
"Kamu yang hati-hati ya di rumah." ucap Tuan Alber pada putrinya saat Maya mengantarkannya di Bandara.
"Ardi, mama minta tolong ya.. jaga adikmu." pinta Risa, pada Ardi.
"Iya tante."
Mereka pun berpelukan satu sama lain sebelum berpisah 1, antara senang dan Sedih Maya ditinggalkan oleh orang tuanya. Senang tidak ada yang melarangnya untuk pulang malam atau pergi ke mana pun. Sedih karena mendapatkan pekerjaan dobel, di kantor sama kuliah. Ia mencurahkan semuanya kepada kedua sahabatnya. Sania dan Bellina sangat setuju dengan rencana papanya untuk membuat Maya bekerja karena bagaimana pun Maya besok yang akan menggantikan papanya.
"Tapi gue nggak suka, lo kan tau sendiri kalo di sana itu membosankan. Dan gue juga lebih menyukai melukis atau menyanyi." tegasnya "Lagi pula kenapa nggak Bang Ardhi saja yang menggantikan papa.".
"Ya kan abanglo itu hanya keponakan bokap lo, sedangkan lo adalah anak kandungnya May." Sania mencoba menjelaskannya.
"Nahh, Sania benar." ucap Bellina.
Ltiittt...tliiittt...tliiitttt! suara hp Maya berdering tertera nama Ardhi di sana.
"Ada apa?" ucapnya.
"Jangan lupa ke kantor." ucap Ardhi membuat Maya bertambah kesal.
"Gamau." jawab Maya langsung mematikan sambungan telponnya.
Ia bersiap-siap membereskan tasnya lalu segera pergi ke apartemen Bellina untuk pergi ke kantornya. Sania tersenyum menggoda sahabatnya itu.
"Katanya tadi nggak mau?"
"Ya.. mau gimana lagi, dari pada fasilitas gue di sita." ucap Maya pasrah, berpamitan dengan shabatnya. Sementara ini mungkin mereka akan jarang bertemu lagi karena kesibukan masing-masing.
"Semangat ya bestiee!!" ucap Bellina.
********
"Bismlillah semoga warung kita kembali ramai seperti dulu ya!" ucap Sada masih agak trauma melihat kejadian yang sebelumnya.
Setelah 1 minggu tidak berjualan, Sada dan Reno kembali lagi membuka warungnya. Mereka mengajukan dana pinjaman di koperasi kampus untuk modal perbaikan.
"Aamiin.. " ucap Reno.
Semua sudah tertata rapi, tapi masih belum ada pembeli sama sekali tidak seperti sebelumnya. Sada dan Reno hanya bisa menunggu pembeli dengan duduk di kursi pembeli.
"Kenapa ya tidak ada yang datang pembeli sama sekali?" tanya Sada.
__ADS_1
"Sabar Sad. Kita tunggu aja. Setiap pedagang pasti ada pembelinya." jawab Reno.
"Oh ya.. enak nggak tinggal di rumah yang besar?" tanya Sada yang sudah tau jika Reno sementara waktu yinggal di rumah Alvin, tapi ia belum tau jika ayah Alvin juga ayahnya.
"Enak di kos Sad." jawab Reno.
"Gimana bisa? di kos banyak nyamuk, belum lagi kalo kamar sebelah sudah mulai pesta bersama teman-temannya sudah serasa seperti di club malam." Sada tercenganga tak percaya.
"Ya gapapa, gue lebih suka aja tinggal di kos." ucap Reno.
"Aneh bin aneh emang kamu Ren. Diberi tempat tinggal yang bagus bukannya senang malah milih tinggal di kos-kosan murah."
********
"Maaf, ada keperluan apa ya mbak sebelumnya jika saya boleh tau?" tanya satpam yang melihat orang asing masuk ke kantor dan tidak memakai tanda pengenal.
"Mau ketemu Pak Ardhi pak." jawab Maya.
"Sudah buat janji?"
"Saya disuruh Pak Ardhi datang ke sini pak. Jika bapak nggak percaya, bapak boleh tanya dia sendiri." jawab Maya.
Satpam itu tak tau siapa Maya karena dia pegawai baru, ia hanya menjalankan tugasnya dan menjaga keamanan lingkungan di kantor. Salah satunya adalah untuk tidak membiarkan siapapun masuk kecuali pegawai kantor dan klien yang sudah punya janji.
"Ribet banget sih mau masuk aja." ucap Maya "Sebentar," Maya mengeluarkan hpnya tapi lobet.
"Maaf mbak, saya tidak bisa mengizinkan masuk mbak, Pak Ardhi saat ini sedang pergi, jadi jka mbak mau mbak bisa menunggunya di sini ada datang di lain waktu." jelas satpam itu.
"Bapak nggak tau ya siapa saya? Saya adalah anak pemilik perusahaan ini. Jadi bapak kalo tidak mengizinkan saya masuk saya pastikan akan memecat bapak." akhirnya Maya membeberkan identitasnya sebagai anak pemilik perusahaan.
"Maaf mbak, saya hanya menjalankan tugas saja. Soalnya tadi Pak Ardi tidak pesan apapun sama saya." ucap satpam itu.
Maya hanya terbungkam sambil menunjuk wajah bulat satpam itu menahan rasa kesal. Alhasil mau tak mau Maya menunggu Ardi di depan kantor berdampingan dengan satpam gemuk itu. Ia tak kenal siapapun yang ada di sana karena ya Maya tidak pernah datang ke kantor. Jujur, ini adalah pertama kalinya Maya datang ke kantor bokapnya sendiri.
10 menit masih belum ada tanda-tanda mobil Ardi, 20 menit, setengah jam, masih belum. Maya mulai bosan, ia mengisi bosannya itu dengan jalan mondar-mandir, joging, duduk, berdiri, hingga menendang botol minumnya sendiri agar masuk ke tempat sampah. Ia tak peduli dengan orang-orang yang melihatnya karena wajahnya sebagian tertutup masker.
"Yahh.. Gooll!!" Ia memberikan tepuk tangan sendiri untuk kehebatannya telah memasukan botol minumnya ke tong sampah yang ada di depan kantor.
"Panas juga ya. Bapak nggak kepanasan atau capek kah terus berdiri di situ?" tanya Maya teheran-heran.
"Sudah terbiasa mbak." Jawab bapak itu.
__ADS_1
"Sudah berapa tahun bekerja menjadi satpam pak?" karena tak ada teman mengobrol Maya mengajak satpam gemuk itu mengobrol dari pada gabut nggak jelas.
"Sebenernya saya sudah 20 tahun menjadi satpam, hanya saja di sini saya masih baru." ucapnya.
"Ooo.. terus pekerjaan sebelumnya?
"Di Bank BRI."
Dari setiap jawaban yang diberikan satpam gemuk itu menimbuklkan beberapa pertanyaan baru yang ingin berebutan keluar dari mulut Maya.
"Kenapa nggak di sana lagi?"
"Ya, karena terlalu jauh dari rumah saya. Saya tidak mau anak saya menunggu saya di rumah hinggal larut malam karena dia tidak bisa tidur tanpa saya." jelas satpam itu.
Maya kembali teringat masa kecilnya yang tak bisa tidur ketika ibunya tidak di sampingnya.
"May, kenapa di luar?" tanya Ardi yang baru kembali bersama Dian.
"Nggak boleh masuk." jawab Maya dengan wajah cemberut.
"Maaf Pak Ardi, saya hanya menjalankan peraturan di sini." jelas satpam itu takut disalahkan.
"Iya pak, saya juga lupa bilang kalo adik saya akan kemari." ucap Ardi tidak menyalahkan satpam itu "kenapa nggak kamu telpon abang aja May?" tanya Ardi.
"Nih, Hp ku lobet." Maya menunjukkan ponselnya yang mati.
"Ya udah, ayo masuk. Kasian, udah gosong di luar." ledek Ardi merangkul adiknya dan mengajaknya masuk ke dalam bersama Dia juga.
Ardi menjelaskan tugas Maya selama di satu bulan di kantor. Di sana dirinya harus mulai dari no otomatis ia tidak bisa langsung memiliki jabatan yang tinggi tapi harus menjadi anak magang selama full satu bulan. Jika Maya berhasil, Maya akan naik jabatan dengan perlahan hingga sampai pada direktur utama. Ini merupakan keinginan papa Maya agar sebelum menjadi seorang direktur Maya tau lebih dulu keadaan para karyawannya,
"Hah? Ini nggak adil dong bang." protes Maya.
"Ya tanya ke papamu, abang cuman menyampaikan amanat beliau." jawab Ardi santai.
"Hahahaha.. pasti papa akan menolaknya. Mbak Dian tolong dong bantu Maya." Ia merengek minta bantuan calon kaka iparnya.
"Hehe.. maaf ya May, mbak nggak bisa ikut campur urusan ini." ucap Dia tersenyum. Sebenernya ya kasian sih, tapi ya mau gimana lagii.
"Dan sau lagi, kalo di kantor panggil abangmu yang tampan dan baik hati ini dengan panggilan pak. Oke?" tegas Ardi.
"Baik Bapak Ardi Setiawan. Puas?!"
__ADS_1
"Goodd.. sekarang kamu silahkan pergi menemui Bu Rini, dia yang akan memandumu. Semangat!"