
Hari sudah siang, Alvin masih terlelap dalam tidurnya. Reno yang tersadar, tak percaya melihat seorang raja kampus tidur di sofa menemaninya semalaman. Ia pun mencoba bangun, tapi perutnya masih terasa sakit akibat tertembak. Ketika ia ingin mengambil air putih di atas meja sampingnya, gelasnya malah terjatuh sehingga membangunkan Alvin.
Alvin yang kaget langsung menghampiri ranjang Reno dan membersihkan pecahan gelas kaca di lantai agar tidak ada yang kena "Lo itu kalo mau minum kenapa nggak bangunin gue?! Jadinya gini kan, gelasnya jatuh pecah." ucap Alvin.
Setelah membuang ke tempat sampah, Alvin menuangkan air putih ke gelas yang baru dan memberikannya pada Reno.
"Nih, bisa nggak lo minum?" tanya Alvin meski nadanya ketus tapi dia perhatian.
Reno berusaha bangun, namun tetap nggak bisa nahan rasa sakit perutnya.. Akhirnya Alvin membantunya untuk minum. Reno tak percaya, seorang Alvin yang ia kenal orang angkuh di ternyata punya hati juga.
"Makasih." ucap Reno.
"Gue mau tanya sama lo. Kenapa..."
"Kalian sudah bangun?" tanya mama Alvin yang datang menjenguk teman anaknya sekaligus membawakan makanan untuk anaknya.
"Mama. Mama ngapain ke sini?" tanya Alvin.
"Ya mama pengen jenguk teman kamu sekaligus bawakan kamu sarapan." jawab mamanya yang sangat perhatian.
"Temenku udah baik-baik saja ma, paling bentar lagi aku juga pulang. Mama sendirian?" Alvin tak melihat papanya.
"Sama papa, tapi tadi papa menerima telepon dari kantor. Bentar lagi paling juga ke sini."
Reno yang melihat keluarga harmonis itu sejujurnya tidak menyukainya karena mereka telah merebut papanya dari mamanya. Namun, dirinya berusaha untuk biasa gimana pun Alvin sudah menyelamatkannya.
"Gimana keadaan kamu?" tanya mama Alvin pada Reno.
"Sudah membaik tante." jawab Alvin berusaha untuk bisa duduk karena merasa kurang sopan aja kalo dia tiduran.
"Gapapa tiduran aja, nanti kalo kamu paksa bangun takut malah parah lukanya." ucap Ratna, mama Alvin "Oh ya, nama kamu siapa?"
"Reno." jawab Alvin yang kurang suka mamanya bersikap perhatian pada Reno.
"Loh kok kamu yang jawab. Mama nanya sama temen kamu." ucap mamanya.
__ADS_1
"Ya kan sama aja, dia nanti jawabnya juga pasti bakal Reno." ucap Alvin dengan nada ketus.
"Kamu cemburu mama baik sama dia ya,.. cieee!" goda mamanya.
"Nggak. Sudahlah, Alvin mau ke kamar mandi dulu." ucapnya lalu pergi ke kamar mandi yang ada di dalam rumah sakit tersebut.
"Maaf ma, tadi papa.." Tuan Wijaya sangat terkejut ketika tau siapa yang menjadi penerima donor darahnya. Dia adalah anaknya sendiri.
"Hallo Reno. Gimana keadaanmu? apakah masih pusing atau?" tanya Tuan Wijaya sangat cemas melihat kondisi anaknya.
"Saya baik." jawab Reno.
Sebenernya Tuan Wijaya ingin sekali memeluk anak pertamanya itu, sudah 24 tahun dirinya tak pernah bertemu dengannya. Tapi semua itu terhalangan oleh rasa takutnya sendiri. Ia belum siap jika harus menerima kenyataan apakah Reno akan mengakuinya sebagai papa atau akan membncinya, ia juga belum siap keluarganya bisa menerima Reno atau malah pergi meninggalkan dirinya seorang diri.
"Sebentar ya pa, tiba-tiba perut mama mules. Ini pasti gara-gara kebanyakan makan sambal tadi pagi." ucap mama Alvin, menitipkan tasnya ke suaminya.
Kini tinggal mereka berdua, Reno hanya diam saja menunggu menatap ayahnya. Ia tau jika Tuan Wijaya sudah tau bahwa Reno adalah anaknya. Hal ini di buktikan ketika dirinya tak sengaja mengetahui fotonya ketika masuk ke ruangannya di kantor.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Tuan Wijaya memulai percakapan.
"Baik." jawab Reno dengan santai..
Alvin hanya diam, namun hatinya masih sangat marah kepada ayahnya. Ia membiarkan Tuan Wijjaya memeluknya. Tapi tak lama, Alvin keluar dari kamar mandi dan mengetahui papanya sedang memeluk Reno.
"Papa?" tanya Alvin membuat Tuan Wjaya terkejut.
"Vin, sudah lama kah kamu di kamar mandi?" tanyanya.
"Iya, perut Alvin mules."
"Tadi mama kamu juga mules. Ya udah, ini makan dulu sarapannya. Mamamu yang masak sendiiri!" Tuan Wijaya memberikan kotak bekal yang di bawa oleh istrinya. 1 untuk Alvin dan 1 untuk Reno.
"Wahh dari baunya aja sudah sedap. Mama memang paling jago kalo di suruh masak." ucap Alvin.
"Kamu mau makan sekarang?" tanya Tuan Wijaya, Reno menolaknya namun ternyata perutnya tidak bisa diajak kompromi. Tuan Wijaya pun tersenyum, ia membantu Reno dengan sangat hati-hati untuk bisa duduk.
__ADS_1
"Pelan-pelan." ucapnya.
"Huft." Reno merasa lega dirinya bisa duduk.
Tuan Wijaya membukakan kota sarapan Reno, dan ingin menyuapi anaknya itu. Reno yang tak ingin di suapi ayahnya itu langsung mengambil makanannya.
"Saya bisa sendiri." ucapnya.
"Maaf ya.. mama mules banget." ucap Ratna yang baru selesai dari kamar mandi di luar.
"Iya ma."
"Oh ya, papa mau bilang sesuatu. Sebenernya Reno ini adalah.." Reno menghentikan makannya, ia penasaran apakah ayahnya ingin mengungkapkan dia sebagai anaknya atau.. "Dia adalah anak teman papa di desa sana. Sudah lama papa mencarinya namun baru bertemu. Papa sudah berjanji pada ayahnya kalo akan menjagarnya setelah ayahnya meninggal. Jika Reno tinggal bersama kita di rumah bagaimana?" tanya Tuan Wijaya kepada anggota keluarganya .
"Boleh banget pa." jawab Alvin sangat setuju, dengan begini rencananya akan berjalan sesuai keinginannya.
"Boleh pa." Ratna setuju, ia sangat senang memiliki suami yang baik hati.
"Gimana Reno, kamu mau kan tinggal bersama kami?" ucap Tuan Wijaya berharap Reno mau. Agar dirinya bisa lebih dekat dengan anaknya meski harus berbohong kepada keluarganya.
"Iya aja Ren di rumah gue. Nanti kita bakal jadi teman baik." ucap Alvin.
"Tante juga akan senang kalo kamu tinggal di rumah. Biar Alvin juga nggak terus kelayapan kalo ada temennya di rumah." ucap Ratna.
"Mama mulai deh." ucap Alvin.
Reno pun mengangguk membuat Tuan Wijaya sangat senang dan langsung memeluk Reno "Terima kasih banyak ya, ayah janji secepat mungkin ayah akan memberitahukan identitasmu kepada keluarga ayah. Tapi ayah butuh waktu." bisiknya.
Padahal niatan Reno mau tinggal bersama mereka adalah untuk menghindari anak buah Bos Gondrong yang selalu mengintainya. Ia tidak bermaksud lari, hanya saja dirinya tidak suka terus diawasi.
"Ya sudah kalian makan dulu, kami mau pergi dulu. Ada undangan penting yang harus dihadiri." pamit Tuan Wijaya.
"Hati-hati pa, ma." ucap Alvin.
Sepergian orang tua Alvin, Reno menatap tajam Alvin "Lo pasti adanya maunya kan minta gue tinggal sama lo?" tanyanya.
__ADS_1
"Jelas dong, di dunia ini tidak ada yang gratis bro." jawab Alvin senang "Dan gue juga udah tau rahasia lo, lo seorang perampokkan?" ucap Alvin yang melihat banyak perhiasan di tas Reno saat ia menolongnya "Lo tertembak saat ingin kabur. Lagi pula, kalo tinggal di rumah gue, gue bisa jamin keamanan lo dari bos lo karena di rumah gue keamananny sangat terjaga." jelas Alvin.
"Apa mau lo?" Reno paling tidak suka basa basi.