
"Besok kamu rampok rumah konglomerat ini." ucap Bos Gondrong memberikan alamat rumah yang akan menjadi korbannya kepada Reno.
"Tidak ada pekerjaan yang lain kah selain merampok?" tanya Reno tidak suka dengan tugasnya.
"Gue aja bos kalo dia nggak mau." Jack menawarkan dirinya untuk menggantikan Reno.
"Lo beneran sanggup?" tanya Bos Gondrong. sedikit meragukan.
"Sanggup bos, gue nggak akan ngecewakann bos." tegas Jack.
"Oke. Ini alamatnya buat lo." Bos Gondrong beralih menyerahkan alamat target korbannya pada Jack.
Setelah mendapatkan alamatnya Jack langsung mengajak beberapa anak buada dan berangkat menuju lokasi. Sedangkan Reno masih di sana. Sekarang dirinya bertugas untuk menerima setoran dari para anak buah Bos Gondrong baik itu anak-anak hingga orang dewasa.
"Banyak juga ya hasil kalian." ucap Reno yang sudah memegang uang hampir 5 juta lebih.
"Soalnya kalo kita cuman bawa dikit kita nggak dapat bagian." celetuk seorang anak kecil.
"Kamu?" Alvin tak menyangka anak kecil yang sempat ia tolong itu adalah bekerja untuk Bos Gondrong.
"Maaf bang, hari ini cuman setengah hari, jadi cuman sedikit. Soalnya sakit ibu semakin parah." ucap anak itu membuat Reno tak tega.
"Nggak usah, buat beli makan aja." Reno menolak peyetoran anak kecil itu.
"Nggak boleh, uang ini harus di setorkan!" ucap Bos Gondrong yang dari belakang sambil menarik kembali uang yang di pegang anak kecil yang bernama kevin itu.
"Lo apa-apaan sih, nggak punya hati nurani banget." ucap Reno tidak suka cara kasar Bos Gondrong terhadap anak kecil.
"Kamu besok pergi dan nggak usah datang kembali." usir Bos Gondrong.
Di sisi lain Reno senang karena anak itu akhirnya bisa bebas dari preman jahat seperti bos Gondrong. Lalu bos gondrong memberikan sebuah foto pada Reno. Foto sebuah cewek cantik,,
"Apa maksudnya?"
"Itu anak gue,, tugas lo cari anak gue lengkap dengan tempat tinggalnya." pinta Bos Gondrong.
"Kenapa nggak buat berita di medsos atau surat kabar aja?"
"Lo ternyata bodoh juga ya?" kesal Bos Gondrong "Kalo gue bisa ya pasti sudah gue lakukan sejak dari dulu. Lagi pula siapa yang mau punya bokap preman seperti gue." lanjutnya disertai tawaan.
__ADS_1
"Mending lo lah dari pada bokap gue, lo masih peduli sama kehidupan anak lo. Sedangkan bokap gue? meskipun dia seorang miliarder tapi nitipkan hidup anaknya pada pembantunya, ngajak hdup di rumahnya tapi tidak boleh memanggilnya ayah. Lucu banget nggak? Mana ada bokap seperti da." ucap Reno.
"Lo anak miliader?" tanya Bos Gondrong tak percaya.
"Kenapa? Mau lo rampok juga? Gue nggak punya apa-apa jadi percuma kalo mau rampok gue." ucap Reno dengan ketus.
"Bukan gitu, tampilan lo yang kayak orang susah yang bikin gue heran." ucap Bos Gondrong memandang Reno dari bawah hingga atas.
"Ya karena gue memang orang susah." jawab Reno.
"Lo susah kenapa nggak mau nerima uang gue? Padahal itu bisa merubah keadaan hidup lo."
"Ya gue tau kalo uang itu tidak baik, gue nggak mau uang yang tidak baik gue gunakan untuk mkdal usaha yang nantinya akan gue persembahkan untuk mak gue di kampung." Bos Gondrong merasa salut dengan Reno.
Mereka akhirnya melanjutkan obrolan di atap gedung sambil melihat bintang-bintang yang bersinar. Sebelum obrolan, Reno sudah menyiapkan obat nyamuk karena banyak nyamuk dan Bos Gondrong sibuk menyiapkan minuman berakolhol dan juga daging untuk dibakar serta alat pemanggangnya."
"Ngapain bawa lakohol segala?"
"Itu buat gue, kalo lo nggak suka ya udah jangan diminum. Yang pasti, gue akan merasa senang jika minum banyak alkohol hingga mabuk. Reno hanya geleng-geleng kepala menanggapi bosnya itu.
Bos Gondrong yang memulai menceritakan masa lalunya, sambil terus minum. Mulai dirinya yang diusir dari rumah karena suka berkelahi, hingga bertemu seorang gadis anak orang kaya. Mereka saling mencintai, gadis itu mengorbankan segala hartanya dan keluarganya demi memilih hidup dengan dirinya. Namun bodohnya, ia malah kembali menjadi preman yang mana pekerjaan itu sangat dibenci oleh istrinya hingga akhirnya dirinya harus kehilangan anak dan istrinya.
"Kenapa lo nggak berhenti jadi preman?" tanya Reno.
"Kalo lo?" tanya Bos Gondrong sudah setengah mabuk.
"Hidup gue nggak ada yang menarik." jawab Reno karena memang ia menganggap dalam hidupnya tidak ada yang menarik.
"Yahhh.."
"Lo nggak kasian sama anak-anak yang lo suruh kerja?" tanya Reno.
"Kenapa harus kasian? Daripada mereka hidup kelaparan di jalan makan kalo ada yang ngasih. Mending kerja sama gue, dapat tempat, makan, sama perlindungan."
"Keluarganya?"
"Mereka nggak punya keluarga."
"Oohh.."
__ADS_1
"Terus uang sebanyak itu buat apa? Kenapa nggak bua lo bangun tempat yang lebih bagus? biar bisa tidur lebih enak." ucap Reno.
"Uang ya.. uang.. uang itu sudah tersebar dimana-mana dan tidak bisa di ambil lagi."
"Maksudnya?
Baru saja akan menjawab Bos Gondrong sudah teler lebih dulu akiba sudah minum 4 botol alkohol. Tak terasa mereka mengobrol hingga fajar pertama datang. Mereka pun tertidur bersama di atap dengan kehangatan api unggun sisa buat bakar daging.
**********
"Non Mayaaaa!!!" teriak Mbok Mi yang capek membangunkan Maya.
"Bentar lagiii Mbokkk!!! Maya masih ngantuk banget." jawab Maya yang semalam baru tidur jam 12 malam karena harus melembur tugas kantor.
"Tapi sekarang ada kuliah pagi non." ucap Mbok Mi membacakan jadwal Maya yang tertempel di dinding meja belajarnya.
Mendengar pagi ini kelas Ardi, Maya malah menarik selimutnya dan melanjutkan tidurnya. Ia sudah bodo amat, tubuhnya amat lelah.
"Maya masih belum bangun mbok?" tanya Ardi yang sudah siap.
"Belum den."
Ardi mendekati adiknya yang tertidur pulas itu dan membisikkan,
"Kalo kamu nggak masuk jangan harap nilaimu kuliah keluar dan kamu akan mengulang di semster depan." ucap Ardii.
"Hiiihhhh abang nggak bisa kah membiarkan hidup Maya tenang sehari saja!!!" teriak Maya.
"Nggak." jawab Ardi santai lalu pergi dari kamarnya.
"Jam berapa mbok?"
"07.00 non."
Maya langsung bangun tanpa mandi cuma cuci muka dan merias wajah seadanya lalu memakai minyak wangian yang banyak. Dahh selesai... Ardi terkejut melihat Maya sudah masuk mobilnya dan siap untuk berangkat. Padahal baru saja ia membangunkan adiknya itu.
"Lo nggak mandi May?" tanyanya.
"Udah jalan aja." pinta Maya.
__ADS_1
"Dasar anak jaman sekarang! untung ada minyak wangi dan sceencare."
"Udah diam aja, Maya mau lanjut tidur" ucapnya mencari bantal di kursi belakang kemudian memeluknya dan kembali tidur. Rasa kelelahan masih terlihat di wajah cantiknya, sebenernya Ardi merasa kasian tapi ya bagaimana lagi. Semua ini demi kebaikan adiknya.