Raja Kampus

Raja Kampus
Bab 26


__ADS_3

"Ren, gue nitip lo kasih ke Maya ya ini coklat dan bunga!" ucap Alvin sebelum berangkat kuliah tapi Reno tak mau.


"Kenapa nggak lo aja yang berikan?" tanya Reno.


"Yang pertama ada Kirana di kampus, yang kedua Maya pasti langsung menolak pemberiann gue, yang ke tiga lo kan udah janji bantu gue buat balikan sama Maya." jelas Alvin.


"Y. Tapi lo segera putuskan Kirana." tegas Reno yang tak mau Alvin mempermainkan orang yang dicintainya dalam diam itu.


"Iya, ini juga masih nyari waktu yang tepat."


"Selamat pagi anak-anak!" sapa Mama Alvin seperti biasa yang sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Pagi Ma." Alvin duduk di samping papanya begitu juga Reno duduk di samping Alvin.


Pagi ini tidak hanya mereka bertiga yang sarapan bersama tapi juga ada Tuan Wijaya di sana "Ayo Ren, kamu makan yang banyak juga ya." ucap Tuan Wijaya.


"Iya om."


"Ma, nasi." manja Alvin membuat Reno jijik.


"Dasar anak nyokap." gerutu Reno.


"Bilang aja lo iri." balas Alvin pelan.


"Ini, lauknya ambil sendiri. Mana piring kamu Ren, biar tante ambilkan sekalian." ucap Ratna meminta Reno memberikan piring kosongnya "Laukna juga ambil sendiri ya, bebas jangan sungkan."


Lauk yang diambil Reno tanpa sengaja sama dengan lauk yang diambil Tuan Wijaya, Ratna yang sebagai istri merasa heran "kalian ternyata memiliki selera yang sama ya. Lihat kalian makan dengan lauk yang sama." ucap Ratna pada suaminya dan Reno.


Tuan Wjaya yang baru sadar jika anaknya itu memiliki selera makan dan gaya makan mirip dengannya sanga senang. Wajah mungkin boleh lebih banyak mirip ibunya tapi sikap dan selera? Reno lebih mirip dengannya.


Di meja makan tersebut, Reno habis lebih dulu. Selesai makan ia langsung berpamitan berangkat lebih dulu. Mama Alvin menyarankan untu berangkat bareng anaknya dari pada harus naik angkot yang jauh dari rumahnya. Namun, Reno menolaknya dengan halus.


Ketika di kampus, beruntung belum ada yang datang dikelasnya. Reno diam-diam memasukkan bunga dan coklat Alvin ke loker meja Maya. Ia tak tau jika hal itu di lihat oleh Maya yang kebetulan baru mau masuk. Maya tapi mengehentikan langkah kakinya dan segera pergi pura-pura tidak melihat apa-apa pun. Di tengah jalannya, hatinya sangat berbunga-bunga mengetahui dapat bunga dari Reno yang tandanya cintanya tidaklah bertepuk sebelah tangan.


"May, jangan kayak orang gila." ucap Ardi yang berpapasan dengan adiknya.


"Ikut campur aja sih." ucap sinis Maya tak mengiraukan.

__ADS_1


Di pintu masuk gedung, Maya melihat Sada lagi-lagi di cegat oleh oni. Maya hanya diam saja memantau dari kejauhan, ia ingat pesan Sada.


"Mana tugas gue!" tanya Doni pada Sada.


"Oh ya ampun, aku lupa Don. Kemarin aku capek banget jadi nggakku kerjain." ucap Sada.


"Haahhhh... alasan saja lo!" Bentak Doni sambil memukul wajah Sada hingga jatuh.


'Heh lo apa-apaan sih?!" tanya Maya yang mulai geram terhadap perilaku Doni yang seenaknya sendiri.


"Eh Maya, kalo lebih dekat lo lebih cantik juga ya." goda Doni sambil mendekatkan wajahnya ke Maya hingga kedua mata mereka bertemu.


PLAAKKKK!! tanpa disadari Doni, Maya langsung menampar wajah Doni dengan keras.


"Lumayan juga tamparan lo, tapi gapapa it's okey. Gue akan sangat senang menerimanya setiap hari." ucap Doni tidak terlihat marah sama sekali ketika pergi meninggalkan mereka berdua.


"Yok bangun." Maya membantu Sada.


"Makasih ya May."


"Iya, Reno juga bilang akan mengajarkan silat."


Mereka pun masuk ke kelas, Reno terkejut melihat pipi Sada yang memar. Reno berusaha untuk meredakan emosinya karena Sada melarangnya untuk berkelahi dengan Doni.


"Tahan sampai UAS, setelah itu lo bisa hajar dia habis-habisan." ucap Sada.


"Oke. Gue ikutin saran lo." jawab Reno.


Maya yang duduk di bangkunya langsung melihat isi lokernya. Bunga mawar dan coklat kesukaannya. Ia memandang Reno, dalam hati dirinya bertanya "Apakah dia malu atau takut gue tolak kalo memberikan hadiahnya langsung?"


"Cie Maya, dapat bunga dari siapa tuh?" ucap Jesika membuat Luna iri. Selama ini, dirinya dekat dengan Maya tapi tak ada cowok yang meliriknya dan memberikan hadiah.


"Nggak tau." jawab Maya bohong.


**************


"Haduh telat gue." Maya buru-buru mengambil absen di kantornya. Gara-gara ban mobilnya bocor.

__ADS_1


"Maaf bu telat 5 menit. Tadi ban mobil saya bocor." ucap Maya.


"Iya May gapapa." jawab Bu Rini baik hati.


"Mau kerja apa mau jadi model?" sindir salah satu pegawai disana yang melihat Maya mengenakan pakaian mewah dan  dadanan yang dianggap berlebihan menurutnya.


"Emang tampilan saya gimana bu?" tanya Maya.


"Nggak kok kamu cantik, cuman besok haru mengenakan pakaian yang lebih rapi. Soalnya ini kantor." jelas Bu Rini "Mungkin bisa pakai kemeja dan rok."


"Ooo.. maaf bu, saya tidak tau. Tadi habis kuliah langsung buru-buru ke sini." ucap Maya.


"Untuk saat ini kamu saya maafkan, tapi jangan diulangi besok lagi." ucapnya.


"Siapp buu!! Sekarang saya harus ngapain?" tanya Maya bingung harus ngapain di sini.


"Kamu bantu Linda aja, dia juga anak magang. Sekarang dia sedang membuat desain promosi produk kita." Bu Rini menunjuk satu cewek berambut pendek yang sedang fokus membuat poster di meja kerjanya.


"Baik bu, terima kasih." Maya pun langsung menghampiri cewek itu dan menawarlan bantuan. Cewek yang bernama Linda itu menyambutnya dengan ramah. Ia sangat senang mendapakan bantuan, karena sejak tadi otaknya benar-benar buntu.


Perusahaan Maya yang dikelola Ardi merupakan perusahaan yang berggerak di bidang kosmetik. Kali ini mereka akan meluncurkan produk baru berupa sabun. Sabun ini berfungsi unuk melembabkan dan membuat kulit sehat sekaligus memutihkan. Bentuknya kecil, tapi dijamin dapat bertahan lama.


"Sini biar gue coba ya!" ucap Maya mengambil alih tempah duduk Linda.


Pada dasarnya Maya adalah seorang seni, ia pun membuat desain poster promosi berbeda dengan poster pada umumnya. Poster yang  ia buat lebih menonjolkan nilai seni yang sangat erat dengan bahan dasar yang duganakan untuk pembuatan sabun. Kurang dari 10 menit poster itu jadi.


"Gimana?" tanyanya minta pendapat Linda.


"Keren banget May. Ya udah nanti kita konsulkan ke Bu Rini. Makasih banyak ya." ucap Linda senang.


"Sama-sama."


Bu Rini langsung mengacc poster mereka, tapi tidak dengan rekan Bu Rini yang mengatakan kalo poster itu terlalu alay. Rekan Bu Rini yang tak lain adalah wanita yang menyindir Maya sebelumnya.


"Gini aja, nanti saya coba tanyakan ke pak bos ya. Jika pak bos setuju, maka desain kalian akan digunakan saat launching produk." jelas Bu Rini.


"Baik bu, terima kasih banyak."

__ADS_1


__ADS_2