Raja Kampus

Raja Kampus
Sang Bidadari


__ADS_3

“Hallo adik kecil!” sapa Bos Gondrong mendekati anak kecil yang sedang duduk sendirian di pinggir jalan,


“Jangan takut, om orang baik kok.” Ia mencoba menangkan bocil itu “Kamu lagi butuh uang ya?” tanyanya.


Bocil itu mengangguk “Gimana kalo kamu kerja saja sama om. Bayarannya gede.. dan kamu juga dapat makan.” rayunya.


“Kerja apa?” bocil itu memberanikan diri untuk bertanya.


“Gimana kalo kamu ikut om dulu, biar tau apa pekerjaannya. Di sana jug ada banyak teman-temanmu.” Bocil itu pun menurutinya meski takut karena ia butuh uang untuk ibunya.


Bos Gondrong itu pun menunjukkan bascamenya. Kini bisnisnya tak lagi hanya merekrut para preman jalanan namun juga anak-anak untuk dijadikan pengemis di jalanan. Sudah ada sekitar 20 anak yang berhasil ia rekrut. Sebagian besar dari mereka tidak punya orang tua tapi ada juga yang punya orang tua.


“Mengemis?” tanya bocil itu ketika melihat tampilan teman-temannya yang seperti pengemis.


“Iya.. jadi kamu cukup memelas pada orang-orang di jalan terus dapat uang deh.” jelas Bos Gondrong.


“Tapi kata ibu, kita tidak boleh mengemis.” ucap polos bocil itu.


“Ibu kan nggak tau. Ya.. kamu jangan bilang sama dia. Bilang aja dari hasil kerja mulung.”


“Tapi berbohong itu nggak baik om.” ucapnya lagi.


“Pinter juga nih bocil.” ucap Bos Gondrong dalam hati.


“Tapi bohongnya kan demi pengobatan ibu kamu.”


“Oh.. begitu ya om.”


“Iya.. jadi gimana?” tanya Bos Gondrong sekali lagi.


“Oke om, tapi om juga harus janji jangan bilang ibu ya..” bocil itu mengacungkan kelingkingnya sebagai tanda perjanjian.


“Janji.”


Dari kejauhan Jack tertawa melihat bosnya yang biasanya sangar menjadi lemah lembut. Tapi tawa itu berhenti saat mata tajam bosnya menatap Jack dengan tajam.


*********


“Oke, sekarang kita bagi tugas ya..! Aku dan Reno yang bagian angkat-angkat barang. Maya yang lukis. Gimana?”


“Oke.” jawab Maya semangat.


“Yuk kita jargon dulu biar tambah semangat. Kalo aku bilang “Bakso Anak Babe!” kalian jawabnya.. Makkyoosss!!” oke?”


Satu.. dua.. tiga..


"BAKSO BABEE!!"


"MAKNYOOOSSS!!" ucap mereka kompak.


Setelah jargon mereka langsung mengerjakan jobnya masing-masing. Maya mengambil alat lukisnya, Reno mulai mengangkat kursi dan meja yang ada di dalam agar dapat dibersihkan. Sedangkan Sada mulai merenovasi gerobaknya.


Sebelum melukis Maya memandangi dinding putih polos untuk mengumpulkan ide. Baru ia mulai menjalankan kuas ajaibnya dengan perlahan membentuk sebuah gambar tiga dimensi. Ia lebih menonjolkan lukisannya seperti di alam terbuka. Ada pohon, beberapa binatang, dan sungai.


"Awas." dengan gercep Reno menangkap Maya yang terjatuh dari tangga.


Mata mereka berdua bertemu satu sama lain seperti saling menghipnotis hingga..


"Ekhem.." seorang pria datang membubarkan lamunan mereka.

__ADS_1


"Kami ngapain di sini?" Tanya pria itu yang tak lain Ardi.


"Terserah Maya lah.. mau di sana atau di sini." jawab Maya ketus.


"Hai May." sapa seorang wanita cantik yang tak lain Dian langsung memeluk Maya.


"May ini Bu Dian yang punya warung ini sekaligus calon Pak Ardi." Sada memperkenalkan tapi itu sudah basi bagi Maya karena pastinya dia lebih kenal dulu.


"Ohh.." ucap Maya.


"Kita sudah kenal kok Sad, kan Maya adiknya Ardi." Penjelasan Dian membuat Sada terkejut.


"Beneran? Demi apa? Kok beda jauhh??" Sada tak percaya karena mereka berdua bagaikan langit dan bumi. Maya terlihat cupu dan Ardi terlihat sangat tampan.


"Kenapa kamu berpenampilan gini May?" tanya Dian.


"Gapapa sih mbak." jawabnya.


"Coba kamu sini May." Sada menarik Maya agar di dekat Ardi untuk lebih mudah melihat kemiripan mereka berdua.


"Gue bukan adik kandungannya, jadi sampai kapan pun ya gue nggak bakal mirip." jelasnya.


"Terus?"


"Kita sepupuan."


"Tapi setidaknya, meski sepupu ada miripnya dikit lah. Satu tampan satunya cantik." ucap Sada.


"Jadi Lo kira gue nggak cantik?!" tanya Maya dengan nada naik.


"Cantik kok Cantik." ucap Sada takut Maya marah.


"Lihat saja nanti. Lo bakal klepek-klepek sama gue." tegas Maya langsung pergi.


"Pak bantuin saya dong. Haduh ini terus yang lanjutin lukisannya siapa." Ardi hanya mengangkat kedua bahunya pertanda dia nggak ikut campur. Sada bingung mana lukisannya masih belum selesai pula.


"Ren.. bantuin dong! Bujuk Maya lagi." Kali ini ia memohon pada Reno.


"Nggak." tolak Reno.


"Ayolah Ren, kamu kan sohibku." ucap Sada penuh dengan wajah melas.


"Nggak."


"Aku naikin dua kali lipat deh gajimu." ucap Sada.


"5 kali lipat." ucap Sada.


"Yahh.. rugi di aku nanti."


"3 kali lipat deh." tawar Sada.


"Oke. Deal." Reno sepakat membantu Sada buat bujuk Maya.


"Parah kamu memang Sad." ucap Ardi sambil menggeleng-geleng.


"Ya saya tadi cuman bercanda pak."


"Hahaha..."

__ADS_1


Reno menyusul Maya, ternyata Maya menuju mall untuk merubah tampilannya. Reno hanya diam dan terus mengikuti Maya.


"Mbak saya pilih baju ini sama ini ya." ucapnya memberikan baju pada tukang kasirnya.


"Berapa?"


"1.5 juta." jawab penjaga kasir itu.


Reno yang mendengarnya hanya menelan ludah. Uang sebanyak itu bisa buat hidupnya selama 1 bulan lebih.


"Yah.. tas gue ketinggalan di warung." Maya lupa tidak membawa tas.


Akhirnya ia celingukan tak sengaja melihat Reno yang langsung membalikkan muka. Tapi wajahnya udah terlanjur diketahui oleh Maya.


"Ren, Lo masih bawa uang sisa belanja tadi kan?" tanya Maya.


"Nggak." jawab Reno berbohong.


Maya melihat satu celana Reno yang tebal langsung mengambil semua uangnya "Pinjam, nanti gue ganti." ujarnya langsung pergi membawa uang itu ke kasir.


"Woi!! tapi itu.." sebelum menyelesaikan ucapannya Maya langsung menarik tangan Reno untuk diajak pergi menuju tempat langganannya.


"Mbak, saya mau makeup seperti ini." Maya menunjukkan foto artis yang memiliki makeup tipis tapi tetap terlihat cantik.


Setelah menunggu 1 jam, Maya keluar dari kandangnya.. dan dia seperti..


"Apa ini yang namanya bidadari surga turun?" ucap Reno takjub melihat kecantikan Maya.


"Gimana?" tanyanya pada Reno.


"Sangat cantik." ucapnya tanpa sadar.


"Nahh... sudah gue duga. Lo aja sampai bengong lihat kecantikan gue." ucapnya.


"Hah? Nggak. Masih cantikan nyokap gue di kampung." ucap Reno berbohong tapi Maya tak percaya.


Kini mereka balik ke tempat asal mereka, yakni warung bakso Anak Babe. Setiap orang yang melihat Maya menatap tak biasa terutama kaum hawa. Reno langsung melepaskan jaketnya dan meminta Maya untuk memakainya.


"Ren.. Lo dari mana aja sih? Gue butuh duit. Catnya kurang." Ucap Sada.


"Anu Sad.. uangnya itu dipakai itu.." Reno menunjuk Maya yang berjalan ke arah mereka.


Sada sangat tertegun dengan tampilan Maya yang berubah 180 derajat "Apakah ini jodoh yang dikirimkan Tuhan untukku?" tanya Sada.


"Ngawur." ucap Maya membuyarkan lamunan Sada.


"Beneran Maya?" tanya Sada masih tak berkedip.


"Iya. Gimana? Cantikkan?"


"Iya, sangat cantik." jawab Sada spontan.


"Tadi katanya nggak." ucap Maya.


"Tadi salah ucap."


"Woi.. tadi katanya nanya uang. Tuh ada di dia. Minta aja sama dia." ucap Reno.


"Maksudnya?" Sada tak paham.

__ADS_1


"Yah.. uangnya dipakai Maya ke mall dan ke salon."


Sada langsung menepuk jidatnya karena pusing.. bingung harus berkata apa.


__ADS_2