Raja Kampus

Raja Kampus
Bab 9


__ADS_3

“Pagi semuanya..” Sapa Ardi dengan wajah berseri-seri.


“Pagi Ardi.” balas Papa Mama Maya tapi tidak Maya.


“Ada apa Ar, masih pagi kamu kelihatan sangat senang?” tanya Tuan Albert.


“Ardi nggak sarapan di rumah ya pagi ini.. “ ucapnya.


“Loh kenapa? ini ada makanan kesukaan kamu loh.” ucap Risa.


“Soalnya mau sarapan di rumah ayang.” jelasnya tak berhenti tersenyum dan tak lupa mengacak-ngacak rambut Maya yang sudah rapi.


“Abang!” teriak Maya tak suka.


“Kamu nggak mau ikut abang May!” ajak Ardi biar nggak terlalu canggung di sana.


“Ogah, yang ada Maya dibiarkan terlantar.” Maya ingat sekali waktu pertama kali dirinya diajak Ardi kerumah calon mertuanya. Ia ditinggal Ardi sama Dian jalan-jalan dan dia dititipin opanya Dian yang bawelnya minta ampun.


“Hehehe itu kan dulu… nanti abang belanjain baju deh.” ucap Ardi masih merayu Maya.


“OGAH! Baju Maya sudah banyak.” Maya tetap menolaknya.


“Ya udah. Ardi pamit dulu ya om.. tante.” Tak lupa ia bersalaman sebelum pergi.


“Jangan nyesal ya May..!!” teriaknya lagi.


**********


“Siapa kemarin yang bilangnya mau datang habis subuh?” sindir Dian.


“Hehe.. ya maaf, tadi bangun kesiangan.” ucapnya mencari alasan.


“Sudah jangan berantem, ini piringnya Ardi. Kamu mau ambil lauk mana? biar mama yang ambilkan.” ucap Mama Dian yang membuat anaknya sendiri sedikit iri.


“Kok Dian nggak diambilin ma?”


“Jangan manja.” ucap mamanya.


“Sini aku ambilin kamu aja.” Ardi mengambilkan beberapa lauk kesukaan Dian “Ini tuan putri. Silahkan dimakan ya..” ucapnya.


“Terima kasih pangeranku sayang.” balas Dian.


“Kalian nggak malu sama kami?” tanya papanya.


“Kenapa harus malu, bentar lagi papa dan mama juga akan melihat pemandangan kita seperti ini.” ucap Dian karena mereka akan menikah 1 bulan lagi.


“Udah pa, biarin mumpung mereka masih muda kalo tua juga nggak akan kayak gitu lagi.” ucap mamanya.

__ADS_1


“Oh.. jadi mama pengen kayak dian. Jiwa muda papa masih merekat kok, bahkan papa lebih pandai dibanding Ardi.” ucap papanya.


“Oke, mari kita berduel pa. Mana yang paling romatis antara kami atau mama sama papa.” tantang Ardi memberanikan diri.


“Okey, siapa takut.”


Ardi mulai menyuapi Dian sambil mengucapkan kata-kata yang romantic begitu pun Papanya Dian yang menyuapi mamanya. Papa dian memang jago dalam mengucapkan kata-kata manis untuk wanita berbeda dengan Ardi yang kaku tapi dia tetap berusaha agar tidak terlihat kaku.


“Uhukk.. sayang udah ini kebanyakan, dimulutku masih ada makanan.” ucap Dian.


“Ini minum dulu.” Ardi segera mengambilkan air minumnya untuk Dian.


“Kalo kamu kayak gini sama aja mau bunuh aku.” ucap Dian kesal, tapi membuat papanya tertawa terbahak-bahak.


“Sebelum kamu menyuapi wanita perhatikan dulu seberapa besar porsi makanan disendoknya. Karena pria sama wanita beda.” nasehat papa Dian.


“Iya pa.” ucap Ardi menunduk.


*************


Sebelum berangkat ke kampus, Sada dan Reno menyempatkan datang untuk melihat tempat yang disarankan Dian. Benar, letaknya sekitar 200 meter dari gerbang belakang kampus. Tempatnya tidak besar tapi tidak juga kecil. Tapi mungkin butuh sedikit renovasi agar terlihat sedikit lebih estetik.


“Menurutmu apa saja yang harus kita rubah Ren?” tanya Sada.


“Itu kan terlalu polos ya, gimana kalo kita tambah sedikit lukisan biar tampak lebih estetik dikit. Terus kita belikan pohon mainan, baik itu yang digantung atau dibuat hiasan, sama rak buku yang kita taruh di pojokan agar mereka yang kesini tidak hanya makan tapi ada yang dibaca juga. Dan disana juga ada beberapa ban yang nganggur.” Reno menunjuk 3 ban yang nganggur di depan. ” itu bisa kita desain menjadi kursi dan meja tinggal menambahkan 2 ban lagi buat yang ingin makan di luar terus kan itu ada pohon besar jadi kita tak perlu menyediakan payung agar mereka tak kepanasan.” jelasnya.


“Gampang, itu urusan gue.” ucapnya.


“Uang lo cukup kah buat desain semua itu?” tanya Reno memastikan.


“Cukup Insya Allah.”


“Oke.”


“Makasih ya Ren, udah dibantuin.” ucap Sada.


“Gue juga makasih udah di kasih kerjaan.”


*********


“Pagi gays..” sapa Alvin yang tanpa sepengetahuan Kirana berkunjung ke kelas Maya.


“Eh Kak Alvin. Pagiii..!” sapa para cewek disana sangat senang raja kampus datang ke kelasnya.


“Kak, boleh minta foto nggak?” ucap salah seorang cewek memberanikan diri untuk minta foto pada Alvin.


Alvin hanya tersenyum dan membiarkan mereka mengambil fotonya. Maya yang merasa risih, langsung manarik tangan Alvin untuk keluar dari kelasnya.

__ADS_1


“Kalo mau jadi artis jangan disini, ganggu orang belajar.” ucap Maya dengan ketus.


“Kamu cemburu ya..?” goda Alvin.


“Cemburu dari Hongkong. Gue nggak cemburu sama sekali cuman gue kasian sama mahasiswa lain yang lagi belajar karena hari ini ada ulangan.” ucapnya.


“Masa? tadi aku lihat mereka nggak terganggu sama kedatanganku tuh. Malah meminta foto.”


“Terserah deh, yang penting kalo mau nyari ketenaran jangan di kelas ini lagi.” tegas Maya.


“Ya terserah aku dong, kan aku raja kampus di sini.” ucap Alvin dengan bangga, Maya hanya tertawa mendengar kata “Raja Kampus”.


“Oh ya, mana sapu tanganku?”


“Di bawa pacar lo.” jawab Maya.


“Kirana?”


“Alvin!” panggil Kirana yang sejak tadi mencari pacarnya itu, Maya yang tau langsung segera masuk ke kelasnya lagi.


“Kamu ngobrol apa saman cewek cupu itu?” tanya Kirana tak suka.


“Gapapa, udah yuk ke kelas bentar lagi masuk.” ajak Alvin sebelum Kirana membuat masalah di kelas Maya. Alvin sudah tau, kalo Maya yang berpenampilan cupu itu adalah Maya mantannya. Namun ia masih belum alasannya kenapa mantannya itu harus berpenampilan seperti itu. Padahal dia sangat cantik lebih cantik dari Kirana.


Sekilas Reno melirik wajah Maya yang lagi badmood tapi Reno tetap memasang wajah cueknya. Maya membalikkan badan dan memberikan jaket Reno yang sudah ia cuci “terima kasih ya.” ucapnya.


“Sama-sama.” jawab Reno.


“Haduh, kenapa gue gerogi gini ya.. padahal cuman mau bilang minta tolong aja.” ucapnya dalam hati “Yukk Ren bisa..!” Reno berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak dengan tidak normal.


“May..” panggil Reno.


“Iya, kenapa?” Maya kembali berbalik badan lagi.


“Lo bisa ngelukis kan?” tanya Reno.


“Sedikit.”


“Mau bantuin gue sama Sada nggak? buat ngelukisin dinding warung kami. Nanti gue traktir bakso.” ucap Reno yang baru kali ini meminta tolong sama cewek.


“Boleh, nanti pulang sekolah ya.”


“Makasih.”


“Okeyy..” Dalam hati Maya merasa senang, kini ada pertanda-tanda dirinya akan semakin dekat dengan Reno.


Kali ini, perkuliahan dilakukan secara asinkron tapi tetap ada tugas yang harus dikerjakan oleh mahasiswa. Reno, Sada, dan Maya pergi ke beberapa tempat untuk mencari barang kebutuhannya menggunakan angkot. Luna yang tau Maya akan naik angkot, ia memilih pulang lebih dulu dengan alasan dirumahnya ada acara keluarga.

__ADS_1


__ADS_2