
"Kamu itu niat magang nggak sih? berangkat kok siang mulu. Enak sekali." ucap Angel rekan bu Rini.
"Sudahlah Angel, Maya masih sekolah dan dia juga udah dapat dispensasi dari Pak Ardi jadi gapapa." jelas Bu Rini.
"Tapi ya nggak adil, Linda temennya aja berangkatnya tiap pgi pulang sore. Lah dia? pasti cuman tengah hari."
"Ada apa ini? Bubar!" ucap Intan, asisten Ardi yang tau siapa Maya.
"Maya, kamu dipanggil bos di ruangan."ucap Intan.
"Ada apa ya bu?" tanya Maya.
"Kurang tau saya."
"Udah kesana saja May, dari pada nanti urusannya tambah panjang." ucap Linda.
Maya ke ruangan Ardi bersama dengan Intan. Di dalamnya terdapat seorang pria yang sedang duduk di mejanya fokus memandang komputer.
"Maaf pak, ada apa ya?" tanya Maya yang sendirian di sana karena Intan hanya sampai luar.
Ardi langsung menghentikan pekerjaannya dan melihat pipi Maya yang sudah seperti biasa,
"Pipi kamu gapapa?" tanya Ardi.
"Nggak kok. Nih gapapa." jawab Maya menunjukkan pipinya yang baik-baik saja.
Tak percaya Ardi langsun menyentuh dan membuat adiknya itu miris kesakiitan. Wajar saja, soalnya tadi tamparannya sangat keras.
"Apa perlu ke rumah sakitt?" tanya Ardi.
"Nggak usah bangg. Gapapa."
"Gapapa kok kamu kesakitan pas di pegang."
"Ya namanya belum sembuh, ya pasti sakit. Udah ah, ini kantor nantii ada yang lihat pula.Ada apa manggil Maya?"
"Oh ya, ini kamu yang desain?" tanya Ardi menunjukkan poster Maya.
"Iya."
"Desainnya bagus, tapi warnanya terlalu polos. Coba kamu ganti warnanya aja gimana biar nggak terlalu polos." jelas Ardi.
"Ooo.. Oke. Ada lagi?"
"Nggak."
"Maya balik dulu ke meja kerja dulu kalo gitu."
__ADS_1
"Eh May, kamu sudah makan?" tanya Ardi.
"Belum."
"Itu ada makanan, bawa aja." tunjuk Adi pada sebuah kotak di mejanya.
"Nggak ah, nggak enak sama yang lain." jawab Maya.
"Ooh.. gitu oke."
Linda sudah tak sabar menanti kehadiran Maya, melihat Maya memasuki ruang kerjanya ia langsung menhampiri Maya,
"Ada apa?"
"Ini... cuman di suruh ganti warna aja. Warnanya terlalu polos." Lega sudah jantung Linda mendengar perkataan Maya.
**********
"Kemana lo semalam nggak pulang? Bokap nyariin tuh." tanya Alvin yang baru pulang kuliah.
"Ada urusan."
"Urusan apa?"
"Kepo banget sih lo." jawab Reno tak suka ada yang mencampuri urusanya.
"Iya deh, orang sok sibuk. Oh ya lo tau, gue mau jalan sama Maya malam ini." ucap Alviin sangat senang.
"Bay-bay. Gue masuk siap-siap dulu."
Dengan modal pinjaman motor Alvin, Reno bergegas pergi ke markas Doni untuk mengambil barang curian Doni tadi siang. Markas itu terletak di sebuah club malam. Sesampai di sana, Reno disambut banyak cewek seksi, tapi ia tak tergoda sedikit pun. Ia langsung menghampiri anak buah Doni yang terlihat sedang berjoget ditengah cewek. Reno langsung menarik tangannya dan menyeretnya ke sebuah sofa yang sepi.
"Dimana bos lo?!" tanya Reno keras karena di sana sangat berisik.
"Hah?! Lo tanya apa?!" tanya pria itu mabuk.
"Bos lo, DONI!"
"Oh Doni, dia sedang bersenang-senang di ruangannya bersama parra cewek seksi." jawabnya jujur.
"Dimana ruangannya?!" Pria itu menunjuk kamar pojok di lantai 2.
Reno bergegas menaiki lantai dan menghajar satu per satu anak buah Doni yang menjaga pintu kamarnya. Mendengar keributan Doni yang sedang bersenang-senang langsung keluar. Sebuah tonjokan tak bisa luput ke pipi Doni. Doni yang tak terima langsung membalasnya. Di tengah gemerlap lampu clup, Doni tak tau siapa orang yang mencari masalah dengan dirinya. Reno dengan gesit menghidar dari setiap serangan Doni dan berhasil memberikan beberapa pukulan kepada Doni hingaga ia tepar. Reno langsung mengambil kotak kecil berwarna merah di sakunya yang berisi sepasang cicin perkawinan..
Cicin tersebut sebenernya adalah cicin pernikahan milik ayah dengan ibunya. Tuan Wijaya dirampok ketika perjalanan pulang dari kantor. Beruntung Tuan Wijaya tak apa-apa, hanya saja semua barangnya hilang termasuk cincin maskawinnya dengan istri pertama. Hal ini tak sengaja Reno dengar ketika Tuan Wijaya menghubungi seseorang untuk mencari tau siapa yang telah merampoknya guna mengambil cicinnya itu ketika dia pergi ke dapur.
Reno tak langsung memberikan benda berharga itu kepada Tuan Wijaya melainkan dirinya membuat kesepakatan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Jika Anda mau cicin ini kembali, beri saya uang seratus juta." ucap Reno.
"100 Juta?" Tuan Wijaya terkejut mendengar uang sebanyak itu "Buat apa kamu minta uang 100 juta?" lanjutnya.
"Itu bukan urusan Anda. Kalo Anda tidak mau memberinya, mudah saja. Cincin ini akan saya jual dan akan mendapakan uang lebih banyak lagi." ucap Reno.
"Tidak, saya tidak akan memberikan uang sebanya itu padamu sebelum saya tau dengan jelas kegunaan uang itu." tolak Tuan Wijaya, ia tak mau anaknya menghambur-hamburkan uang atau menggunakan uang sebanyak itu untuk hal yang tidak baik.
"Oke. Kalo gitu saya akan jual cincin ini." ucap Reno santai meninggalkan ruang kerja ayahnya itu.
"Tunggu. Tapi itu cicin perkawinan saya dengan ibumu. Apa kamu tega menjualnya?"
"Saya tidak peduli." jawab Reno santai.
Melihat Reno terus berjalan, Tuan Wijaya memutuskan untuk memberikan cek pada anaknya itu senilai 100 juta untuk menukar dengan cincinya. Reno menerima sambil tersenyum dan langsung pergi. Tuan Wijaya semakin dibuat curiga dengan Reno atas kerampokannya tadi siang. Apa orang-orang yang merampoknya adalah anak buah suruhan Reno agar dia bisa mendapatkan uang 100 juta.
"Tidak-tidak, aku percaya dia tidak seperti itu." Tuan Wijaya menyingkirkan pikiran-pikiran negatif terhadap anaknya.
Di sisi lain, Reno masuk kamarnya dan mengemasi beberapa bajunya untuk pulang kampung karena Maknya sedang sakit. Kepulangannya itu tak diketahui oleh siapapun karena sebesar itu penghuninya pada sibuk semua. Ia pulang ke kampung halamannya masih dengan motor Alvin.
********
"Bagaimana? Sudah siap tuan putri." ucap Alvin pada Maya.
"Apaan sih lo?!" Maya tersipu malu.
Kini hubungan mereka semakin dekat, tapi Maya menganggap Alvin sebagai sahabatnya. Berbeda dengan Alvin yang menganggap bahwa ini adalah awal hubungan mereka akan dimulai lagi sebagai sepasang kekasih.
"Ingat, jangan pulang malam!" tegas Ardi yang menghampiri mereka.
"Siap Pak Bos." jawab Alvin.
"Maya pergi dulu." pamit Maya.
"Haii.. kalian mau kemana?" tanya Dian yang tak kalah tampil cantik datang ke rumahnya.
"Mau kencan." jawab Alvin.
"Cuma mau jalan aja mbak." jawab Maya tak mau terjadi kesalahpahaman "Mbak kok dandan cantik mau ke mana?"
"Mau kencan juga dong." jawab Ardi.
"Hehe.. tuh udah di jawab." ucap Dian.
"Kencan apaan, ceweknya yang jemput cowok. Nggak romantis sama sekali." ucap Maya malu punya abang seperti Ardi.
"Calon kakak iparmu aja nggak marah kenapa kamu yang sewot. Udah, yuk masuk sayang." Ardi mengajak Dian masuk.
__ADS_1
"Huuuuu....!!!"
"Udah-udah, yuk jalan keburu kemalaman." ajak Alvin.