Raja Kampus

Raja Kampus
Tempat Tinggal Baru


__ADS_3

"Reno, sekarang kamu akan tinggal disini." ucap Tuan Wijaya saat Reno melangkah pertama kali ke rumahnya.


"Iya Reno, kamar kamu ada di lantai atas berdampingan dengan kamar Alvin." tambah Mama Alvin.


"Terima kasih." ucap Reno, lalu dibantu Tuan Wijaya untuk naik ke tangga karena dirinya baru saja pulang dari rumah sakit.


Tuan Wijaya membukakan kamarnya yang begitu luas, seoerti luas rumahnya di kampung. Ia kembali berpikir tentang ibunya di kampung.


"Ini kamar kamu, ayah harap kamu akan betah tinggal disini." ucap Tuan Wijaya " tapi ayah ingin minta tolong kamu sebelum ayah bisa meyakinkan keluarga ayah untuk menerima kami. Ayah minta tolong jangan panggl ayah sebagai ayah." Reno hanya tersenyum sakit. Lalu apa bedanya dirinya tinggal di rumah mewah tapi dianggap asing oleh ayahnya sendiri sama dibesarkan oleh pelayan dan diberikan uang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari?


"Om tenang saja, saya juga tidak berharap untuk tinggal disini. Jadi tidak perlu repot-repot meyakinkan keluarga om. Lagi pula saya sudah menganggap bahwa ayah saya sudah meninggal bersama ibu saya." ucap Reno membuat terkejut Tuan Wijaya.


"Bukan itu yang ayah maksud Reno." Tapi Reno langsung menutup pintu kamarnya membiarkan ayahnya diluar dengan rasa penuh bersalah.


********


Tok.. tokk...!!!


"Ada apa pa?" tanya Maya membuka pintu kamarnya.


"Boleh papa masuk?" tanya Tuan Albert.


"Oh iya, masuk aja." Maya mempersilahkan papanya masuk.


Tuan Albert duduk di samping putrinya yang sudah tumbuh besar itu "Besok papa mau ke luar negeri selama 1 bulan kurang lebih." ucapnya.


"Ooh.."


"Papa minta kamu bantu abang kamu di kantor. Kasian dia, bolak balik dari kampus ke kantor setiap harinya. Dia tak lama lagi juga akan menikah dan perlu menyiapkan pernikahannya." pinta Tuan Albert.


"Tapi Maya kan ada kuliah pa." tolak Maya.


"Kamu tidak perlu mengabaikan kuliahmu, jadi misal nanti kuliahmu siang kamu bida datang ke kantor dari pagi sampai siang tapi jika kuliahmu pagi kamu bisa datang ke kantor dari siang sampai sore. Gimana?"


"Abang aja nggak protes harus bolak balik tiap hari. Lagi pula Maya juga bekerja di warung bakso milik teman Maya." Ia terus berusaha menolak karena sejujurnya dirinya tidak menyukai pekerjaan di kantoran yang terlalu jenuh.


"Kalo kamu nggak mau, papa akan sita semua kartu dan mobil kamu." ancam papanya.


"Loh nggak bisa gitu dong pa." Bantah Maya.


"Kenapa tidak? semua barang kamu adalah papa yang belikan, jadi papa berhak menyita semuanya." Kali ini Maya hanya bisa diam dan menuruti perintah papanya.


**********

__ADS_1


"Pagi Ren." sapa mama Alvin yang sedang menyiapkan makanan dibantu oleh pelayan.


"Pagi tante."


"Yukk sarapan dulu!" ajak Ratna.


"Yang lain dimana tante?" tanyanya masih belum ada siapapun yang duduk di ruang makan itu.


"Om Wijaya berangkat lebih pagi, jadi tidak bisa ikut sarapan bersama bareng kita." jelasnya.


"Alvin?"


"Biasa paling masih molor di kamarnya."


"Reno ijin bangunkan Alvin tante." Ijinnya langsung diiyakan oleh Ratna malah sangat dipersilahkan.


Reno kembali naik dan mengetuk pintu Alvin yang berada di samping kamarnya. Beberapa kali ketukan tapi tak ada jawaban. Ia mencoba membuka pintu Alvin dan ternyata pintunya tak terkunci.


"Ini kamar apa kapal pecah?" tanya Reno tak ada kerapian sama sekali di kamar Alvin.


"Woii bangunn!!!" teriak Reno.


"BERISIK!!" Alvin melemparkan bantalnya tepat mengenai wajah Reno.


"Maya datang!"


Seketika Alvin langsung mencari dimana Maya, Reno menunjuk seorang gadis yang baru datang,


"Kirana? Ngaapain kamu disini?" tanya Alvin.


"Jemput kamu." jawabnya.


"Lo bukannya..." Kirana mencoba mengingat pernah bertemu cowok disamping Alvin. Wajahnya sangat tidak asing namun ia lupa namanya.


"Yok bangun... gue mau ke kampus dulu!" Reno menepuk pundak Alvin dengan keras.


"Sialan lo." ucap Alvin.


Reno memulih pergi lebih dulu dan tidak ikut sarapan bareng mereka dengan alasan dosennya sudah ada di kelas. Tapi Ratna meminta Alvin menunggu sebentar untuk disiapkan bekal.


"Makasih ya tante." ucap Reno terharu. Mama Alvin sangat perhatian kepadanya,, ia tak tau perhatiannya itu akan bertahan lama atau tidak setelah tau siapa dirinya ini.


"Ingat Ren, dia wanita yang merebut ayahmu." tegas Reno dalam hati.

__ADS_1


Sudah tiga hari Reno tidak masuk kuliah, suasana sudah tampak berbeda. Disepanjang jalannya menuju kelasnya, ia banyak menemukan perkelahian, pemalakan, dan pembulian dan mahasiswa yang lain hanya menjadi penonton.


Ketika dirinya ingin memanggil Sada, ia melihat di sana Sada bersama beberapa mahasiswa lain. Salah satu mereka mendorong Sada hingga terjatuh. Reno langsung menghampiri mereka dan langsung membalas perbuatan mereka dengan mendorong orang yang mendorong Sada hingga terpental jauh. Semua yang melihat dibuat merinding.


"Lo gapapa?" tanya Reno membantu Sada berdiri.


"Ren, udah ayo kita pergi!" ucap Sada yang tau siapa Doni. Ia tak mau Reno terkena masalah hanya karena dirinya.


"Mereka harus di kasih pelajaran!" tegas Reno.


"Udah Ren, nanti gue ceritakan." Sada menarik paksa Reno untuk pergi dari sana.


Sampai di taman Reno yang kesal langsung mengibaskan tangan Sada "Sekarang lo ceritakan sama gue apa yang terjadi?" tanya Reno.


"Kampus sudah dikuasai oleh Doni. Ia menganggap dirinya adalah Raja Kampus, ia membuat peraturannya sendiri barang siapa yang kuat dia yang akan disegani. Dan yang nggak melawan siap-siap saja menjadi korban bully." jelas Sada.


"Termasuk lo?" Sada pun mengangguk pelan.


"Alvin? Bukankah dia Raja Kampus?" tanya Reno.


"Aku kurang tau sama dia, yang pasti ketika di kampus mereka saling berebutan posisi Raja Kampus. Mereka sama-sama kuat, bak dari segi fisik maupun finansial."


Reno hanya terdiam, ia bertanya-tanya apakah ayah Alvin tau tentang keadaan di kampus?


********


Malamnya Reno mendatangi markas Bos Gondrong untuk menyerahkan hasil tugas pertamanya.


"Nih!!" Reno melemparkan tas yang isinya ada banyak uang tunai dan perhiasan.


Jack langsung mengambilnya, dan melihatnya sendiri. Ia tak percaya jika Reno berhasil mencuri di rumah seorang polisi.  Ia menunjukkan isi tas itu pada Bos Gondrong.


"Sudah gue duga, lo akan berhasil di tugas pertama." ucap Bos Gondrong memberikan tepuk tangan.


"Ini bayaran buat lo." Bos Gondrong memberikan segepok uang dari beberapa gepok kepada Reno, tapi Reno langsung menolaknya. Ia tak tergiur sedikit pun uang hasil rampok itu. Ia hanya ingin memenuhi janjinya dan mengambil kembali kalung ibunya.


"Beneran lo nggak mau?" tanya Bos Gondrong sekali lagi.


"Nggak." jawab Reno tegas lantas pergi dari sana karena belum ada tugas yang harus ia kerjakan.


Kehadiran Reno membuat posisi Jack menjadi kepercayaan Bos Gondrong terancam.


"Gue harus menyingkiran Reno secepat mungkin." ucapnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2