
“Gue denger ada warung bakso deket pagar belakang kampus.” ucap Rio saat sedang makan di kantin.
“Paling-paling nggak higenis.” ucap Bima.
“Nih tempatnya.” Rio menunjukkan foto warung bakso itu yang rame di Twitter mahasiswa UKB (Universitas Kebanggaan Bangsa).
“Wihh keren juga tempatnya. Gimana kalo nanti pulang sekolah kita ke sana?” ajak Bima.
“Boleh, gas aja. Katanya sih milik mahasiswa baru prodi Manajemen Bisnis.”
“Update juga lo Yo, sama mahasiswa baru.” ejek Bima.
“Loh.. Rioo..” ucap Rio bangga “Apa sih yang nggak Rio tau. Gimana Vin, lo mau ikut nggak?”
“Nggak ah, lagi malas.” jawab Alvin.
“Yakin, ada Maya juga loh..” ucap Rio.
“Ya udah deh. Gue ikut.”
************
“Bang beli baksonya 5 porsi ya..!” ucap pembeli.
“Gue dulu bang. Gue udah nunggu dari tadi.” ucap salah satu dari mereka.
“Sabar ya mbak-mas. Ini tangan penjualnya cuman 2.” ucap Sada.
Hari ini pembeli Sada di luar dugaan. Banyak mahasiswa dan juga masyarakat yang lewat memborong bakso Sada. Beruntung hari ini mereka tidak ada jam mata kuliah jadi bisa berdagang dari pagi. Tapi masih siang baksonya sudah mau habis. Nggak hanya bakso yang laku, buku-buku di sana juga laku dibaca orang-orang yang sedang ngantri. Ada Koran, majalah, novel, komik, dan buku-buku ringan lainnya. Maya di sana ikut bertugas mengantarkan pesanan ke pembeli yang duduk di kursi. Sada meracik baksonya, dan Reno yang bagian minumannya.
“Sad. Pesan bakso 10 porsi ya..!” teriak teman-teman sekelasnya yang duduk dibawah pohon rindang.
“Oke bro.” balas Sada.
“Sad, gue beli es batu dulu ya.. es nya lagi habis.” ijin Reno.
“Oke, hati-hati.”
“Sada, yang kursi sebelah sana sudah?” tanya Maya.
“Bentar May ini baru aku buat. Nih.” Sada memberikan nampan yang berisi 3 cap bakso untuk diantarkan ke customernya.
“Ini mbak-mas, silahkan dinikmati baksonya.” ucap Maya ramah.
“Makasih ya mbak.”
“Mbak, esnya mana ya?!” teriak seorang yang kepedesan pada Maya.
“Ini mas, sebentar baru beli es batu.” ucap Reno yang baru sampai.
__ADS_1
“Oke, cepat ya mas, kepedesan ini.” pintanya.
“Oke.”
“Mana, biar gue antar.” ucap Maya.
“Nggak usah, lo istirahat aja. Muka lo sudah kelihatan banget capeknya.” ucap Reno perhatian.
Maya membantu mereka sejak dari pagi dan dia tidak terbiasa dengan banting tulang sehingga baru setengah hari tenaganya sudah terkuras. Ia pun akhirnya memilih duduk di kursi belakang sambil mengeluarkan kipas mininya karena disini nggak ada kipas anginnya.
“Woi.. minggir dong.” usir Rio pada pembeli Sada agar dapat tempat duduk.
Mereka pun yang mengenal siapa 3 orang itu pun langsung minggir mencari tempat lain. Reno yang melihat tak suka dengan cara Rio yang seenaknya sendiri. Ia pun langsung menghampiri mereka.
“Mas, gapapa duduk disini aja.” ucapnya.
“Lo berani sama kita?!” tanya Rio.
“Gapapa mas, gue disini aja.” ucap pria itu bersama teman-temannya.
“Memangnya kalian siapa?” tanya Reno tak gentar sedikitpun.
Sada yang tau jika mereka akan berkelahi menarik Reno untuk kembali ke tempatnya. Ia tak mau terjadi perkelahian dihari pertama warungnya buka.
“Sabar Ren. Sabar.” ucap Sada.
“Mereka harus diberi pelajaran.” ucapnya kesal.
“Haduh.. kalian jangan macam-macam deh. Gue takut terjadi kerusuhan di warung gue.” ucap Sada takut.
“Tenang, aman kok. Gue yakin mereka sudah tau sama gue.” ucap Maya yang sudah menyadari penyamarannya di kampus terbongkar.
“Selamat siang tuan-tuan.” ucap Maya menyambut ramah raja kampus dan 2 ajudannya.
“Haii May..!!” sapa Rio dan Bima.
“Kalian mau pesan apa, biar gue nanti yang buatkan. Khusus untuk kalian bertiga.” ucap Maya meyakinkan.
“Menu termahal disini dan juga es teh tapi jangan terlalu manis.” ucap Rio
“Sama kayak Rio tapi tehnya yang manis.” ucap Bima.
“Bagaimana dengan tuan Alvin?” tanya Maya.
“Es teh aja.” jawab Alvin.
“Oke, ditunggu yaa..” pinta Maya.
Maya ke dapur, dia menyiapkan 2 bakso jumbo, lalu tak lupa mengasih mengasih saos kecap serta sambal yang banyak. Lalu untuk es tehnya ia kasih garam dan yapss.. bakso ala Maya sudah jadi.
__ADS_1
“May lo jangan gila. Bisa-bisa mereka habis makan disini jadi murus.” ucap Sada.
“Udah tenang aja, mereka tak akan berani mengganggu warung lo ini.” ucap Maya.
“Ini diaaa… Bakso ala Maya jadi.” Maya menyajikan pesanan mereka “Wajib dihabiskan, kalau tidak kalian benar-benar mengecewakanku.” ucap Maya menampakkan wajah sedihnya.
“Tenang May, dari baunya pasti enak. Kami pasti habiskan.” ucap Rio bersemangat.
“Janji dulu.” Maya mengacungkan jari kelingkingnya di balas dengan Bima dan Rio.
“Janji.”
“Dan ini minuman khusus untuk raja kampus kita. Ini juga wajib habis.” Maya memberikan tampilan yang sedikit berbeda untuk es teh pesanan Alvin.
“Terima kasih May.” ucap Alvin senang.
“Ayo dimakan dong!” ucap Maya tak sabar menyaksikan ekspresi mereka.
Rio yang awalnya bersemangat mencicipi, setelah mencicipi malah ingin rasanya memuntahkan. Tapi Maya langsung mengingatkan janji mereka untuk menghabiskan bakso itu. Bima menjadi ragu saat melihat Rio yang tidak enak. Karena Rio tak mau merasakan penderitaan makan bakso ini sendirian ia langsung menampilkan ekspresi yang menunjukkan bahwa bakso buatan Maya sangat enak.
“Sumpah enak banget Bim. Nyesel lo kalo nggak nyoba.” ucap Rio berbohong.
“Nahh kan.. ayo Bim. Buruan coba.” tambah Maya.
“Beneran?” tanya Bimo berbisik.
“Beneran. Nih gue suapi kalo lo nggak percaya.” Rio menyuapi Bima bakso beserta kuahnya yang banyak “Cepat buka mulut lo.” ucapnya dan Bima langsung membuka mulutnya.
Saat kuah baksonya tumpah di mulut Bima, seketika kupingnya terasa terbakar. Rasanya sangat pedas dan asin “Rio benar-benar sialan.” umpatnya dalam hati.
“Gimana enakkan?” tanya Maya.
“Iya enak banget May.” jawab Bima terpaksa tak mau membuat Maya marah atau bosnya akan menghajar mereka berdua.
“Lahap bener kalian berdua?” ucap Alvin.
“Iya bos, enak banget racikan bakso Maya.” jawab mereka. Padahal mereka cepat-cepat menghabiskan agar bisa segera pergi mencari minuman.
“Kamu juga jangan mau kalah Vin. Es tehnya habisin. Nih gue pegangin.” Kali ini Maya memegang es teh yang di minum Alvin. Rasanya benar-benar masam karena kebanyakan jeruk nipis.
“Udah May, biar aku yang minum sendiri.” pinta Alvin dan dia langsung menelan habis minuman dari maya hanya dengan hitungan detik.
“Gays, gue pergi dulu ya.” pamit Alvin meninggalkan Rio dan Bima “Makasih ya May, tehnya sangat nikmat.” lanjutnya pada Maya.
“Sama-sama, jangan lupa balik lagi ya..”
Rio dan Bima yang kepedesan mulai minum es tehnya tapi saat tau es tehnya rasanya asin, mereka tak sengaja menyemburkan es tehnya. Mulut mereka terasa terbakar.. tanpa berpamitan dengan Maya mereka langsung berlari terbirit-birit menyusul Alvin dan mencari minuman dingin.
“Hati-hati di jalan yaaa…” ucap Maya sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Semua di sana yang melihat keberanian Maya merasa takjub, baru kali ini ada orang yang berani mengerjai Alvin dkk. Sedangkan di dapur, Reno dan Sada tertawa terpingkal-pingkal.