
"Gue mau, lo rampok barang di rumah ini." ucap seseorang dengan memberikan alamat rumah targetnya.
*********
"Permisi!" ucap Tuan Wijaya di depan sebuah kos.
"Iya sebentar." terdengar suara dari dalam yang tak lain adalah Sada "Tua..tu...tuan Wijaya?" ia menepuk pipinya.
"Iya ini saya. Kamu temannya Reno?" tanya Tuan Wijaya.
"Iya pak benar. Tapi sebelumnya maaf, ada apa ya pak?"
"Saya ingin berbicara berdua dengannya, apa dia ada?" Sada menjelaskan jika Reno baru saja keluar tapi ia tak tau temannya itu keluar ke mana.
"Ohh.. begitu, baiklah. Terima kasih ya. Saya permisi dulu." Karena tak bisa menemukan orang yang ia cari, Tuan Wijaya langsung pulang.
Di rumah ia disambut anaknya dengan pakain yang amat rapi "wiihh.. anak papa mau ke mana nih?" tanya papanya.
"Makan malam."
"Sama Kirana yaa..?" tebak Tuan Wijaya.
"Bukan. Ada pokoknya. Ya, udah Alvin pergi dulu ya.. bay.."pamit Alvin sebelum diinterograsi oleh kedua orang tuanya.
Jas warna abu, kaos hitam di dalamnya, dan celana levis mirip seperti CEO muda. Alvin harap malam ini Maya akan terpesona dengannya. Namun, ditengah perjalan ia tak sengaja menabrak seorang pria yang sedang menyebrang. Alvin segera turun dan menolongnya. Pria itu memakai penutup kepala seperti seorang pencuri. Alvin langsung membuka penutup kepalanya dan betapa terkejutnya melihat siapa yang sedang ia tabrak. Dia adalah Reno. Tubuhnya bersimbah darah, Alvin yang takut langsung mengangkatnya dan memasukkan ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Reno langsung dibawa ke ruang operasi karena tanpa sepengetahuan Alvin perutnya terkena peluru akibat merampok rumah anggota polisi. 1 jam.. belum ada tanda-tanda dokter keluar hingga,
"Permisi, apa ada keluarga pasie?" tanya dokter.
"Apakah lukanya sangat serius dok?" tanya Alvin.
"Akibat dari terkena tembak, pasien membuat pasien kehilangan banyak darah. Sedangkan untuk golongan darahnya sendiri sangat langka, dan kami tidak memiilikinya."
"Tembak?" Alvn terkejut, ia mengira Reno banyak kehilangan darah karena tertabrak olehnya.
"Benar." jawab dokter "soalnya ada 2 peluru yang kami keluarkan."
"apa AB golongan darahnya dok?" tanya Alvin.
"Benar dan kami membutuhkan secepatnya. Malamini jika bisa dia harus sudah mendapatkan pendonor." jelas dokter membuat Alvin tambah bingung. Sebenernya ia bisa saja meninggalkan Reno dan membuatnya mati. Tapi dirinya tidaklah sekejam itu.
"Baik dok, akan saya usahakan." ucap Alvin.
Reno bingung harus meminta pertolongan siapa, golongan darahnya bukan AB. Keluarganya ada tapi papanya. Jika ia minta tolong kepada papanya, otomatis papanya tau kalo dirinya menabrak seorang. Ia mencoba menelpon satu persatu teman-temannya. Tapi tak satu pun yang memiliki golongan darah AB.
__ADS_1
"Fiks, gue harus nelpon papa untuk minta bantuan." Alvin mencari nomor papanya lalu menelponnya.
"Pa. Alvin butuh bantuan." ucapnya.
"Ada apa Alvin?" tanya papanya dari sebrang telpon.
"Papa ke rumah sakit dulu, nanti Alvin ceritakan. Soalnya temen Alvin butuh pendonor darah AB dan di rumah sakit sedang tidak ada stok." ucap Alvin.
"Baik-baik, papa akan segera ke sana. Kamu sharelock aja lokasinya."
Tidak sampai setengah jam, Tuan Wijaya sudah sampai. Alvin langsung mengajak papanya ke perawat untuk donor darah agar Reno bisa segera di selamatkan.
"Sekarang ceritakan sama papa." ucap Tuan Wijaya setelah selesai medonorkan darahnya.
"Jadi gini pa, teman Alvin satu ini adalah korban tabrak lari. Kebetulan Alvin lewat dan Alvin langsung menolongnya. Ternyata dia malah kekurangan darah, karena darahnya langka Alvin bingung dan nelpon papa." karangnya. Ia tak mungkin bilang ke papanya kalo temannya ini terkena luka tembak sekaligus ditabraknya. Nanti urusannya malah rumit.
"Oo... tapi maaf papa nggak bisa dirumah sakit lama-lama. Mama mu pasti khawatir di rumah." Ia ingat sekali ketika Alvin menelponnya dan mengatakan sedang di rumah sakit istrinya sudah sangat cemas tapi karena di rumah ada tamu, istrinya itu tak bisa ikut.
"Iya pa Gapapa." ucap Alvin.
"Papa balik dulu ya."
Malam ini Alvin menginap di rumah sakit untuk menjaga lawannya. Ia sengaja meminta pihak rumah sakit untuk memindahkan kamar Reno di kamar VIP agar Alvin bisa tidur setidaknya di atas sofa.
**********
"Kabur mungkin bos." ucap Jack menghasut.
"Nggak mungkin. Jika benar dia kabur, gue yang akan nyarinya sendiri." ucap Bos Gondrong.
"Bos!!!" teriak anak buah yang disuruh menjadi partner sekaligus menjadi teman Reno berlari menghampi Bos Gondrong.
"Mana Reno?!" tanyanya.
"Kami gagal merampok di sana. Reno terkena tembak dan tertubruk mobil di jalan." jelas orang itu.
"Dia meninggal?" tanya Bos Gondrong.
"Nggak bos, tapi dia dirawat di rumah sakit."
"Oke, kita tunggu saja sampai sembuh tapi tetap awasi dia1" perintah Bos Gondrong.
"Siap bos."
***********
__ADS_1
Di tengah malam ketika baru pulang tiba-tiba perut Ardi keroncongan. Ia lupa kalo tadi siang tidak makan. Dengan mengendap-endap ia berjalan ke dapur sambil menyalakan senter hpnya untuk mencari makanan agar keluarganya tidak bangun karena sudah larut malam. Di lemari makan, ternyata masih terdapat banyak lauk. Ia mengeluarkan piring satu persatu. Ada lopster, ayam kecap, tumis kacang panjang, sop, bakso, dan nasi.
"Sedap-sedap." Ia menyenderkan hpnya di kotak tisu agar bisa berdiri.
"Doa dulu ah. Bismillahirrahmanirrahim Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar. Aaminn."
Masakan mama Maya memang paling mantap, rasanya benar-benar nikmat. Ardi dengan sangat lahap memakan makananya sendiria.
Dari atas tangga Maya turun karena air minumnya habis. Tapi di tembok dekat dapur ia melihat ada cahaya, dan orang yang sedang mencari sesuatu.
"Apakah itu maling?" tanya Maya pada dirinya sendiri.
Maya mengambil payung di guci, pelan-pelan ia mendekati dapur agar pencuri itu tidak tau kehadirannya sehingga dirinya bisa menangkapnya basah. Apakah yang kalian pikirkan? apakah Maya berhasil menangkap pencuri itu?
"Hantuuu!!" Maya malah berlari ketakutan masuk ke kamarnya lagi melupakan rasa hausnya dan bersembunyi didalam selimut.
Ardi terkekeh melihat tingkah adiknya itu, mungkin karena dirinya menaruh hpnya di atas meja dan cahanya menyorot wajahnya dari bawah sehingga orang yang penakut seperti Maya akan mengira ada hantu.
"Dasar penakut!" ucap Ardi.
Jreng... Mbok Mi menyalakan lampu dapur terkejut melihat Ardi disana sedang minum susu dan beberapa piring di atas meja.
"Mas Ardi kok belum tidur? ini udah jam 2 malam." ucap Mbok Mi yang selalu perhatian padanya.
"Belom mbok, saya baru pulang terus makan." jawab Ardi.
"Ya udah, mending Mas Ardi tidur, besok kan harus kerja. Biar mbok yang bereskan semua ini." ucap Mboknya.
"Makasih ya mbok. Mbok kenapa bangun?" giliran Ardi yang bertanya.
"Biasa mas, saya tiap tengah malam pasti ke kamar mandi." jawab Mbok Mi.
"Oh ya mbok, tadi ada tamu ya?" tanya Ardi penasaran.
"Katanya Den Alvin mau datang, eh udah dimasakin banyak dia nggak datang-datang." jelas Mbok Mi.
"Oohh.. ya udah mbok, saya ke atas dulu ya."
"Iya den."
"Awas ada hantu!" Canda Ardi.
"Kalo ada hantu ya aden hantunya." seketika Ardi tertawa.
"Terserah Mbok deh."
__ADS_1