
“Kenapa kamu nggak ngelawan Alvin Ren?” tanya Sada “Aku yakin kamu pasti bisa mengalahkan mereka semua dengan begitu kamu bisa menjadi raja kampus dan tidak ada lagi yang akan membuli kita lagi.” lanjutnya.
“Bukan ini tujuan gue, gue cuman ingin belajar.” tegas Reno.
“Woi.. mana uang ganti rugi mobil gue.” palak seorang cewek pada Sada.
“Ini, tapi baru terkumpula 2 juta.” Sada pun memberikan semua uang hasil jerih payahnya berdagang bakso pada wanita itu.
“Oke, gue tunggu sisanya.” ucapnya lalu pergi meninggalkan Sada dan Reno.
“Sabar, rejeki pasti akan datang lagi.” ucap Reno.
Tanpa ada angina mereka bertatapan dan kemudian tertawa lepas lebih tepatnya menertawai nasib mereka berdua yang menyedihkan. Tapi setelah itu mereka berjanji untuk tidak menyerah dan akan giat belajar agar dapat mewujudkan mimpi.
*********
“Malam pa.. ma..” sapa Alvin kepada orang tuanya.
“Malam sayang. Ini mama sudah siapakan makanan kesuskaan kamu. Sop buntut.” Mamanya atau Nyonya Wijaya menyajikan makanan untuk anak kebanggaannya yang baru pulang kuliah.
“Wahh.. mama memang is the best.” Dengan lahap, Alvin memakan masakan mamanya itu.
“Gimana Vin kuliahmu?” tanya papanya.
“Lancar pa.” jawabnya sambil mengunyah nasi.
“Papa dengar dari dosen PA mu kalo nilaimu turun akhir-akhir ini. Benar?” tanya papanya mengintrogasi.
“Iya.”
“Kok bisa? Kenapa?”
“Alvin cuman kurang fokus aja pa.” jelasnya.
“Makanya kamu jarang keseringan keluar malam. Soalnya bentar lagi kamu skripsi, setelah kamu lulus papa ingin kamu yang memegang perusahaan papa.” ucap Tuan Wijaya.
“Iya pa, Alvin akan berusaha lebih keras lagi.” ucapnya nurut.
“Oke, kalo kamu kesulitan di mata kuliahmu kamu bilang saja. Papa akan carikan pengajar yang terbaik untukmu.”
“Pa.. Ma.. Alvin ke kamar dulu ya. Mau mandi habis itu istirahat.”
“Iya sayang.”
“Oh ya Vin, kapan-kapan kamu ajak Kirana ya.. sudah lama papa dan mama tidak ngobrol sama dia” langkah Alvin terhenti di tangga dan hanya bisa mengucapkan kata “iya”.
***********
Sada dan Reno kembali keliling berjualan bakso. Seperti biasa, baksonya selalu laku laris manis. Satu persatu pembeli berdatangan. Bahkan yang membuat mereka bahagia adalah mereka mendapat orderan 100 cap untuk acara hajatan di rumah warga.
“Ini beneran buk?” tanya Sada tak percaya.
__ADS_1
“Iya bener. Besok mas bisa antar ke rumah saya langsung?” Reno dan sada langsung mengiyakan.
“Wahhh.. bener kata kamu tadi siang Ren. Rejeki emang tidak kemana.” ucap Sada senang.
“Mas, baksonya masih?” tanya seorang pria yang baru turun dari mobil bersama ceweknya.
“Masih Mas.” jawab Reno.
Sada yang tau itu siapa, menyenggol Reno agar melihat wajah pembelinya “Eh pak. Bapak mau beli beriapa?” tanya Reno sopan karena pria itu ternyata dosennya, Ardi.
“2 porsi ya.” jawab Ardi.
“Siap pak. Silahkan duduk pak.” Sada menawarkan dua kursi duduk untuk Ardi dan ceweknya “itu? calonnya pak?” tanya Sada menggoda.
“Iya, ini calon istri saya.”
“Cantik.” ucap Sada terpesona.
“Sad, ini sudah punya saya ya..” tegas Ardi..
“Iya pak, saya juga udah ada calon sendiri kok. Tak kalah cantik sama calon bapak.” jelas Sada.
“Wahh… mantap tuh. Kalo Reno?” tanyanya pada Reno.
“Saya ingin fokus belajar dulu pak.” jawabnya.
“Bagus. Tapi ya jangan lupa cari pacar juga buat penyemangat.” ucap Ardi sambil terkekeh.
“Cewek yang dapat kamu pasti nanti akan sangat beruntung.” ucap calon istri Ardi yang bernama Dian.
“Ini pakai sambal nggak pak?” tanya Reno.
“Satu sendok semua. Btw, kalian sudah lama jualan bakso?”
“Sudah hampir 2 tahun pak. Ini bakso warisan dari bapak saya. Ini pak silahkan dimakan, nanti jangan lupa reviewnya yaa… hehe..”
Ardi mulai mencoba bakso Anak Babe milik Sada, baksonya memiliki rasa yang khas ada rempah tapi juga rasa dagingnya tidak hilang. Teksturnyanya halus, dan ditambah taburan bawang goreng dan hijau-hijaun sehingga rasa dan baunya menjadi lebih sedap.
“Gimana pak?” tanya Sada sangat menantikan jawaban Ardi.
“Hem… Gimana sayang?” tanya Ardi ke Dian.
“Enak sihh.. hanya saja baksonya kurang banyak.” jawab Dian.
“Alhamdulillah.” ucap Sada dan Reno bersamaan.
“Mungkin kalo ketemu lagi saya bakal pesen banyak deh. Keluarga saya pasti suka baksonya.” lanjutnya.
“Saya bangga sama kalian berdua. Saya berharap bakso kalian bisa semakin maju.” ucap Ardi.
“Em.. kalian sudah punya tempat pangkal?” tanya Dian.
__ADS_1
“Belum bu. Ini masih ngumpulin uang dulu buat nyewa tempat.” jelas Sada.
“Gini aja, kalian pakai aja tempat saya. Kebetulan tempatnya lagi kosong tapi nggak besar sih. Dulunya juga tempat jualan bakso. Gimana?”
“Tapi saya masih belum ada uang buat bayar sewanya bu.” ucap Sada jujur.
“Gampang, kalian bisa bayar kalo sudah ada uangnya. Tempatnya juga tak jauh dari kampus siapa tau bisa menjambah jumlah pelanggan kalian.” jelas Dian.
“Terima kasih banyak bu, pak.” ucap Sada penuh haru.
“Sama-sama, semangat ya.. !! tapi jangan lupa kuliahnya juga.” ucap Ardi.
“Siap pak.”
Di dalam mobil, Ardi memuji kebaikan calon istrinya itu. Ia memang tak salah pilih pendamping hidup. Ia percaya besok Dian akan menjadi ibu hebat bagi anak-anaknya “terima kasih ya sayang.” ucapnya tulus sambil mencium kening Dian.
“Sama-sama, aku juga senang kalo bisa bantu orang. Apalagi mereka kelihatan pekerja keras. Siapa sih yang tak senang membantu mereka.” ucapnya.
“Kamu mau aku antar ke rumah atau ke apartemen?” tanya Ardi.
“Rumah aja, sudah lama aku tidak pulang ke rumah.”
“Oke, siap bos.”
Dian adalah seorang seorang dokter, karena rumah sakitnya lumayan jauh dari pada ia harus bolak-balik ke rumah sakit ia memilih untuk tinggal di apartemen dekat rumah sakit sehingga jika ada panggilan darurat ia bisa langsung datang. Selain menjadi dokter, ia juga memiliki bisnis kecil-kecilan merenovasi tempat yang sudah tak terpakai untuk disewakan kembali sehingga tempat tersebut dapat bermanfaat sekaligus membantu orang yang tak memiliki tempat untuk berjualan.
“Assalamu’alaikum.” salam Dian memasuki rumah mewahnya.
“Wa’alaikumussalam. Kok malam-malam gini datangnya? Nggak ngabari pula.” ucap ibunya yang langsung menyambutnya dengan cipika cipiki.
“Iya ma, Dian kangen sekalian mau nginep soalnya besok libur nugas.” ucap Dian.
“Selamat malam tante.” sapa Ardi.
“Malam calon mantu. Udah dibilang panggil mama aja masih panggil tante.” Ardi hanya terkekeh menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Iya Ma.” ucapnya agak canggung.
“Oh ya, tante masakin bentar ya.. soalnya makanannya udah habis. Tadi ada tamu juga.” Ardi langsung menolaknya dengan halus karena perutnya sudah kenyang setelah makan bakso.
“Iya ma, kita tadi habis makan bakso. Dan baksonya itu enak banget. Kapan-kapan Dian bawakan. Oh ya papa mana?” tanya Dian tak melihat papanya.
“Udah tidur, lagi nggak enak badan tadi katanya.” jelas Mamanya.
“Ya udah ma, titip salam buat papa ya. Saya permisi dulu sudah malam.” pamit Ardi.
“Iya nanti mama sampaikan ke papa. Besok jangan lupa ke sini ya.. kalo bisa pagi kita sarapan bersama. Sudah lama kita nggak makan bareng.” ajak Mamanya Dian yang sudah menganggap Ardi seperti anaknya sendiri.
“Siap ma. Besok Ardi ke sini pagi-pagi sekali kalo bisa malah habis subuh Ardi langsung kesini.” ucapnya.
“Aku pegang yaa.. ucapanmu.” ucap Dian.
__ADS_1