
"Dari mana kamu?" tanya Tuan Wijaya yang melihat Reno baru pulang tapi tidak dihiraukan oleh Reno. Ia terus saja melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya.
Mencium bau alkohol yang sangat pekat, Tuan Wijaya langsung menghampiri untul Reno menghentikan langkahnya. Dicium baju reno untuk memastikan, tapi ternyata benar..
"Kamu mabuk?" tanyanya.
"Bukan urusan Anda." jawab Reno mengibaskan tangan ayahnya itu.
PLAAKK!!!! sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Reno.
"Mau jadi apa kamu? sudah pulang pagi mabuk pula!" bentaknya.
"Memang Anda siapa? Mengatur hidup saya. Saya tau apa yang saya lakukan." tegas Reno lalu pergi tak lagi memperdulikan ayahnya itu. Toh disana dia juga hanya dianggap sebagai anak temannya bukan anak kandungnya sendiri.
Tuan Wijaya hanya bisa diam di tempat memandangi tangannya yang sudah menampar anaknya. Ia menyesal tidak merawat anaknya itu sendiri. Andaikan dulu dirinya merawat anaknya sendiri, pasti Reno akan mendengarkannya. Tapi nasi sudah menjadi bubur.
**********
"Hai cantik!" goda Doni menyambut Maya di depan kelasnya.
Maya yang tidak suka cara Doni tak menghraukannya, tapi tangannya di pegang leh Doni "Tunggu, aku belum selesai bicara." ucapnya lembut.
"Apa?! Lo mau balasa dendam sama gue karena sudah gue tampar?" tanya Maya dengan mata tajam yang menatap Doni.
"Nggak mungkin aku menampar cewek secantik kamu. Aku cuman mau ajak kamu diner malam ini. Kamu harus mau. Oke?"
BUMMM...
Ardi seketika langsung memukul mahasiswa yang telah mengganggu adiknya itu. Doni yang merasa tidak salah langsung membalas pukulan sehingga terjadi adu jodos di anatar mereka. Maya yang berusaha memisahkan malah terkena tamparan Ardi.
"Auu.." ucap Maya kesakitan sambil memegang pipinya yang merah.
"Hahaahahahaa... !" Doni yang melihatnya tertawa puas "Silahkan saja tunggu hasil lanjutannya!" ucapnya lalu pergi.
"May, kamu gapapa?" tanya Ardi khawatir.
"Gapapa. Udah ayo masuk." jawab Maya tidak menyalahkan abangnya.
"Kita harus ke uks." Ardi menarik tangan Maya untuk mengajaknya ke UKS.
"Nggak usah, yang lain udah nunggu. Masuk aja, biar Maya ke UKS sendiri." ucapnya.
__ADS_1
"Abang minta maaf." Ardi memeluk Maya dengan penuh rasa bersalah.
"Gapapa, malu dilihat yang lain." ucap Maya melepaskan pelukannyya.
"Maya ke UKS dulu ya." pamitnya.
Ketika Ardi masuk kelas, semua siswa memandangnya tak percaya jika dosen sebaik Ardi berbuat kekerasan pada Maya.
"Ayo lanjutkan tugas kemarin. Siapa yang maju presentasi hari ini." ucap Ardi kurang fokus hingga lupa absen dulu.
"Saya pak." ucap Jesika.
"Oke, Jesika silahkan maju. Sebentar saya tinggal dulu. Kalian tetep presentasi!" pinta Ardi.
Ardi langsung menelpon Alvin untuk menyusul Maya ke UKS karena ia tak tenang takut terjadi apa-apa sama adiknya itu.
"Halo vin, minta tolong kamu ke UKS sekarang ya. Maya di sana." ucap Ardi.
Di sisi lain, Alvin yang sedang bersama Kirana di kantin langsung pergi berlari ke UKS.
"Ardi! Mau kemana?!" teriak Kirana mengejar cowoknya itu.
Ketika akan membuka pintu UKS, ternyata lebih dulu Maya yang membuka pintunya sehngga dua manta kekasih tersebut saling bertemu dan bertatapan. Mengetahu Maya sedang baik-baik saja, Alvin langsung memeluknya.
"Gapapa, lo kok tau gue disini?" tanya Maya.
Dari arah belakang Alvin, Kirana yang baru datang langsung memisahkan pelukan mereka dan menarik Alvin mundur.
"Lo apa-apaan sih? Semua cowok tampan pengen lo miliki sendiri. Murahan banget!" bentak Kirana.
"Heh, apa maksud Lo?!" Maya yangs udah terbakar emosi langsung menodorong Kirana hingga jatuh.
Kali ini Alvin tidak membantunya, ia malah mangajak Maya pergi setelah mengatakan bahwa dirinya kecewa terhadap sikap Kirana.
***********
Istirahat Ardi di panggil ke ruangan rektor untuk membahas kegaduhan tadi pagi. Ardi sekarang tau jika yang dimaksud kata-kata Doni tadi pagi adalah ini. Dia yang melaporkan tindakan Ardi sebagai tindakan kekerasan dosen kepada mahasiswa.
"Kamu tau akibat dari tindakanmu tadi pagi?" tanya Rektor itu yang ternyata adalah teman papa Maya.
"Tau pak."
__ADS_1
"Apa?"
"Merusak nama baik kampus. Tapi tadi saya sedang membela adik saya dari mahasiswa seperti Doni." Ardi langsung menyebut nama.
"Iya saya tau, tapi kan bisa dengan cara yang baik. Kalo kayak gini bisa-bisa kamu bisa dikeluarkan dari pekerjaanmu." jelas rektor tersebut.
"Karena Doni anak pemilik saham terbesar di kampus ini? Saya tidak takut pak." Ardi sama sekali tidak merasa takut dengan ancaman orang tua Doni "Lagi pula mau terus-terusan baik sama naak seperti dia? yang ada dialah yang menjadi parasit di kampus ini. Banyak mahasiswa yang dibulli, dibuat babak belur hingga masuk rumah sakit, dijadikan pembantu, dan lain sebagainya. Ini kampus pak, tempat belajar mahasiswa belajar dengan merdeka tanpa harus ada perbudakan." ucap Ardi panjang lebar meluapkan semua yang ada di unek-uneknya. "Pemrmisi." lalu pergi meninggalkan kelas.
Rektor sendiri juga bingung harus berbuat apa, yang dikatakan Ardi semuanya adalah benar tapi jika ia melakukan itu sama saja kampus ini diambang kebangkrutan. Di usianya yang hampir menginjak kepala 6 ini bukan hidup bahagia bersama keluarga malah harus mikir urusan orang lain.
********
"DONI!" panggil Kirana datang ke markas Doni dkk.
"Eh ada Bebeb Kirana, ada apa ya tumben datang ke sini?" tanya Doni menyambutnya.
"Gue butuh bantuan lo!" ujarnya.
"Tapi ada imbalannya nggak? karena gue bukan budak lo." tegas Doni.
"Masalah imbalan gampang, mau berapa juta nanti gue transfer tapi gue mau lo harus jadian sama Maya."
"Kalo ini gue setuju, tapi kalo gagal lo yang harus jadi pacar gue." ucap Doni.
"Gue nggak sudi jadi pacar lo." jawab Kirana seketika.
"Ya udah kalo lo nggak mau, gue akan sebar rekaman ini ke Alvin dan Maya." ancam Doni yang ternyata sudah merekam suara percakapannya dengan Kirana.
"Sialan Lo! Sini nggak kasih ke gue hpnya." pinta Kirana merebut hpnya dari tangan Doni. Tapi karena kalah tinggi Kirana tidak bisa meraihnya.
"Oke, Setuju." ucapnya menyerah.
"Sipp.. gue nggak akan menyebar rekaman ini. Aman di tangan gue. Yuk Gaysss ke kantin. Hari ini kalian gue traktir semua." Ucap Ardi sangat senang.
Semua lawannya berhasil tekuk lutut padanya kecuali Maha. Lawan yang dimaksud Doni adalah Kirana dan Ardi. Ia yakin setelah ini Ardi tak akan berani menyentunya lagi. Mereka memborong semua makanan di kantin untuk dibagi-bagikan kepada pengikutnya. Selain pengikutnya tak boleh ada yang membeli atau mengambilnya satu pun.
"Cerdik juga cara lo tadi." ucap temannya menghampirinya.
"Tentu, Doni. Cewek selicik Kirana harus dilawan dengan licik juga. Agar kita bisa menang." jawab Doni.
"Iya deh, lo emang yang paling top dan pantas jadi Raja Kampus."
__ADS_1
"Ini uangnya, lo bayarkan nanti. Gue mau kencan dulu." ucap Doni memberikan beberapa lembar uang merah pada temannya itu.