
Emira masuk ke kamarnya. Dia masih teringat pelukan Alzam tadi. Rasanya masih bisa dia rasakan. Membuat bulu kuduknya merinding. Emira memutuskan mandi agar rasanya hilang. Kemudian memakai kembali baju miliknya.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu.
Tok ... tok ... tok ...
Emira melihat ke arah pintu. Berjalan ke arah pintu dan membukanya. Dia melihat Alzam sudah mengenakan baju tidur bergambar kartun anak-anak. Itu membuat Emira tertawa.
"Hei, kenapa kau tertawa?" tanya Alzam.
"Kau lupa usiamu?" tanya Emira.
"Tahu, memangnya kenapa?" tanya Alzam balik.
"Udah gede pakai baju anak kecil, gak malu?" ujar Emira.
"Yang penting kau tertawakan?" ledek Alzam.
"Jadi kau pakai itu untuk melawak di depanku?" tanya Emira.
"Iya, aku minta maaf atas apa yang ku lakukan tadi," ucap Alzam.
Emira terharu. Ternyata Alzam sengaja mengenakan pakaian bergambar kartun itu untuk meminta maaf padanya.
"Oke aku maafkan, tapi ...," ujar Emira.
Tahu-tahu mereka sedang duduk di ruang keluarga yang ada di lantai atas. Emira dengan suka cita bermain game sedangkan Alzam mengupas kuaci untuknya.
"Hei Badak, belum kenyang juga?" tanya Alzam.
"Kau panggil aku Badak lagi Alzam?" tanya Emira melotot ke arah Alzam.
"Tidak, tadi salah ngomong, nih kuacinya dikupasin lagi," jawab Alzam cari aman. Mengingat kemarahan Emira. Dia akan dibanting lagi.
"Kupas yang banyak, lambat sekali sih," kata Emira.
"Memangnya gampang ngupas kuaci, satu aja ribet nih," keluh Alzam.
"Yang ikhlas dong minta maaf," ledek Emira.
"Nyesel kenapa tadi mesti minta maaf," keluh Alzam sambil mengupas kuaci.
Emira tersenyum. Dia kembali fokus pada permainan game di depan layar televisi LED itu.
"Kau belum kenyang? Aku sudah mengupas ratusan kuaci nih," ujar Alzam.
"Pokoknya sampai aku selesai main game," ucap Emira.
"Gimana kalau aku ikut main game aja?" tanya Alzam.
"Tidak, aku bisa sendiri, teruskan kupasnya!" titah Emira.
Mau tak mau Alzam mengupas kuaci itu sampai Emira selesai bermain game. Kemudian mereka kembali ke kamar masing-masing.
***
Pagi itu Emira joging santai di jalan raya. Kebetulan dia pergi sendiri. Dia berjalan di tepi jalan. Hendak menyeberang ke arah jalan di seberang. Melihat Emira menyeberang jalan, Ibu Yeni menaikkan kecepatan mobil untuk menabrak Emira. Namun ketika mobil itu mendekat, Emira langsung melompat menaiki mobil itu. Ibu Yeni yang ada di dalam panik dan mempercepat laju mobil. Untungnya, Emira mengeluarkan sarung tangan lengketnya. Dia menempelkan sarung tangan itu ke mobil.
"Sialan, dia malah naik ke atas mobilku,"ucap Ibu Yeni. Dia mengendarai mobilnya tanpa tujuan sampai ke tempat sepi. Emira yang berada di atas mobil bergegas menonjok kaca mobil depan dengan tangannya.
Tuaar ...
Kaca mobil itu pecah, kemudian Emira masuk ke dalam mobil. Duduk di samping Ibu Yeni.
"Kau lagi Ibu tua, beraninya kau mau membunuhku?" ucap Emira.
"Aku tidak sengaja, tidak ada maksudku mau menabrakmu," sanggah Ibu Yeni.
"Benarkah tidak sengaja?" tanya Emira.
"Benar, aku tidak sengaja," jawab Ibu Yeni.
"Kau mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, apa itu tidak dinamakan sengaja?" tanya Emira.
"Maaf Nak," ucap Ibu Yeni.
"Hari ini kau bisa bebas, tapi awas saja kalau kau berani melakukan hal seperti ini lagi, tanggung akibatnya" ancam Emira.
Ibu Yeni mengangguk.
Emira ke luar dari mobil, melompat dari mobil itu. Setelah Emira pergi, Ibu Yeni sangat kesal dan semakin marah pada Emira.
__ADS_1
"Aku harus menyingkirkan dia juga. Sepertinya dia menjadi penghalang jalanku untuk mendapatkan Alzam," ucap Ibu Yeni. Dia berencana untuk menyingkirkan Emira. Dia tak mau putrinya memiliki saingan lain. Hanya Fanny yang boleh bersanding dengan Alzam.
**
Emira masuk ke kamarnya dan berbaring di ranjangnya. Dia memikirkan banyak hal termasuk Ibu Yeni itu. Emira penasaran dengan Ibu Yeni, kenapa sepertinya dia ingin mencelakakannya dan Dara.
"Siapa Ibu-Ibu tua itu? dia seperti ingin mencelakaiku dan Dara?" gumam Emira.
"Aku coba cari identitasnya lewat Clever, untung aku sempat merekam wajah Ibu-Ibu tua itu," ucap Emira. Dia bangun dan menyalakan Clever untuk mengetahui siapa Ibu Yeni.
"Clever ON," ucap Emira.
"Yes Clever ON," sahut Clever.
"Clever cari identitas Ibu tua yang rekamannya tersimpan di filemu jam 1 siang," ucap
Emira.
"Oke," sahut Clever.
Tak lama Clever memunculkan identitas Ibu Yeni lengkap dengan alamat rumahnya. Emira melihat itu.
"Sepertinya aku harus menyelidikinya," ucap Emira. Dia berpikir untuk menyelidiki siapa sebenarnya Ibu Yeni itu.
***
Emira berada di kamarnya, dia hendak bersiap untuk pergi bersama Alzam. Dia Menganti bajunya dengan kaos, celana jeans, dan memakai bomber. Dia juga mengenakan sepatu sport dan topi kesayangannya. Emira ke luar dari kamarnya berjalan ke bawah menuju ruang tamu. Di sana Alzam sudah menunggu Emira dari tadi.
"Nona agen sudah siap?" tanya Alzam.
"Iya," sahut Emira.
Alzam dan Emira berjalan menuju ke halaman tempat Alzam memarkirkan mobilnya. Tadinya Alzam mau membukakan pintu mobil bagian depan untuk Emira tapi dia menolak.
"Tidak usah Alzam, aku di kursi belakang saja lebih lega dan aku bisa sambil tiduran kalau macet," ucap Emira.
"Oh baik," sahut Alzam.
Emira masuk ke kursi belakang mobil, dia langsung duduk. Kemudian Alzam masuk ke kursi depan untuk mengendarai mobilnya. Mobil melaju meninggalkan rumah besar itu. Diperjalanan macet, karena itu Emira langsung berbaring di kursi belakang, menutup mukanya dengan topi dan menyandarkan kakinya ke kaca mobil. Melihat itu Alzam tercengang dengan tingkah Emira yang berbeda dengan gadis pada umumnya. Dia tetap tidur dan cuek padahal di dalam mobil ada dirinya.
"Dasar Badak," batin Alzam sambil tersenyum.
"Emira bangun, sudah sampai," panggil Alzam.
"Oh sudah sampai, padahal aku masih mengantuk, ya udah ayo turun," sahut Emira.
Mereka turun dari mobil itu, lalu masuk ke pusat perbelanjaan. Di dalam, Alzam memilih-milih pembalut untuk Dara, tapi dia sepertinya kebingungan, biasanya Bibi Nur yang berbelanja. Emira menghampiri Alzam yang sedang kebingungan.
"Kau masih normal Alzam?" ledek Emira.
"Masih lah cin, eke lagi nyari pembalut," jawab Alzam dengan suara banci.
Emira tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit.
"Alzam kau lucu," ucap Emira.
Alzam hanya tersenyum.
"Oya kenapa kau memegang pembalut?" tanya Emira.
"Ini untuk Dara, aku tak tahu yang mana yang biasa dipakainya," ucap Alzam.
"Sepertinya yang ini, aku juga pakai yang seperti itu," ucap Emira spontan memberi tahu merk yang biasa dipakainya.
"Ukuran jumbo ya, sebesar itu punyamu?" tanya Alzam.
"Apa?" Emira tercengang mendengar sebesar itu punyamu.
"Maksudku yang besar pembalutnya," sahut Alzam.
"Ku pikir otakmu mesum gara-gara kelamaan tak dipakai," sindir Emira.
"Hei, kau ingin mencobanya, gimana?" tanya Alzam menggoda.
"Iiih ... mesum kau Alzam, mending cabut," ujar Emira kemudian berjalan meninggalkan Alzam. Dia sampai merinding dengan ucapan Alzam.
Alzam mengambil pembalut yang dipilih Emira. Selain itu membeli berbagai kebutuhan sehari-hari. Dia membayar di kasir. Setelah selesai berbelanja, Alzam mengajak Emira nonton ke bioskop.
"Emira ada film horor yang menakutkan, apa kau mau nonton?" tanya Alzam.
__ADS_1
"Aku tidak pernah pergi ke bioskop, kau yakin mengajakku?" tanya Emira.
"Iya, kali ini kau harus nonton bersamaku, ada film horor," ucap Alzam.
"Gimana ya?" Emira berpikir.
"Penakut, gak nyangka agen rahasia takut hantu ha ha ha ...," ledek Alzam.
"Oke, siapa takut, paling kau sendiri yang takut," ujar Emira.
"Kita buktikan Badak," ledek Alzam.
"Stop! Jangan memanggilku Badak di depan umum," ujar Emira.
Alzam tertawa. Melihat Emira malu dipanggil Badak.
Akhirnya Alzam dan Emira pergi ke bioskop, mereka masuk ke dalam. Alzam duduk di samping Emira. Film itu mulai diputar, semua orang menjerit ketakutan melihat hantu yang menyeramkan tapi Emira malah tertawa terpingkal-pingkal.
"Ha ... ha ... ha ..., lucu hantunya," ucap Emira.
Melihat Emira seperti itu Alzam merasa Emira memang berbeda dengan gadis lainnya. Dia mulai mengagumi Emira secara perlahan. Tak lama film itu selesai, Alzam dan Emira ke luar dari ruang bioskop itu.
"Emira kau suka filmnya?" tanya Alzam.
"Ya lumayan, hantunya lucu," jawab Emira.
"Lebih lucu lagi kalau kau yang memerankannya, ha ha ha ...," sahut Alzam.
"Alzam kau ya," ucap Emira kesal. Dia menepuk lengan Alzam.
"Hei itu kenyataan," sahut Alzam sambil tersenyum.
Alzam tidak habis pikir, hantu yang menyeramkan dibilang lucu sama Emira.
Tak hanya ke bioskop, Alzam mengajak Emira ke butik baju branded di pusat perbelanjaan itu.
"Emira pilihlah baju yang kau suka!" titah Alzam.
"Aku tidak biasa pakai baju seperti ini, cukup kaos aja udah nyaman," ucap Emira.
"Biasa wanita suka baju, tas, atau sepatu branded," ujar Alzam.
"Aku sudah terbiasa pakai baju seperti ini, tak nyaman jika harus merubah gaya," ucap Emira.
"Emira memang berbeda dari wanita lainnya," batin Alzam.
Akhirnya Alzam mengajak Emira makan di sebuah restoran favoritnya. Mereka duduk satu meja bersama dan memesan makanan.
"Emira kau tidak suka berkeliling bersamaku di sini?" tanya Alzam.
"Senang, hanya aku belum terbiasa," jawab Emira.
"Memang selama ini kau pergi kemana saja saat libur?" tanya Alzam.
"Aku hanya pulang ke rumah orangtuaku, mengunjungi teman atau sahabat lalu selebihnya tidur," jawab Emira.
"Badak memang suka tidur sih," sahut Alzam.
Emira cemberut.
"Oke, kenapa kau suka tidur?" tanya Alzam.
"Selama menjalankan misi waktu istirahatku tidak teratur, tak jarang aku kurang tidur, bahkan jarang libur. Jadi saat libur lebih baik aku tidur seharian," jawab Emira.
"Pantas kau tidak nyaman di tempat ini," sahut Alzam.
Mereka berdua mulai makan. Menikmati hidangan di atas meja yang dihidangkan pelayan. Kemudian kembali mengobrol.
"Oya kau kan selalu dapat bonus dari misimu lalu kau pakai untuk apa? jika kau tak suka barang-barang branded?" tanya Alzam.
"Aku hanya mengirimkannya pada keluargaku, sebagian untuk panti asuhan dan sisanya aku masih simpan tidak tahu untuk apa," jawab Emira.
Alzam tersenyum. Jarang ada wanita seperti Emira. Dia memang berbeda.
"Lalu untuk apa kau bekerja keras jika kau tak menikmatinya?" tanya Alzam.
"Aku pernah bilangkan aku menyukai pekerjaanku sebagai agen rahasia, aku tidak peduli dengan bonusnya," jawab Emira.
"Aku kagum padamu kebanyakan wanita sangat menyukai uang dan berusaha mendapatkannya dengan cara apapun, tapi kau sebaliknya," ucap Alzam.
"Kau terlalu memuji," ucap Emira.
__ADS_1
Setelah makan siang mereka turun ke lantai dua pusat perbelanjaan itu. Ada seorang anak kecil hampir terjatuh ke lantai satu, anak itu masih berpegangan di pagar pembatas divpusat perbelanjaan itu. Banyak orang meneriakinya dari bawah. Beberapa orang di atas hanya melihat dan ketakutan melihat anak itu hampir terjatuh. Melihat itu Emira langsung lari dan berusaha menolongnya. Namun anak itu lebih dulu terjatuh, segera Emira melompat ke bawah dari lantai dua pusat perbelanjaan untuk menangkap anak kecil itu.
"Emiraaa ...," Alzam berteriak sekeras mungkin melihat Emira melompat ke bawah dari lantai dua.