Raja Kampus

Raja Kampus
Bab 17


__ADS_3

“Ini bos, foto anak bos yang saya terima.” ucap seorang pria memberikan foto Reno, seketika Tuan Wijaya ingat OB yang mengantarkan kopi di ruangannya.


“Ini kekurangan bayaran kalian.” Tuan Wijaya memberikan segepok uang yang tertutup amplop coklat.


*******


“Kamu nggak ke kantor Ren?” tanya Sada yang sudah tau jika Reno Part Time menjadi OB di kantor Tuan Wijaya.


“Gue sudah mengundurkan diri.” ucapnya sambil terus membersihkan meja warungnya.


“Orang tuamu sudah ketemu?” tanyanya.


“Gue udah tau dan jangan lo bahas itu lagi di depan gue.” ucap Reno kesal saat mendengar kata orang tua.


Ayahnya di sana hidup bergelimpangan harta bersama keluarga bahagianya sedangkan dirinya dititipkan pembantunya. Baginya kini ayahnya sudah tiada, Tuan Wijaya adalah ayah Alvin.


“Hai Ren!” sapa Maya kini sudah tampil cantik “temenin gue jalan-jalan yuk!” ajaknya.


“Nggak gue lagi sibuk.” tolak Reno lalu pergi meninggalkan Maya.


“Kenapa dia?” tanya Maya pada Sada.


“Gapapa, dia hanya butuh waktu saja. “ jawab Sada.


“Yah.. gagal deh, padahal gue mau ajak dia kencan.” ucap Maya cemberut.


“Pacaran aja belum udah kencan. May.. May.” Sada tertawa mendengarnya.


“Ya terserah gue dong. Bay!” Maya kembali ke mobil mewahnya dan pergi.


**********


Hari ini semua penghuni universitas sedang ribet mempersiapkan acara penyambutan pemilik Universitas Kebanggaan Bangsa sekaligus terdapat pengumuman tentang program beasiswa baru yang akan diadakan oleh pihak universitas.


Maya kini sudah tampil seperti Maya asli. Orang-orang yang dulu membulinya mulai mendekatinya kembali untuk diajak berteman termasuk Jesika. Siapa sih yang nggak mau berteman dengan wanita cantik, pintar, anak konglomerat.


“May, maafin gue ya.” ucapnya.


“Sans.” jawab Maya santai sambil membolak-balikkan buku yang ia baca.


“May, maafin gue yang kekanak-kanakan kemarin.” ucap Luna mulai mendekati Maya lagi.


“Oke.” jawab singkat Maya.


Sebenernya ia tak suka dengan sikap teman-temannya sekarang yang penuh dengan wajah palsu sebagian besarnya. Meski kini tampilan Maya berubah, tapi hatinya tak berubah.. dirinya malah senang berteman dengan mahasiswa biasa karena pertemanan mereka lebih tulus.


“Oh ya nanti pemilik sekolah akan datang, setiap jurusan diminta perwakilan untuk menampilkan sastra dan dari jurusan kita belum ada yang maju. Mungkin di sini ada yang tampil?” ucap sang ketua kelas menyampaikan informasi di depan kelas.


“Ayo Sis, lo kan pinter puisi.” ujar salah seorang yang ada di kelas.


“Nggak, yang lain mungkin.” ucapnya karena merasa minder.

__ADS_1


“Gapapa Sis, nanti gue bantu iringan permainan piano.” ucap Maya.


“Tapi May, gue udah lama nggak latihan.” ucap nya.


“Gapapa, kita latihan bareng sekarang aja. Masih ada waktu 3 jam.” ucap Maya.


Sekarang pukul 10, sedangkan acaranya akan di mulai pukul 13.00 dengan motivasi yang Maya berikan, akhirnya Siska pun menyetujuinya.


******


Alvin yang baru pulang bertanding terkejut mendengar sahabatnya terluka parah. Ia langsung ke rumah sakit untuk menjenguk Rio. Rio yang sudah sadar tak tahan harus nginep beberapa hari di rumah sakit karena pada dasarnya ia tak menyukai bau obat.


"Vin, bantuin gue dong, biar bisa pulang lebih cepat." ucap Rio melas.


"Nggak mau gue. Yang ada nanti gue kena omel nyokap Lo." tolak Alvin.


"Nyokap gue lagi pergi ke Singapura, jadi aman."


"Tapi nanti yang rawat Lo di rumah?" tanyanya.


"Kan ada pembantu gue, aman lah." ucapnya.


"Oke nanti gue pikirkan caranya. Oh ya Bima nggak datang?" Sejak tadi Alvin tak melihat sosok Bima.


"Baru aja pulang dia."


"Oalah.. tapi dia gapapa kan?" tanyanya khawatir.


"Yahh Lo juga terburu-buru. Bima pasti punya alasan kenapa nggak melawan." bela Alvin.


"Orang dia terus menghina Genk Serigala, siapa yang nggak naik darah."


"Oke, besok gue urus mereka. Gimana Kirana? Dia tau kalo Doni kembali?" Alvin tak ingin Kirana dalam bahaya lagi.


"Dia kemarin izin nggak masuk beberapa hari karena ada acara di luar negeri. Kayaknya belum tau sih."


"Syukur deh." Hati Alvin sedikit lega.


"Gue balik kampus dulu ya. Hari ini ada penyambutan bokap. Katanya ada pengumuman yang harus disampaikan kepada para mahasiswa."


"Pengumuman apa?" tanya Rio yang penasaran.


"Nggak tau juga gue."


"Jangan lupa nanti balik jemput gue!" pinta Rio mengingatkan.


********


Semua mahasiswa yang berjumlah kurang lebih 5 ribu Mahasiswa berkumpul di aula.


"Sad, Lo masuk dulu. Gue mau ke toilet." ucap Reno.

__ADS_1


"Oke. Jangan lama-lama. Bentar lagi acaranya dimulai." ucapnya.


"Iya."


Reno berjalan mencari kamar mandi. Tapi tak sengaja di jalan ia menemukan kunci mobil seorang pria jatuh. Ingin ia ambil, ia sudah tak tahan kalo tak ia ambil di sana sedang sepi orang. Alhasil


"Sial..!" Reno pun akhirnya menahan perutnya yang kebelet berak dan mengejar pemilik kunci mobil yang baru lewat.


"Pakk!!" Panggilnya sambil berlari.


Orang yang berjas itu berhenti dan menoleh k arah panggilan. Reno terkejut siapa yang ia panggil, ternyata Tuan Wijaya.


"Kamu?" ucap Tuan Wijaya.


"Maaf, ini kunci mobilnya tadi jatuh." ucap Reno memberikan kunci mobil itu.


"Terimakasih."


"Oh ya kamu yang...,." belum selesai Tuan Wijaya berbicara, suara kentut Reno sudah mendahului.


Reno akhirnya langsung pergi karena benar-benar tak tahan lagi. Tuan Wijaya yang melihatnya hanya tersenyum.


"Persis seperti ibunya." ucapnya.


"Pa, sudah ditunggu." Ucap Alvin yang menghampiri Tuan Wijaya.


"Oh iya."


Selesai buang air besar Reno balik ke aula mencari keberadaan Sada. Tapi karena tak mungkin ia menemukan temannya it ditengah kerumunan akhirnya Reno asal duduk. Di sana ia fokus mendengarkan pengumuman tentang permodalan penuh yang akan diberikan kepada mahasiswa yang akan mendirikan sebuah bisnis. Tidak hanya itu, bagi mahasiswa yang berprestasi dalam segala bidang baik akademik maupun non akademik akan digratiskan UKT nya dan bahkan akan disekolahkan lagi hingga S2.


Penjelasan Tuan Wijaya diakhiri dengan tepuk tangan yang meriah, di samping bangku Reno mengatakan "Beruntung ya kita bisa sekolah di sini, pemilik kampus sangat memperhatikan mahasiswa kalangan tengah ke bawah."


"Iya. Aku denger juga katanya dia juga memiliki yayasan sosial dan mendirikan banyak sekolah gratis bagi orang-orang yang tidak mampu." tambah satunya lagi.


"Alvin pasti sangat bangga ya sama papanya." ucap orang itu lagi.


Reno yang mendengarnya hanya diam saja, telinganya panas mendengar teman-temannya memuji orang di depan sana yang tak lain ayahnya.


"Hai." sapa Maya pada Reno yang duduk dibelakangnya.


"May. Ngapain Lo duduk di sini?" tanya Reno.


"Gue habis tampil tadi, di depan penuh." jelasnya.


"Oalah.."


"Jangan bilang Lo nggak lihat penampilan gue tadi?" Reno menggeleng dengan menjelaskan dirinya di kamar mandi.


"Ren, habis ini temenin aku jalan-jalan ya!" ajak Maya yang kemarin sempat gagal.


"Kemana?"

__ADS_1


"Ada deh, nanti Lo tau sendiri. Mau nggak?" Karena nggak enak sempat menolak Maya sebelumnya Reno pun mengiyakan ajakan Maya.


__ADS_2