Raja Kampus

Raja Kampus
Bab 7


__ADS_3

Pagi hari Maya dikejutkan dengan adanya Reno yang di bangku belakangnya. Dengan bersemangat, Maya menghampiri dan menyapanya.


"Hai.."


Tapi sapaan itu tak dibalas oleh Reno. Ia tetap fokus baca buku yang judulnya "Langkah Awal dalam Memulai Bisnis". Maya tak menyerah, ia mengambil buku Reno dan..


"Hai, gue lagi nyapa Lo." ucapnya sekali lagi.


"Hai juga." Balas Reno mengambil bukunya kembali.


"Itu wajah Lo kenapa? Perasaan kemarin nggak separah ini." Maya ingat, kemarin Reno hanya terluka sedikit di dahinya tapi sekarang luka lebamnya bertambah di pipi.


"Jatuh." jawab Reno singkat.


"Haii Maya." sapa Sada yang baru saja dari kamar mandi dan duduk bangku di samping Reno.


"Hai juga."


"Ren, kamu tau.. aku ketemu Kirana tadi." ucap Sada sangat senang bertemu idolanya.


"Kirana?" ucap Maya dalam hati.


"Dia tersenyum padaku. Sangat cantik" tambahnya.


"Jangan terlalu berharap nanti menyesal." Sada mengingatkan.


"Jadi kamu kira aku ini bos bakso tidak pantas sama Kirana?" Sada mulai kesal.


"Hem.. ya pantas-pantas aja kalo memang jodoh." jelasnya.


Maya yang penasaran pun bertanya sama Sada tentang Kirana. Dengan senang hati Sada menunjukkan foto calon kekasihnya dan menjelaskan detail biografinya.


"Ternyata si Mak lampir." ucap Maya.


"Mak lampir kamu bilang, orang secantik mana bisa disamakan Mak lampir." Sada tak terima calon kekasihnya dihina.


"Nggak, maksud gue semalam gue habis ketemu mak lampir." jelas Maya.


"Beneran? Gimana rupanya?" Sada terkejut.


"Bibirnya hitam, rambutnya terurai panjang berwarna putih, kukunya panjang, dan dia selalu tertawa hihihihihi.."


"Hi.. ngeri juga ya. Untung kamu masih hidup sampai sekarang, nggak dijadikan budaknya." ucap Sada.


"Selamat pagi." Salam Ardi yang masuk ke kelas Maya.


"Pagii pak.." jawab para mahasiswa bersemangat.


"Saya absen dulu ya.." Ardi memanggil nama mahasiswa satu persatu sesuai list absen di laptopnya.


"Ada yang belum di panggil?" tanyanya siapa tau ada yang kelewatan.


"Reno pak." ucap Sada.

__ADS_1


"Siapa nama lengkapnya?"


"Reno Pratama pak." Jawab Reno.


"Oh, anak baru ya? Soalnya disini nggak ada nama kamu."


"Iya pak, kata TU masih di proses." jelasnya.


"Oke, selamat bergabung di kelas saya Reno." Ucap Ardi senang menerima mahasiswa baru.


"Tampang keren sih, tapi sayang dari tampilannya seperti orang susah." ucap Jesika yang asal ceplos.


"Gini-gini Reno banyak yang ngantri, daripada kamu kaya-kaya tapi masih aja matre kerjaannya morotin cowok mulu." balas Sada.


BRAKKK..! suara gebrakan meja Jesika membuat seisi kelas terkejut dan memandangnya.


"Maaf, tadi ada lalat disini." ucapnya.


"Huuu.. belum mandi paling Lo Jes." celetuk temannya.


"Enak aja."


"Sudah.. sudah, kita kembali ke topik."


"Awas ya loh!" ucap Jesika menatap tajam Sada. Sada yang tak takut sama sekali hanya memberi balasan dengan menjulurkan lidahnya.


"Menurut kalian apa yang membuat suatu produk laris di pasaran?" tanya Ardi.


"Karena produk itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat pak." Jawab Sada.


"Karena keunikannya pak." jawab yang.


"Bisa. Ada lagi? Reno gimana menurutmu?"


"Kalo menurut saya tergantung produknya pak berupa apa, barang kah atau jasa? Jika barang bisa aja karena rasanya seperti makanan/minuman, keestetikanya, kenyamanannya, kepraktisannya, kebermanfaatannya, dan pastinya harganya dapat terjangkau. Memang benar, sebuah produk yang mahal juga laris itu itu hanya untuk kalangan tertentu, beda halnya seperti sapu yang dibutuhkan untuk semua masyarakat."


"Yaps.. terimakasih Reno. Saya juga setuju sama pendapat kamu." kini mata Ardi tertuju pada gadis yang tidur di jamnya.


"May." Luna segera membangunkan Maya tapi seperti biasa Maya tidak bangun.


Ardi meminta Luna untuk diam, ia mengambil spidol di depan dan mulai menggambar wajah mulus Maya berbentuk kucing berkumis membuat seisi kelas menahan tawa. Setelah selesai, baru Ardi membangunkannya dengan berteriak keras tepat di telinga Maya.


"MAYA!"


"Eh iya pak." ucapnya.


"Kamu silahkan berdiri di luar sampai jam saya selesai. Itu hukuman kamu yang selalu tidur di kelas saya." ucap Ardi.


"Baik pak." ucapnya pasrah karena memang dirinya semalam hanya tidur 3 jam.


Maya berjalan keluar kelas tak menghiraukan teman-temannya yang sedang mentertawakan dirinya. Di luar kelas, ia mengangkat satu kakinya dan menjewer kedua telinganya. Tapi Maya mulai curiga ketika semua Mahasiswa yang lewat pasti menertawakannya. Sampai..


"Itu? Wajahmu kenapa?" tanya Alvin yang tak sengaja melewatinya.

__ADS_1


"Memang kenapa kak?" tanya Maya yang tak mau identitasnya terbongkar.


"Ini " Alvin mengeluarkan hpnya untuk untuk membuka fitur kamera.


"Yah... kenapa wajah gue jadi jelek gini? Ini pasti ulahnya.."


"Haha... sini aku bantuin bersihin." Alvin membantu membersihkan wajah Maya dengan sapu tangannya.


"Apa dia tau kalo gue Maya mantannya?" tanyanya dalam hati.


"Nggak usah. Terimakasih." Maya langsung mengambil sapu tangan Alvin dan berlari ke toilet.


"Loh, sayang. Kamu ngapain disini? Katanya tadi mau ke toilet." tanya Kirana yang kebetulan juga mau ke toilet.


"Iya."


*********


Di kantin, Maya dan Luna sengaja duduk dengan Sada dan Reno. Sebenarnya Luna tidak mau tapi ia terpaksa mengikuti Maya.


"Gue gabung ya.." ucapnya.


"Duduk aja May.." Sada mempersilahkan.


"Kalian mau ayam nggak? ini gue beli banyak." tawar Maya.


"Cantik-cantik seleranya rendah." ucap Luna dalam hati.


"Boleh May, makasih." Sada yang jarang makan ayam langsung mengambil ayam yang ditawarkan Maya.


"Kamu juga Ren, ambil aja." ucap Maya.


"Nggak usah, udah kenyang."


"Yang buat Reno buat gue aja gimana May?" saat Sada ingin mengambil ayam lagi tangannya ditempel Reno sehingga mengurungkan niatnya.


Byurr...


Baru aja ingin makan, siraman es teh membasahi baju Maya "Jangan lagi-lagi Lo deketin pacar gue! kalo nggak? es teh ini akan berubah menjadi kotoran." Ancam Kirana.


"Loh.. calon ayang beb jangan kasar-kasar. Kan bisa dibicarakan baik-baik" Sada berusaha menenangkan Kirana.


"Ih.. siapa sih Lo... main asal pegang gue. Dan tadi apa Lo bilang? calon ayang beb? gue aja nggak kenal sama Lo dan kalo oun gue tau Lo gue nggak akan suka sama Lo karena kita nggak selevel." ucap Kirana kasar mendorong Sada hampir jatuh.


"Heh.. jadi cewek jangan kasar." ucap Reno yang tak terima temannya dihina.


Tak sengaja dorongan kecil Reno hampir membuat Kirana terjatuh untuk ada Alvin dibelakangnya.


"Jadi cowok juga jangan kasar." ucap Alvin tak suka.


"Iya nih sayang, ini sakit tanganku.. dia tadi kasar banget." Kirana memegang pergelangan tangannya akting kesakitan.


Tanpa sepatah kata, Alvin langsung menonjok wajah Reno yang memang sudah memar. Tapi Reno tak membalasnya dan membiarkan si raja kampus itu pergi.

__ADS_1


"Nih pakai jaket gue." Reno memberikan jaketnya pada Maya lalu pergi meninggalkan mereka berdua disusul oleh Sada.


Sial banget hidup Reno, baru beberapa hari di Jakarta sudah banyak mendapatkan bogeman. Andai ia tak ingat tujuannya untuk belajar bukan nyari musuh sudah pasti ia akan melawan.


__ADS_2