
Reno yang baru sampai terlihat terkejut dengn keadaan warungnya yang seperti lautan manusia. Ia berjalan perlahan menuju gerobak bakso sambil memperhatikan tempat sekitar. Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi di sana ada banyak orang yang membantu seperti Bima, Rio, dan 2 cewek yang tak ia kenal memakai celemek. Ia pun memutuskan untuk berjalan ke dapur.
“Sada, minta tolong buatkan anak ini bakso ya!” pinta Reno.
Maya semula mengobati luka tangan Alvin terkejut dan langsung melepaskan tangan Alvin “Ren, lo kapan datang?” tanyanya salah tingkah.
“Baru.” ucap reno santai.
“Oh ya ini tangan Alvin tadi kena kuah bakso, jadi gue obtain.” ucap Maya menjelaskan yang sebenernya padahal Reno biasa aja tanpa Maya menjelaskannya.
“Aduh May, ini masih sakit.” ucap Alvin acting agar Reno cemburu.
“Oh sorry.” Maya kembali fokus mengobati tangan Alvin tapi sekilas ia melirik raut wajah Reno yang terlihat biasa aja.
“Ini Ren, sudah jadi.” Sada memberikan pesanan bakso Reno.
“Dek ini dimakan dulu ya..” ucap Reno lembut pada anak kecil itu.
“Bang, ini boleh saya bawa pulang aja nggak? di rumah ibu dan adik saya belum makan soalnya.” ucapnya seketika membuat Reno teringat Maknya yang ada di kampung.
“Di rumah kamu ada berapa orang?” tanya Reno.
“2 orang, adik dan ibu saya.” jawabnya.
“Tunggu sebentar ya..” Reno meminta sada untuk membuatkan 2 porsi lagi nanti dia yang bayar.
“ternyata dia hanya cuek di luar tapi hatinya sangat lembut.” ucap Maya dalam hati.
“Ini ya dek, kamu bawa pulang dan berikan pada ibu dan adikmu.” ucap Reno.
“Makasih banyak ya bang.” ucap anak itu langsung berlari pulang.
“Wahh parah lo bro.. malah baru datang dijam segini!” ucap Rio pada Reno yang kelelahan mondar-mandr mengantarkan bakso.
“Oh.. jadi lo nggak ikhlas nih bantuin kita?” tanya Sania.
“Iya..iya. Cewek memang selalu menang.” ucapnya.
“Tuh tau, ya udah lanjut tuh masih banyak bakso yang harus di antarkan.” perintah Sania.
Jam 3 akhirnya bakso Sada ludes, Rio dan Bima langsung tiduran di atas karpet karena kelelahan. Mereka tak pernah melakukan pekerjaan seberat ini.
“Capek banget gue Bim.” ucap Rio.
__ADS_1
“Ya sama. Tapi ya gimana? mereka best friend kita.” ucapnya lalu tertidur.
Sebenarnya, sebelum memasuki perkuliahan, Alvin dkk dan Maya dkk adalah sahabatan sudah dari SMP, bisa dikatakan kalo mereka seperti saudara yang saling membantu dan melindungi satu sama lain hingga Maya dan Alvin jatuh cinta. Tapi meskipun sekarang mereka sudah putus, itu tak akan mempengaruhi persahabatan mereka.
“Keras juga lo San sama mereka?” ucap Maya.
“Iya.. biarin. Sekali-kali mereka harus disuruh kerja keras.” jawab Sania.
“Oh ya.. ini bayaran untuk kalian.” ucap Sada memberikan masing-masing mereka 200 ribu karena sudah membuat baksonya laris manis.
“Ini beneran cuman 200 ribu?” tanya Bellina.
“Iya lah, ini sisanya buat modal lagi besok.” Jelas Sada menunjuk sisa uangnya.
“Ini mah cuman buat beli makan kucing gue, mahalan makanan kucing gue malah.” ucap Sania.
“Nggak usah lah, nih buat lo aja.” ucap Maya mengembalikan semua uang yang diberikan Sada.
“Loh kenapa?” tanya Sada.
“Kita sudah punya uang, mending buat mengembangkan lagi bisnis lo ini aja.” jelas Sania.
“Yakin?” tanya Sada.
“Makasih ya.. hehe.” ucap Sada.
“Udah jam tiga nih, gue pamit pulang dulu ya.. lengket banget tubuh gue.” ucap Sania dan Bellina berpamitan.
“Makasih ya gays, hati-hati!” ucap Maya.
Yoi, mereka berpelukan satu sama lain begitu juga sama Alvin, tapi giliran Sada mau ikut, Alvin langsung menarik tubuhnya agar menjauh “Lo, nggak boleh ikutan meluk ade-adek gue.” tegas Alvin.
“Sejak kapan kalian adek kakak?” tanya Sada.
“Pokok lo nggak boleh ikutan meluk! Udah sana kalian pulang. Titip salam buat om sama tante.” ucap Alvin mengusir Bellina dan Sania.
“Y.” jawab mereka.
“Oh ya May, kamu aku antar ya sekalian membahas tempat kita diner nanti malam!” pinta Alvin.
Sebelum menjawab iya, Maya tak lupa melihat wajah Reno. Ia berharap Reno akan cemburu padanya. Tapi kenyataannya ia tak cemburu.
“Terus itu mereka berdua?” tanya Sada menunjuk Rio dan Bima yang tertidur pulas.
__ADS_1
“Biarin, nanti mereka bangun dan pulang sendiri.” ucap Alvin.
Sepergian Maya dan Alvin, Sada menyenggol Reno menanyakan apakah Reno benar-benar tdak cemburu? tapi inilah jawaban Reno.
“Nggak. Lagi pula, gue siapanya Maya.”
Dari nadanya yang nggak enak, Sada yakin kalo temannya itu cemburu. Reno segera membereskan semuanya kemudian pulang ke kosnya meninggalkan Sada yang masih harus menunggu Rio dan Bima bangun karena ia harus membereskan karpetnya.
Seperti yang disarankan OB tadi siang, Sada meminjam laptop Sada dan mencari informasi tentang Wijaya Pratama. Dari segi wajah, beliau memang mirip dengan ayahnya, tapi namanya berbeda. Selain itu, Pak Wijaya Pratama sudah berkeluarga dan memiliki anak 1, yakni Alvin.
“Apa dia bener-bener ayah gue? Gue harus selidiki.” ucap Reno.
Sebenernya ia tak lagi membutuhkan Ayahnya, hanya saja dirinya penasaran dengan orang yang meninggalkan anaknya untuk hidup bersama pembantunya selama 23 tahun lamanya dan sama sekali tidak menjenguk bahkan tidak memberikan kabar.
********
Sepulang kuliah, Reno berjalan menuju kantor Wijaya Pratama, dan dirinya melihat lowongan pekerjaan. Tanpa pikir panjang, Reno langsung masuk dan melamar pekerjaan tersebut menjadi OB dengan pilihan part time karena bagaimana pun Ia tak bisa meninggalkan kuliahnya.
Setelah di terima, ia mengatakan pada Sada kalo tak bisa membantunya banyak untuk saat ini.
“Iya Ren gapapa kok, orang tua lo yang lebih utama.” ucap Sada yang bisa memahami Reno.
“Makasih ya.. tapi kalo gue libur, gue bisa bantu lo setengah hari di warung.” ucap Reno nggak enak.
“Iyaa.. santai aja.” ucap Sada.
“Hai Sada Reno.” ucap seorang wanita mengunjungi mereka.
“Bu Dian.” ucap Sada senang “Sudah lama Bu Dian tidak kemari. Silahkan duduk Bu, saya buatkan Bakso dan Es teh.” lanjutnya.
Dia pun duduk memandang sekeliling yang mulai banyak berubah “Kalian memang keren, mampu merubah tempat kosong menjadi seindah dan senyaman ini.” ucap Dian.
“Alhamdulillah bu. Ini juga berkat bantuan Maya.” jawab Reno.
“Maya?” Dian tak percaya.
“Iya, Maya yang melukis ini, dan sering kali mengajak teman-temannya untuk memmbantu kami berjualan.” jelas Reno.
“Anak itu emang pekerja keras tapi tidak dia tunjukkan pada ayahnya karena ayahnya hanya ingin Maya adalah anak yang manja dan hobinya menghamburkan uang saja. Tapi meski demikian Ayahnya tidak marah karena merasa itu juga kesalahannya karena kurang memperhatikan Maya.” ucap Dian.
“Ini bu bakso dan es tehnya, silahkan di nikmati.” ucap Sada.
“Terima kasih Sada.”
__ADS_1