
Hari ini Alvin tidak datang ke kampus karena harus mengikuti perlombaan karate. Bima dan Rio berleha-leha sambil bermain game di basecamp mereka karena bingung harus melakukan apa.
“Minggir!” ucap salah seorang cowok yang mengusir dengan keras beberapa orang yang sedang duduk di kantin.
Setelah mereka pergi, cowok itu memanggil teman-temannya untuk duduk bersamanya. Mereka terlihat seperti mahasiswa baru.
“Perhatian semua. Kenalkan ini Doni, ketua Genk Macan yang akan menjadi Raja kampus!” teriak salah satu antek-anteknya.
“Paling-paling nanti dibantai genk serigala.” celetuk seseorang.
Plakkk… seketika orang itu langsung ditampar oleh Doni hingga pingsan.
“Woiii apa-apaan lo, anak baru saja songong!” Bentak seorang senior yang ada di sana.
“Apa lo?! sini maju kalo berani!” tantang Doni.
Cowok itu pun bernasib sama seperti yang sebelumnya. Doni semakin menjadi-jadi menantang semua orang yang ada di sana. Ia juga meminta yang di sana untuk memanggil geng serigala untuk dihabisi sekalian.
Di basecamp seorang memanggil Bima dan Rio mengadukan yang terjadi di kantin. Bima dan Rio yang naik darah pun langsung ikut pergi bersama cowok tadi.
“Siapa yang nantang Genk Serigala?!” Bentak Bima.
“Gue.” ucap Doni santai sambil makan.
“Oh lo, lama nggak ketemu.” ucap Rio yang sudah kenal dengan lawannya “Berani juga nyali lo datang ke kampus ini lagi.” lanjutnya mengejek.
Doni merupakan mahasiswa baru yang pindah karena di usir oleh pihak kampus akibat ulah Alvin dkk. Kesalahan Doni hanya mencintai Kirana dan ingin memiliki dia itu saja tapi Alvin dkk malah menganggapnya sebagai seorang penjahat yang menyakiti Kirana. Dulu Kirana adalah cewek yang polos dan baik, di manapun Alvin pergi pasti ada Kirana bagi yang tak mengerti mereka pasti menganggap bahwa Kirana adalah pacar Alvin. Namun pada kenyataannya, Alvin menyayangi Kirana hanya sebatas rasa sayang seorang kakak kepada adiknya, hingga suatu hal terjadi..
“Don, gue minta tolong lo pergi jauhi gue. Gue nggak suka sama lo!” teriak Kirana ketakutan di gudang.
“Tapi gue sayang banget sama lo Kir, gue akan melakukan apa saja demi mendapatkan lo. Meski gue harus menculik lo.” ucapnya.
__ADS_1
“Doni gue tau, tapi maaf cinta gue sudah gue berikan untuk seseorang. Tapi lo bisa jadi temen gue kok.” bujuk Kirana dengan nada gemetar.
“Hahhh..!!!” Doni memporak-porandakan barang-barang yang ada di gudang itu “Gue nggak mau jadi temen lo, gue cuman mau jadi pacar lo!” teriaknya menggelegar.
“Don plis… jangan mendekat.” Kirana terus berjalan mundur.
“Gue kaya sama seperti anak lain.” ucap Doni sambil terus melangkah.
“Tolonggggg!!!” teriak Kirana.
Dari luar tak lama kemudian Alvin datang bersama teman-temannya. Mereka mendobrak gudang dan menemukan Kirana sedang sangat ketakutan.
“Bajingan Lo!” Alvin langsung menghajar Doni hingga babak belur dan meminta Bima dan Rio menyeretnya di luar kampus. Sedangkan Kirana yang sangat ketakutan Alvin bawa ke UKS.
“Barang siapa yang berteman dengan dia akan memiliki nasib yang sama seperti dia!” teriak Bima dengan lantang.Meskipun Alvin dan teman-temannya adalah mahasiswa baru juga, namun ia sudah popular dan ditakuti mahasiswa lain. Selain karena ayahnya juga mereka bertiga jago karate.
Semua mahasiswa yang melihatnya merasa ngeri, Doni yang penuh dengan darah hanya bisa diam dan bersumpah akan membalas perlakuan mereka semua. Dan kini dendamnya akan terbalaskan..
Tanpa banyak bicara, Rio dan Bima langsung maju menyerang anak buah Doni. Tenaganya cukup terkuras untuk membuat babak belur antek-antek Doni. Mereka lumayan cukup kuat sehingga membuat Rio dan Bima kewalahan.
“Gue kasih pilihan lagi buat kalian berdua. Memilih serahkan posisi Raja Kampus pada gue atau gue buat babak belur seperti lo buat babak belur gue 3 tahun yang lalu.” ucapnya.
“Kalo kalian berikan posisi itu pada gue, gue akan jamin keamanan kalian berdua sampai lulus. Sangat baik kan gue?” ucapnya.
“Chh.. jangan harap kita nyerah.” ucap Rio yang mulai terpancing.
“Oke kalo gitu, dengan senang hati melayani kalian berdua. Ayo majulah!” Tanpa menunggu Bima yang masih berpikir dua kali lipat, Rio langsung maju menghajar si penjahat itu. Reno melemparkan tubuh Doni kea rah meja hingga meja kantin pecah. Para penjaga kantin yang tau tak bisa berbuat apa--apa hanya pasrah dengan kantinya yang sudah kocar-kacir.
Kali ini Doni lebih unggul karena tenaga Reno sudah mulai habis “Cuman ini kemampuan lo?” ledek Doni yang terus menyerang Reno bertubi-tubi.
“BERHENTI!” ucap Ardi yang baru datang dan segera melerai mereka seketika membuat Doni mengurungkan pukulannya.
__ADS_1
“BUBAR SEMUA!” Bentak Ardi, semua mahasiswa yang menonton bubar tinggal tersisa Doni dkk dan Bima, sedangkan Rio sudah terkapar di lantai.
“Bima kamu bawa Rio ke rumah sakit. Dan kalian ikut ke ruangan saya!” ucap Ardi.
Bima pun langsung menggendong temannya untuk dibawa ke rumah sakit.
*********
“Reno, habis kamu mengelap kaca minta tolong antarkan kopinya pak bos di ruangannya ya!” pinta ob senior.
“Iya Mas.” ucap Reno, ini merupakan kesempatannya bertemu siapa itu Wijaya Pratama.
Di depan ruangan Pak Wijaya, sebelum masuk Reno mengetuk pintu terlebih dahulu. Dari dalam terdengar suara orang menyuruhnya untuk masuk.
“Ini pak, kopi yang bapak pesan.” ucap Reno.
“Terima kasih.”
Tlitt..tliitt…
“Hallo!” Pak Wijaya langsung mengangkat hp nya yang berbunyi “Baik saya kaan segera ke sana. Kalian tunggu di situ.” lanjutnya.
“Masih adakah yang lain?” tanya Tuan Wijaya yang melihat Reno belum pergi.
“Tidak pak.” ucap Reno lalu pergi.
Tanpa sepengetahuan Tuan Wijaya, Reno menyelinap kembali ke dalam ruangan. Namun ia memastikan kalo cctv di ruangan itu mati sehingga memudahkan dia bergerak. Ia mulai mengamati foto-foto yang ada di dalam ruangan itu. Semua fotonya seperti yang ia lihat di google sebelumnya.
Lalu ia mulai membuka laci, melihat isi buku-buku besar seperti yang ada di film siapa tau ada jejak yang tertinggal. Buku pertama kosong, buku kedua kosong juga, buku ketiga juga kosong, hingga tak sengaja ia menjatuhkan buku yang ada di meja Tuan Wijaya. Saat mengambilnya ia melihat foto Tuan Wijaya bersama seorang wanita cantik dan bayi. Kain yang dipakai bayi itu ia seperti pernah melihatnya waktu di rumah.
“Tolong siapkan ruang meeting saya ya!” terdengar suara Tuan Wijaya dari luar, Reno langsung bersembunyi. Ia lupa mengembalikan buku di meja seperti semua tapi bodoh amat yang tidak ada yang tau dirinya di ruangan ini.
__ADS_1
Sampai di ruangannya Tuan Wijaya memungut bukunya yang tergeletak di bawah. Ia memperhatikan seisi ruangannya masih rapi. Kemudian ia mencari foto yang ada di bukunya ternyata tidak ada.
“Apa benar dia sedang mencariku?” tanyanya “Jika benar, kenapa tidak menemuiku secara langsung?" lanjutnya sedih.