abi tersenyum.
"Takut ketahuan ya, aku lupa sayang," jawab Abi memberi jarak, lalu berjalan cepat mengunci pintu kamarnya.
Pria itu kembali ke ranjang, berjongkok menghadap Ajeng yang tengah duduk di bibir ranjang memperhatikan setiap gerakannya.
"Udah, aman," ujar pria itu sembari tersenyum nakal.
__ADS_1
"Bisa dimulai?" tanya pria itu meyakinkan istrinya yang nampak gugup.
Ajeng mengangguk malu. Abi sangat maklum mengingat ini perdana untuk istrinya walaupun pernah melahirkan seorang anak untuknya. Pria itu akan mengawalinya dengan lembut.
"Rileks aja sayang, nggak pa-pa kok, mungkin awalnya ada sakit-sakitnya, tapi nanti bakalan candu," bisik pria itu sembari mengelus pipinya.
"Aku takut, maaf kalau masih kaku," jawab Ajeng dengan polosnya.
Abi tersenyum sembari membuka gaun malam yang menutupi kemolekan tubuhnya. Kedua netranya mengunci dalam tatapan, hingga tanpa sadar saling menyapa dengan penuh damba.
Manis, saat pertama kalinya bermuara di sana. Mencecap lembut, memberikan efek yang berbeda bagai terserang kupu-kupu di sekujur tubuhnya. Ajeng memang awam, bahkan terlampau polos untuk hal seintim ini. Sentuhan pertama yang membuatnya akan terkesan, karena Abi benar-benar memulainya dengan penuh kelembutan. Mengoperasikan pujaan hatinya hingga di menit berikutnya, Ajeng mulai membalas dengan gaya amatir.
Kendati demikian, instingnya yang kuat mampu memberikan petunjuk jalan sesuai naluriah alam bawah sadarnya. Benar-benar sesuatu yang baru untuk perempuan dua puluh lima tahun itu.
"Keluarkan saja sayang, jangan ditahan, kamu akan merasakan lebih rileks dan enjoy. Jangan khawatir, ruangan ini kedap suara," bisik Abi menyakinkan.
Ajeng merespon dengan anggukan kepala. Netranya terpejam, menikmati setiap jemari nakal suaminya yang bergerak liar dan cukup berani. Hingga dalam sekejab, mampu melambungkan angan yang menggelora.
Abi bukan pemain baru, tentu saja ia mahir membuat gadisnya pasrah dalam buaian yang memanjakan, lagi melenakan hingga membuat wanitanya begitu menginginkan.
Ia paham betul dan tersenyum bahagia saat melihat istrinya bahkan terlampaui siap menerima hujaman cinta darinya.
__ADS_1
Ajeng jelas kaget, ia tidak menyangka rasanya akan sesakit ini hingga membuatnya bergerak gelisah mencari tumpuan. Pria itu membimbingnya perlahan, menenangkan sembari menyatukan jemari cinta mereka bertaut menjadi satu.
Dicium kembali keningnya lembut dan lama, terus kembali menyatukan bibirnya yang ranum. Mengajaknya berfantasi bersama dalam kenyataan yang sesungguhnya.
Berkali-kali perempuan itu merintih, hingga membuat Abi begitu pelan, namun pasti sampai tujuan. Pria itu sudah lama absen, tentu saja kegiatan tersebut begitu dinantikan. Sebagai pria normal, ia merampungkan misi malam ini dengan begitu epic nan elegan. Mengingat Ajeng masih perdana, ia memaklumi dengan menjedanya untuk sesi pertama yang berakhir penuh kenikmatan.
"Sakit?" tanya pria itu masih belum beranjak. Rasanya begitu lega bisa memiliki istrinya seutuhnya.
"Nggak," jawab Ajeng jelas berbohong. Bahkan sengaja menatap arah lain saat Abi menggodanya dengan lembut.
"Beneran? Kalau gitu boleh berarti nanti lagi. Kan nggak sakit?" bisik pria itu tersenyum sembari memeluknya dari samping.
"Apaan sih," jawab Ajeng malu-malu.
Perempuan itu beranjak turun dari kasur dengan wajah meringis menahan sakit. Membuat Abi tersenyum nakal melihatnya.
"Duh ... mamanya Ruby nggak pinter bohong nih, jalan aja kesulitan bilangnya nggak sakit."
"Apa sih Mas, permisi, aku mau kamar mandi," tolak Ajeng saat Abi mendekat bahkan menawari bantuan ke kamar mandi.
Perempuan itu jelas saja malu, namun sepertinya suaminya tak mau tahu. Dengan gaya tanggung jawabnya, membuat tubuh itu melayang dalam dekapan. Abi menggendongnya tanpa persetujuan istrinya sekalipun.
__ADS_1
"Nggak usah malu sayang, kita udah punya anak loh. Lucu nggak sih kalau kamu masih anti melihat tubuhku."
"Nggak tahu ah, turunin!" ucap Ajeng sembari menyembunyikan wajahnya di dadanya. Rasanya bayangan sekelebatan tentang pergulatan panas mereka membuatnya benar-benar merasa menjadi istri yang sesungguhnya.