Raja Kampus

Raja Kampus
Bab 6


__ADS_3

"Apa kabar?" Sapa Alvin saat Maya sendirian minum.


"Sangat baik." jawabnya.


"Syukur deh. May, gue mau minta maaf sama Lo." ucap Alvin.


"Udah gue maafin."


"Kalo gitu kita bisa balik lagi kayak dulu?" tanya Alvin penuh harap.


"Jangan gila Lo, bagaimana dengan Kirana?" Maya kesal sikap Alvin masih saja seperti dulu.


"Gue terpaksa harus pacaran sama dia karena bokap. Jujur gue nggak suka sama dia." jelas Alvin langsung mendapat tamparan dari Maya.


Kirana yang tau cowoknya ditampar langsung mendorong Maya hingga hampir terjatuh.


"Kirana!" Bentak Alvin.


"Sayang, kamu kok malah belain dia. Ini aku belain kamu loh." ucap Kirana kesal.


Maya yang tak mau terlibat dengan urusan mereka pergi begitu saja. Alvin hang ingin mengejarnya ditahan sama Kirana.


"Oke deh, aku minta maaf. Janji." ucap Kirana sambil menunjukkan wajah sok imutnya membuat Alvin tak tega.


*********


“Sooo… bakso-bakso” teriak Sada dengan nada khasnya. Reno yang ikut sedikit terkekeh mendengarnya.


“Baksooo!” Sada malah berteriak keras sambil memukul mangkoknya agar di dengar oleh orang-orang.


Tak lama kemudian ada satu orang yang menghampiri Sada untuk membeli baksonya. Rasanya yang khas dan wadahnya berbeda dengan bakso pada umumnya yakni wadah es krim menjadi ciri khas bakso ini.


“Makasih ya bang.” ucap pembeli itu.


“Oke, neng. Jangan lupa balik lagi yaa..” balas Sada senang.


Sepergian wanita itu, Sada tak lupa bersyukur. Ini adalah awal rejekinya setelah 3 hari tidak jualan. Reno yang penasaran pun bertanya pada Sada mengapa wadahnya cap pop ice bukan plastic pada baksu umumnya.


“Soalnya kalo wadah plastic, banyak orang yang kesusahan makannya, kalo orang desa mungkin biasa tapi tidak dengan orang kota. Dengan wadah cap, mereka bisa makan dimana saja tanpa harus kesusahan.” jelasnya.

__ADS_1


“Cerdas juga lo.” ucap Reno.


“Anak manajemen ya harus pintar cara menarik pelanggan.”


“Tapi bukannya mahal ya harga capnya. Nggak rugi lo?” tanya Reno lagi.


“Ya langsung ambil dari pabriknya dong. Kebetulan ada temenku yang bekerja di pabrik pembatan cap jadi tinggal nitip. Kalo beli di toko mana berani gue Makai cap.” ujar Sada sambil terkekeh.


“Mantap.Mantap.” dua jempol langsung Reno berikan untuk Sada.


“Coba deh, lo teriak Sooo.. Baksooo!” pinta Sada.


“Nggak ah, gue yang bagian mukul mangkok aja.” ucapnya malu.


“Lo nggak malu?”


“Kenapa harus malu. Kan halal. Lagi pula sekecil apapun usaha kita kitalah bosnya. Jadi seharusnya kita harus bangga.” jawab bijak membuat Reno tertegun “Gimana, lo mau coba?” tanya Sada lagi tapi Reno masih menggeleng.


“Oke. Lo yang mukul gue yang teriak. SOOO.. BAKKKSSOOO!!”


“Ting.. pyarr!!” baru sekali mukul mangkok yang dipegang Reno malah pecah membuat mereka berdua terkejut.


“Maaf. Tadi beneran nggak kenceng kok mukulnya.” ucap Reno yang merasa pelan “mungkin memang mangkoknya sudah rapuh.”


“Mungkin iya, karena mangkok itu di pukuli selama 1 tahun.” ucap Sada.


“Bentar.” Reno pergi mengambil sesuatu dan kembali membawa kayu dan toples aluminium yang tak sengaja ia lihat di perjalanan tadi.


“Boleh juga tuh.” ucap Sada tak masalah jika suara mangkunya berubah menjadi agak sedikit cempreng.


Tak terasa hari sudah malam, jam menunjukkan pukul 11 malam. Bakso Sada laris manis ini juga berkat bantuan sedikit ketampanan Reno yang membuat para cewek tertarik membeli baksonya. Sada jadi memiliki ide untuk mengajak Reno berjualan dan akan membayarnya. Reno yang sedang mencari pekerjaan untuk mengisi dompetnya pun setuju saja.


Ketka mereka dalam perjalanan pulang, beberapa orang sudah berdiri di depan dengan benda-benda tajam di tangan kananya. Sada sudah mulai merinding, ia lupa kalo di sini sering terjadi pembegalan di jam 11 ke atas.


“Ren, ayo balik. Sumpah aku takut. Mereka besar-besar tubuhnya.” ucap Sada.


Reno pun menurutinya. Namun ketika mereka ingin berbalik. Salah seorang begal itu berteriak dengan lantang menyuruhnya untuk diam di tempat. Sada yang ketakutan sampai kencing di celana tapi tdak dengan Reno yang tak gentar sedikit pun.


“Serahkan uang hasl dagangan lo sekarang!” ucap seorang berbadan besar sambil menarik kerah baju Sada.

__ADS_1


Sada memilih menyerahkan semua uangnya dari pada harus menyerahkan nyawanya. Dengan tangan gemetar ia mengambil uangnya yang ada di dompet. Tapi Reno mencegahnya.. ia tau, meskipun Sada menyerahkan uangnya ia tetap akan di bunuh.


“Bang.” bisik salah satu temannya sambil menunjukkan foto di hpnya.


“Oh.. ternyata lo yang buat teman gue patah tangan dan akhirnya harus gantung diri.” ucap orang itu yang tak lain adalah Jack.


Mendengar itu ada sedikit rasa tenang yang menyelimuti Sada. Ia langsung bergegas bersembunyi di belakang tubuh kekar Reno.


"Ayo Ren, aku yakin kamu pasti bisa mengalahkan mereka." Sada memberikan semangatnya.


"Tadi ngajak pergi, sekarang nyuruh lawan. Huu.."


"Sekarang Lo harus merasakan apa yang temen gue rasakan!" ucap Jack meminta teman-temannya maju duluan.


Reno dengan santai meladeni mereka. Satu persatu anak buah Jack dibuat patah tulang. Kini giliran Jack yang maju. Ia langsung menghantamkan tinjunya ke wajah Reno. Mereka memiliki skill perkelahian yang impas tapi bukan berarti Reno tak bisa mengalahkan Jack meski harus berakhir dengan wajah babak belur.


"Memang bener keren kamu Ren." ucap Sada menghampiri Reno.


"Udah, ayok pulang! Sebelum mereka datang lebih banyak lagi." ucap Reno pergi meninggalkan para begal itu yang masih terkapar.


Sada langsung mengobati luka Reno, ia juga meminta Reno untuk menjadi gurunya silat agar tidak ada lagi yang membulinya di kampus.


"Nggak enak bisa berkelahi itu, banyak musuhnya." Jelas Reno yang selalu bertarung tanpa sepengetahuan makanya waktu di kampung.


"Tapi kan selama kuat banyak juga musuh yang takut dan akhirnya jadi anak buah." ucap Sada.


"Terserah Lo. Gue mau tidur." Reno memilih meninggalkan Sada di ruang tamu kosnya. Tubuhnya capek habis berkelahi.


********


"Dari mana May?" tanya Risa yang belum tidur.


"Kepo banget sih." jawab Maya langsung naik ke atas menuju kamarnya.


"Ya kepo lah, soalnya saya punya kewajiban jaga kamu. Kamu itu cewek, tidak pantas kalo pulang sampai larut." Maya hanya melambaikan tangannya.


"Paling-paling buat nyari perhatian bokap... " ucap Maya.


Ia langsung melemparkan tubuhnya ke kasur empuk, rasanya sangat nyaman sekali seperti kenyamanan yang diberikan oleh Alvin dulu tapi tidak dengan sekarang.

__ADS_1


"Bisa-bisanya Alvin milih cewek seperti mak lampir. Eh.. tapi wajah cewek itu seperti tidak asing. Apa gue pernah ketemu ya sebelumnya?" Maya berusaha mengingat-ingat kembali wajah itu di kampusnya.


__ADS_2