
Alzam mengambil cuti karena Emira pergi menjalankan misi. Dia mengajak Dara sarapan bersama di ruang makan itu. Dara terlihat bahagia karena seharian ini akan bersama Alzam. Hanya saja dia sedih karena Emira tak ada. Dia jadi rindu pada Emira yang biasanya merawatnya. Pagi itu Alzam yang menyuapinya makan. Biasanya Emira yang selalu telaten melayaninya dengan baik.
"Alzam, kira-kira berapa lama Emira akan pergi menyelesaikan urusannya?" tanya Dara. Penasaran.
"Aku tidak tahu pasti berapa lama Emira akan pergi. Tapi dia berjanji akan segera kembali ke rumah ini," jawab Alzam.
"Alzam, besok kalau kau kembali bekerja siapa yang akan menjagaku?" tanya Dara.
"Emira bilang ada orang yang akan bekerja untuk merawatmu sementara waktu selama dia pergi," jawab Alzam.
"Oh begitu, terus kapan orangnya datang?" tanya Dara.
"Kemungkinan hari ini kata Emira, kita tunggu saja," jawab Alzam.
Tak lama Bibi Nur memberitahu pada Alzam, ada seorang perempuan datang ke rumahnya untuk merawat Dara. Dia sedang menunggu di ruang tamu.
"Nanti aku ke sana setelah Dara selesai makan," jawab Alzam.
"Baik Tuan," jawab Bibi Nur. Kemudian dia berlalu
"Mas sambut dulu, aku udahan makannya," sahut Dara.
"Dikit lagi sayang," ujar Alzam.
"Oke aku habiskan," sahut Dara. Dia menghabiskan makanan yang disuapkan padanya.
"Aku temui dia dulu sayang," ujar Alzam.
Dara mengangguk.
Segera Alzam berjalan ke ruang tamu untuk menemui tamu itu.
"Assalamu'alaikum," sapa Alzam.
"Wa'alaikumsallam," sahut Bela Nafiza agen level S yang akan menggantikan Emira sementara waktu.
Alzam duduk di seberang Bella. Saat melihat Alzam, perempuan itu tercengang. Lelaki di depannya begitu tampan dan berkharisma.
"Selamat pagi, nama saya Bella Nafiza agen level S yang akan menggantikan Emira sementara waktu untuk merawat Dara," ucap Bella.
"Pagi, nama saya Alzam suami Dara," jawab Alzam.
"Tampan sekali laki-laki ini, pantas agen Emira yang level A mau menjalani misi konyol ini," ucap
Bella dalam hatinya.
Selesai berkenalan Alzam mengajak Bella untuk bertemu dengan Dara yang sedang duduk di kursi roda yang berada di ruang makan itu.
"Dara sayang, ini Bella. Dia akan merawatmu selama Emira tidak ada," ujar Alzam memperkenalkan Bela pada Dara yang sedang duduk di kursi rodanya.
"Aku Dara, senang bertemu denganmu," ucap Dara.
"Saya Bela, senang juga bertemu dengan Anda," sahut Bella.
"Aku harus mengurus wanita penyakitan ini, suaminya mau aja sama istri yang jelek dan penyakitan kaya gini. Untung suaminya tampan, paling tidak ada yang membuatku betah di sini," ucap Bella dalam hatinya.
__ADS_1
"Bella mari sarapan," ajak Dara.
"Terimakasih tapi saya sudah sarapan," jawab Bella.
"Kalau begitu mari ku antarkan ke kamarmu di atas," ajak Alzam.
"Baiklah," jawab Bella.
"Dara, aku antar Bella ke atas dulu ya," ucap Alzam.
"Iya Mas," sahut Dara.
Alzam berjalan ke luar dari ruang makan diikuti Bella. Dia mengantarkan Bella ke kamarnya. Kamar itu dekat dengan ruang kerja Alzam.
"Nah Bella ini kamarmu, bagaimana apa ada yang kurang?" tanya Alzam.
"Tidak, aku suka kamar ini," jawab Bella.
"Baru kamar tamu saja sebesar dan semewah ini, kalau aku yang jadi istrinya, aku tak perlu menjadi agen rahasia yang membahayakan nyawaku, aku tinggal duduk manis di rumah besar ini," ucap Bella dalam hatinya.
"Oya Bella kalau tidak ada yang ingin disampaikan padaku, aku mau turun ke bawah menemani Dara," ujar Alzam.
"Alzam tunggu dulu, kau suka makan apa? aku bisa masak yang enak untukmu," ucap Bella.
"Aku suka makan apa saja, tapi kau tak perlu repot-repot memasak, tugasmu merawat Dara. Bibi Nur yang biasanya memasak di sini, sudahkan tidak ada lagi? Aku turun dulu," jawab Alzam.
"Hih, cuek banget sama cewek cantik," batin Bella.
Tak banyak bicara lagi Alzam meninggalkan Bella dari kamarnya. Tingdal Bella yang terdiam dan kesal karena Alzam menolak tawarannya.
"Alzam sekarang kau jual mahal, tapi besok kau akan jadi milikku," ucap Bella.
Dreeet ... dreet ... dreeet ...
Ternyata panggilan dari Indah, mungkin urusan kantor, wajah Alzam langsung berubah kecewa. Padahal hari ini niat cuti.
"Dara aku mengangkat telpon dari kantor dulu," ujar Alzam.
"Iya Mas," sahut Dara.
Alzam berjalan ke luar dari ruang makan. Menuju teras rumah. Dia mengangkat telpon sambil duduk di kursi yang ada di teras.
"Assalamu'alaikum Presdir," ucap Indah.
"Wa'alaikumsallam, ada apa?" sahut Alzam.
"Ada investor yang ingin bertemu anda," ujar Indah.
"Oke, aku segera ke kantor," sahut Alzam.
"Baik Presdir," jawab Indah.
Alzam memutuskan untuk menemui investor itu. Mungkin ada masalah penting. Alzam bangun kembali masuk kembali ke rumahnya, mengantarkan Dara ke kamarnya.
"Dara, aku akan pergi dulu sebentar, ada urusan kantor mendadak yang harus aku selesaikan,"
__ADS_1
ucap Alzam.
"Iya Mas, hati-hati di jalan," jawab Dara.
"Iya, aku akan memanggil Bella untuk menemanimu selama aku pergi ke luar," ucap Alzam.
Dara mengangguk.
Kemudian Alzam ke luar dari kamar Dara, berjalan menuju ke kamar Bella. Dia mengetuk pintu kamar itu.
Tok!tok!tok!
Bella membuka pintu kamarnya. Menatap Alzam di depan pintu.
"Ada apa Alzam?" tanya Bella.
"Bella, aku mau pergi ke luar sebentar, tolong jaga Dara. Urus semua keperluaannya selama aku pergi!" titah Alzam.
"Baik Alzam," sahut Bella.
Selesai bicara Alzam pergi meninggalkan Bella. Sedangkan Bella berganti pakaian lalu pergi menuju kamar Dara.
***
Emira berada di kota Perhen sebuah kota di negara K. Menurut survai yang sudah diselidiki markas, di kota inilah sering terjadi konflik antar golongan. Emira menyamar jadi tukang sayur keliling. Dia berpenampilan seperti Ibu tukang sayur yang sudah tua. Menyamar jadi tukang sayur sering bercengkrama dengan banyak orang. Tentu lebih mudah mendapatkan informasi. Apalagi ibu-ibu yang suka gosip.
"Sayur! Sayur! Sayur segar! Sayur!" teriak Emira..
"Bu sayur."
"Iya neng," sahut Emira. Bergegas dia menghampiri wanita yang memanggilnya. Mendorong gerobak sayurnya ke arah wanita itu berada.
"Ayo neng sayurnya masih segar-segar baru dikirim dari petaninya langsung," ujar Emira berlagak natural seperti tukang sayur.
Tak lama banyak ibu-ibu datang memilih dan membeli sayuran pada Emira. Mereka juga tak lupa menggosip. Emira coba mendengarkan obrolan mereka.
"Bu semalam ada kerusuhan ya? katanya sekolah dibakar."
"Iya saya juga denger soal itu, jangan-jangan ulah geng singa."
"Tapi geng singa sudah dibubarkan oleh pemimpin daerah yang baru."
"Iya, tapi gara-gara banyak masalah di daerah kita jadi sering terjadi demo anarkis. Belum lagi desa kita dan desa sebelah sering bentrok karena perbedaan pendapat."
"Jadi gak tenang sekarang, apalagi kalau malam ada aja yang bakal terjadi."
"Mungkin mereka beraksinya malam hari ya."
"Belanjaan saya totalnya berapa Bu?"
"Ayam satu ekor dan sayurannya jadi 50 ribu neng," jawab Emira.
"Nih Bu uangnya."
"Terimakasih neng," sahut Emira.
__ADS_1
Selesai berbelanja ibu-ibu itu meninggalkan tempat itu. Emira terdiam. Dia langsung memikirkan ucapan ibu-ibu tadi.
"Apa nanti malam aku harus beraksi lagi, mungkin dengan begitu aku bisa tahu siapa orang-orang yang terlibat di dalamnya dan apa motifnya?" batin Emira. Dia berpikir untuk beraksi juga di malam hari. Emira ingin tahu semua yang terjadi dan mencari keberadaan Nike sahabatnya.