Raja Kampus

Raja Kampus
Bab 13


__ADS_3

“Lo? Ngapain di sini?” tanya Kirana yang sudah tampil cantik.


Maya tak menggubrisnya, ia langsung menuju ruang ganti meninggalkan Kirana karena waktunya siap-siap hanya tinggal 10 menit lagi.


“Mbak Kirana sekarang giliran Mbak untuk maju ke depan menyampaikan sambutan.” ucap salah seorang panitia.


“Baik.” dengan anggun Kirana menaiki panggung dan memberikan sambutan.


“Selamat siang para hadirin semua.” sapa Kirana.


“Bagi saya, kecantikan tidak hanya modal wajah tapi juga hati karena semua wanita itu cantik...”


Di sisi lain Bellina dan Sania terus celingukan mencari Maya yang tak kunjung datang. Tapi tak lama kemudian dia berjalan ke jalur VIP. Sorot kamera yang awalnya merekam Kirana beralih ke Maya. Gaun yang dipakainya penuh dengan gemerlap, warna putih sangat cocok untuk kulitnya yang mulus putih, anting perak, dan kalung berbentuk hati yang melingkar di lehernya. Rambutnya yang panjang dibuat bergelombang, dan dihiasi mahkota kecil. Maya berjalan sambil terus tersenyum dan melambaikan tangannya di atas karpet merah hingga ke tempat duduknya.


“Sorry gays, tadi gue nggak boleh masuk sama panitia.” ucapnya pada dua sahabatnya.


“Kok bisa?”


“Biasa.. karena tampilan gue yang cupu.” jelas Maya.


“Hai Maya, kamu cantik sekali mala mini.” ujar Luna Maya yang namanya sama-sama ada kata Maya nya.


“Terima kasih Kak Luna. Kakak juga cantik sekali.” balas Maya.


“Aku denger kamu juga kuliah di sini ya?”


“Iya kak, baru kemarin masuk.” jawabnya.


“Oalah, semangat ya kuliahnya. Univ ini pasti bangga punya kamu seorang yang bertalenta.” Maya hanya terkekeh kecil.


“Baik, acara selanjutnya kita sambut penampilan dari Kak Maya Tiara Putri.” ucap MC yang diiringi oleh tepuk tangan para penonton.


“Selamat malam semua!” sapa Maya.


“MALAM!!” balas para penonton kencang.


“Sebelum saya bernyanyi, saya ingin menyampaikan sesuatu. Lagu saya yang akan saya nyanyikan adalah lagu ciptaan bu saya. Dia wanita kuat yang tak mudah menyerah. Meski sudah tau memiliki penyakit kanker, dia malah memperbanyak menghasilkan karya karena beliau takut setelah dia pergi semua kenangan tentang dia juga akan ikut pergi. Jadi bagi kalian khususnya para wanita, jangan insecure, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadikanlah kelebihanmu itu untuk menutupi kekuranganmu atau ubahlah kekuranganmu menjadi peluang untukmu dalam berkarir.” ucap Maya penuh dengan motivasi.


“Bagi yang masih hafal dengan liriknya bisa ikutan nyanyi ya..!” pintanya.


~~ (Maya menyanyikan lagu ibunya yang berjudul “Bangkitlah Kawan”) ~~


Suaranya begitu merdu di telinga, Reno yang sejak tadi berada di sana pun semakin takjub dengan Maya. Hatinya mulai tumbuh benih-benih cinta.


Usai acara, Luna langsung menghampiri Maya sambil mengucapkan bangga kepadanya. Sebenernya Maya tau kalo selama ini Luna hanya memanfaatkannya saja, baik untuk untuk bayarin makan, belanja, dan kepopulerannya. Tapi ia hanya diam saja.


"Kalian mau kemana? Aku ikut ya!" ucap Luna sambil menunjukkan wajah melas.

__ADS_1


"Maaf Lun, gimana kalo lain kali aja." ucap Maya halus.


"Oh gitu sekarang. Mentang-mentang kamu udah ada teman baru kamu melupakan aku?" tanya Luna marah.


"Nggak gitu." Maya hanya ingin harinya kali ini tidak diganggu oleh orang lain. Dan jika Luna diajak ke warung bakso Sada pasti akan terus berkomentar buruk entah tempatnya kecil, banyak nyamuk, dan sebagainya karena sebelumnya dia juga pernah Maya ajak ke sana.


"Oke. Fine." ucapnya Lau pergi.


"May." Bellina dan Sania merasa nggak enak pada temannya Maya.


"Gapapa biarin aja. Yuk!" Maya mengajak kedua sahabatnya itu untuk makan di warung bakso Anak Babe.


"May, jangan lupa nanti malam ya." ucap Alvin sambil mengedipkan matanya.


"Hem." jawab Maya malas.


"Kalian balikan?" tanya Sania.


"Nggak. Cuman nemenin dia diner aja." jawab Maya.


"Eits.. sebelum kalian tau tempatnya mata kalian harus ditutup dulu. Biar kelihatan surprise." Maya mengeluarkan 2 tali berwarna hitam yang sudah ia siapkan.


Bellina dan Sania berjalan mengikuti petunjuk Maya. Mereka bergandengan erat taku nyasar. Setelah sampai Maya langsung membuka tali penutup mata.


“Pada hitungan ketiga gue kalian buka tutp mata kalian. Oke!” ucap Maya “1.. 2.. 3..” Bellina dan Sania mulai membukanya.


“Itu karya lukis lo May?” tanya mereka.


“Yaps..”


“Keren banget May, apalagi lukisannya tampak hidup. Tapi itu “Bakso Anak Babe”.” Sania membaca tulisan yang ada di gerobak bakso milik Sada.


“Iya.. jadi ini tuh warung bakso milik teman gue. Kalian wajib coba bakso di sini rasanya enak banget.” ucap Maya mengajak kedua sahabatnya untuk masuk.


“Selama datang 3 bidadari cantik!” sambut Sada.


“Gak usah lebay lo.” cetus Maya “Gue minta tolong buatin 3 porsi bakso ya.. khusus untuk 2 sahabat gue.” pintanya pada Sada.


“Manja kamu May, biasanya juga buat sendiri.” ucap Sada.


“Shutt gue sekarang pembeli di sini. Oke. Pembeli adalah raja.”


“Ya dah… kamu memang selalu bener.” ucap Sada mengalah.


“Enak juga disini. Tempatnya bagus dan nggak terlalu bising dari jalan raya.” ucap Sania senang.


“Bakal betah deh gue paling kalo di sini dari pada di atas panggung yang penuh sorotan kamera. Hal itu sangat membosankan.” ucap Bellina.

__ADS_1


“Ya udah berhenti jadi model dan jadi tour hutan hahaha..” ledek Maya.


“Boleh tuh kapan-kapan gue coba.” Bellina mendapatkan ide baru untuk plan kedepannya.


“Btw, karir lo gimana May?” tanya Sania yang sudah jarang melihat Maya tampil di TV.


“Gue sudah berhenti sejak 1 tahun yang lalu. Lebih tepatnya sih pengen fokus kuliah dulu.” ucap Maya “Bokap gue sangat berkeinginan gue meneruskan perusahaannya.” lanjutnya.


“Ya udah.. semangat deh kalo gitu. Tapi kalo lo butuh apa-apa kita siap bantu kok.” Maya langsung memeluk kedua sahabatnya. Mereka memang yang terbaik.


“Ini nona-nona. Spesial dari Mas Sada.” ucap Sada “Oh ya kira—kira boleh kenalan nggak?” karena mereka teman Maya, Sada memberanikan diri untuk kenalan siapa tau ada yang jatuh hati padanya.


“Bellina.” Bellina menjabat tangan Sada begitu pun Sania.


“Tangannya lembut.” ucap Sada.


“Udah-udah… tu Sad, pembeli lo masih banyak yang belom lo layani.” ucap Maya.


“Iya, capek gue kerja sendiri seharian ini.” keluhnya.


“Reno?”


“Dia ijin nggak ikut jualan karena apa gitu… dan kamu juga nggak bisa bantu. Hadeh..” Maya hanya menepuk-nepuk pundak Sada meminta untuk sabar.


Maya kembali melanjutkan obrolan mereka. Ia menjelaskan alasannya berpenampilan cupu selama di kampus untuk mengobati rasa penasaran dua sahabatnya. Semua ini ia lakukan karena ia ingin hidup normal seperti layaknya mahasiswi biasa. Tidak terganggu dengan para fans terutama para kaum Adam yang matanya jelalatan.


“Bener juga she. Tapi kampus lo kan kampus bergengsi May yang sebagian besar mahasiswanya berlomba-lomba mencari ketenaran. Lo nggak ada yang bully memang?” tanya Sania.


“Ya ada tapi gue cuekin aja.” jawabnya.


“Alvin?” tanya Bellina.


“Dia awalnya nggak tau kalo gue disini, tapi setelah tau dia kadang juga bantu belain gue. ITU KALO NGGAK ADA PACARNYA.”


“Oh si Kirana itu?” Maya hanya mengangkat kedua alisnya mendengar nama itu disebut.


“Lucu juga ya.. belum jadi istri Alvin sudah takut sama pacar apalagi kalo jadi istri. Bisa-bisa Alvin diperbudak istrinya sendiri.” ucap Sania disertai tawa mereka.


“Entahlah, padahal di raja kampus disini. Biarlah itu sudah pilihannya. Gue kan cuman mantannya.” ucap Maya.


“Jujur. Lo masih suka sama dia nggak?” tanya Bellina.


“Nggak sih. Gue sudah suka orang lain.” jawab Maya tersipu malu.


“Idih, siapa hayoh?? Kenalin dong sama kita!” pinta Sania.


“Besok aja kalo udah jadian. Sekarang masih pdkt.” jawab Maya.

__ADS_1


“Oke. Gue tunggu kabar selanjutnya.”


__ADS_2