
Pagi itu Alzam tiba-tiba masuk ke kamar Emira. Matanya menyapu seluruh sudut kamar itu. Mencari keberadaan gadis berambut panjang. Tak ada di dalam. Alzam berjalan menuju balkon kamarnya. Ternyata Emira sedang senam di balkon.
"Assalamu'alaikum," sapa Alzam.
"Wa'alaikumsallam," sahut Emira.
"Rajin sekali pagi begini kau sudah bersenam," ucap Alzam.
"Iya dong, menjaga kesehatan itu penting," sahut Emira.
"Masih lama?" tanya Alzam.
"Bentar lagi," sahut Emira.
Alzam mengangguk. Duduk di kursi. Menunggu Emira selesai senam. Dia melihat gadis itu begitu rajin menjaga kebugaran tubuhnya.
"Alzam haus, tolong ambilkan minum!" pinta Emira.
"Badak kau sudah mulai menyuruhku," sahut Alzam.
"Aku haus Alzam, kakiku pegal," keluh Emira.
"Oke," sahut Alzam. Dia mengambil botol air minum yang ada di meja. Memberikannya pada Emira.
"Hari ini aku mau menemui Fanny," ucap Alzam.
"Kau butuh bantuanku untuk menghempaskannya?" tanya Emira sambik memegang botol air minum itu.
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya," sahut Alzam.
"Jangan sampai termakan rayuan manisnya Alzam. Wanita itu seperti ular, licik dan berbisa," ujar Emira.
"Iya badak," sahut Alzam.
"Kau bilang badak sekali lagi, aku bersemangat untuk membantingmu," ujar Emira.
"Ampun, damai," ucap Alzam sambil menaikkan tangannya.
Emira tersenyum. Mulai meminum air minumnya.
"Emira pagi ini berpura-puralah mual," ujar Alzam.
"Untuk apa? Aku sakit gitu?" tanya Emira.
Alzam menghembuskan nafas gusarnya. Terasa sesak kalau mengingat permintaan Dara.
"Bukan, tapi pura-puralah hamil," jawab Alzam.
"Apa? Aku harus pura-pura hamil?" Emira terkejut.
"Iya, Dara akan curiga jika kau tak segera hamil," jawab Alzam.
Emira terdiam. Meskipun dia sering menyamar jadi apa saja tapi kalau harus berpura-pura hamil sangat merepotkan.
"Baiklah, demi Dara," sahut Emira.
"Coba ku lihat aktingmu," ujar Alzam.
"Hei, aku malu," sahut Emira.
"Nanti kau harus berakting di depan semua orang, sekarang beraktinglah di depanku," ujar Alzam.
Emira menarik nafasnya dalam-dalam. Menghembuskannya perlahan. Berat untuk berakting di depan Alzam. Sungguh memalukan kredibilitasnya.
"Alzam aku mual, apa sebentar lagi aku melahirkan?" tanya Emira.
"Baru hamil Nona, masa iya melahirkan?" ujar Alzam.
"Oya, aku lupa, melahirkan belakangan ya," jawab Emira.
"Coba sekali lagi, natural," ujar Alzam.
Satu dua tiga akting Emira gagal. Tak ada satupun yang natural.
"Agen Emira, kau tahu orang hamil tidak?" tanya Alzam.
"Tahu, perutnya besar ke depankan?" tanya Emira.
"Itu kalau sudah 5-9 bulan, kau akting untuk 1 bulan, kau faham tidak?" tanya Alzam.
Bruuug ...
Emira terjatuh. Berbaring di lantai. Alzam langsung menolongnya. Hendak membopongnya.
"Alzam hentikan!" ucap Emira.
"Kau bukannya pingsan tadi," ucap Alzam.
"Katanya suruh akting hamil, itu tadi akting," sahut Emira.
Alzam tak jadi mau membopong Emira.
"Yang benar saja, kau mirip orang sekarat," sahut Alzam.
__ADS_1
"Emang ya, bukannya di televisi setiap hamil pingsan?" ujar Emira.
"Benar sih, tapi berat kalau harus mengangkatmu, carilah akting yang meringankanku," ucap Alzam.
"Kau bilang aku berat?" tanya Emira.
"Gak, cuma agak berat," jawab Alzam. Kemudian berdiri. Kabur sebelum dibanting Emira.
"Alzam!" teriak Emira.
Alzam sudah mengamankan diri. Babak belur kalau diteruskan. Mana masih pagi. Tenaga Emira masih full.
Alzam turun ke lantai bawah bersama Dara menggunakan lift. Dia mendorong kursi roda yang dinaiki Dara ke ruang makan. Membopong Dara. Mendudukkannya di kursi.
"Sayang kau mau makan apa?" tanya Alzam.
"Nunggu Emira, diakan harus sarapan bareng kita," jawab Dara.
"Baiklah, kita tunggu Emira," sahut Alzam.
Tak lama Emira masuk ke ruang makan. Mengenakan daster motif bunga-bunga. Alzam terkejut melihat Emira berpenampilan aneh. Memang terlihat feminim dan cantik. Tapi berasa bukan Emira.
"Emira, kau cantik sekali mengenakan daster," ucap Dara.
Emira tersenyum. Risih menggunakan daster. Tapi dia ingin akting totalitas. Itupun daster boleh minjem Bibi Nur.
"Iya, aduh kepalaku pusing, mual," ucap Emira. Dia berlari ke arah wastafel.
Hoooeek ... hoooeek ... hoooeek ...
"Mas bantu Emira," pinta Dara.
"Iya sayang," sahut Alzam. Dia berdiri. Berjalan menghampiri Emira yang berdiri di wastafel ruang makan. Berdiri di samping Emira.
"Hei badak, aktingmu lebay sekali, dari mana daster rombeng itu kau dapatkan?" tanya Alzam.
"Kau tadi bukannya suruh aku akting hamil? Aku sudah totalitas, sampai pinjem daster Bibi Nur," sahut Emira.
"Tapi daster untuk kehamilan lima bulan ke atas, kau tak baca dibuku atau internet?" tanya Alzam.
"Sudahlah, yang penting aku pura-pura hamil," jawab Emira.
Setelah itu, Emira dan Alzam kembali duduk bersama Dara. Emira duduk di samping Dara sedangkan Alzam di seberang.
"Emira, apa kau telat datang bulan?" tanya Dara.
"Astaga, memalukan sekali akting ini," batin Emira.
"Iya Dara telat dua bulan," jawab Emira. Kakinya langsung diinjak Alzam. Mata Alzam juga berkedip ke arah Emira.
Alzam menginjak kembali kaki Emira. Dia berusaha agar Emira paham maksudnya. Emira berpikir keras kenapa Alzam menginjak kakinya.
"Astaga lupa, kok telat dua bulan, tar dikira nabung duluan," batin Emira.
"Telat dua bulan? Bukannya kalian menikah baru sebulan?" ujar Dara.
"Badak kau cari masalah, aduh Dara pasti mengira kami tancap gas duluan," batin Alzam malu. Tak berani berkata apapun.
"Eh iya, maksudku bulan lalu gak datang bulan, biasa kebanyakan stress, eh bulan ini gak datang bulan lagi karena hamil, jadi dua bulan tuh," jawab Emira.
"Oh, aku sering gitu dulu, tapi aku seneng banget kau hamil Emira," ujar Dara.
"Aku terpaksa berbohong kedua kali, Dara maafkan aku," batin Emira.
Emira mengangguk.
Tiba-tiba Dara memeluknya. Dia terlihat gembira. Kehamilan Emira jadi hal yang ditunggunya.
"Kita akan membesarkan anak ini sama-sama," ucap Dara.
"Iya," sahut Emira pelan. Dia melirik ke arah Alzam. Mereka sama-sama tak enak. Terpaksa membohongi Dara.
Dara melepas pelukannya. Tersenyum bahagia sambil mengelus perut Emira.
"Aku tak sabar ingin menimang bayimu Emira, pasti tampan seperti Mas Alam, dan cantik sepertimu," ujar Dara.
"Iya," sahut Emira. Dia sebenarnya tak tega. Ingin rasanya bilang tidak. Tapi bagaimana lagi. Dara ingin Alzam menikah lagi sedangkan Alzam tak ingin menduakan istrinya.
"Mas Alzam kau akan jadi ayah," ucap Dara.
"Iya sayang, aku akan jadi ayah," jawab Alzam.
Emira tersenyum. Kepura-puraan itu sangat membuatnya canggung duduk di antara mereka berdua.
Setelah sarapan. Emira mengantar Alzam sampai teras depan atas permintaan Dara.
"Alzam, aku gak enak sama Dara," ujar Emira.
"Aku juga," sahut Alzam.
"Aku takut suatu saat nanti Dara akan tahu," ujar Emira.
"Nanti ku pikirkan lagi," sahut Alzam.
__ADS_1
Emira mengangguk. Memberikan tas pada Alzam. Tiba-tiba Alzam mendekatinya hendak mencium kening Emira.
"Alzam kau mau apa?" tanya Emira.
"Maaf kebiasaan, kalau mau berangkat nyium kening Dara," jawab Alzam.
"Aku bukan Dara," sahut Emira.
"Oke, semangat badak!" ucap Alzam.
"Semangat Alzam," sahut Emira.
Alzam meninggalkan tempat itu. Dia pergi menggunakan mobil pribadinya. Segera Emira naik ke lantai atas. Berganti pakaian. Dia ke luar dari rumah besar itu. Naik motor milik Alzam. Membuntuti Alzam dari belakang.
Restoran Jingga
Alzam berjalan memasuki restoran itu. Dia sudah janjian dengan Fanny. Alzam berjalan mencari keberadaan Fanny, kebetulan pagi tidak begitu ramai. Restoran Jingga memang buka dari pagi, berbeda dengan restoran lain.
Alzam melihat meja nomor 10, dia dan Fanny janjian di meja itu.
"Kok berhijab ya, bukannya Fanny tak berhijab?" batin Alzam. Dari pada penasaran Alzam melangkahkan kakinya menuju meja no 10. Dia duduk di kursi itu. Menatap wanita bercadar di depannya.
"Fanny, ini kau?" tanya Alzam.
"Iya," jawab Fanny.
"Kenapa kau bercadar?" tanya Alzam.
"Aku tobat Alzam," jawab Fanny.
Alzam tersenyum licik. Tak percaya Fanny tobat. Paling hanya sensasi.
"Langsung ke intinya, mulai hari ini aku tidak lagi bertanggung jawab atas Haidan," ujar Alzam.
"Loh, kau ayahnya Haidan. Masa kau mau cuci tangan, kau tak punya malu," ujar Fanny.
"Ayah? Benarkah? Selama ini kau menipuku Haidan bukan anakku," ujar Alzam.
Fanny terkejut. Tak percaya Alzam mengetahui semuanya. Bagaimana bisa?
"Kau bicara apa Alzam?" tanya Fanny.
"Jangan pura-pura gak tahu, Haidan bukan anakku, kau hamil dengan orang lain dan memintaku bertanggungjawab?" ujar Alzam.
"Alzam kau pasti salah paham," ujar Fanny.
"Salah faham? Aku punya buktinya," jawab Alzam.
Fanny terdiam. Dia tak percaya Alzam mencari bukti seperti itu.
"Alzam," ucap Fanny.
Alzam mengeluarkan sebuah amplop putih. Menunjukkan kertas yang berisi hasil test DNA pada Fanny.
"Kau lihat, Haidan bukan anakku, selama ini kau hanya ingin memanfaatkanku," ujar Alzam.
"Tidak, itu pasti salah," jawab Fanny.
"Aku tidak peduli pendapatmu. Kau dan ibumu berencana membunuh Darakan?" bentak Alzam.
Fanny terkejut. Bagaimana bisa Alzam tahu soal rencana pembunuhan Dara.
"Tidak Alzam, aku tidak ...," jawab Fanny.
"Ku peringatkan Fanny, kalau kau berani mengusik hidupku dan keluargaku, akan ku jebloskan kau dan ibumu ke penjara," ancam Alzam.
Fanny terdiam. Tak bisa berkutik. Perkataan Alzam sudah mematahkan semuanya.
"Jangan pernah temui aku lagi, mulai hari ini kita tidak punya hubungan apapun, ingat itu!" ancam Alzam. Dia berjalan meninggalkan Fanny ke luar dari restoran itu.
Tinggal Fanny yang duduk di kursi. Dia kesal dan marah.
"Sial! Kenapa Alzam tahu semuanya?" ujar Fanny. Dia mengepal tangannya. Memukul meja. Dan melempar semua barang di meja.
"Nona, anda merusak fasilitas kami," ucap pelayan yang menghampiri Fanny. Melempar barang-barang di atas mejanya. Dari piring, gelas, dan vas bunga.
"Aku bisa ganti, berapa sih? paling juga murah," ujar Fanny sesumbar.
Pelayan mengambil struk total kerugian restoran. Memberikannya pada Fanny.
"Cuma 1 juta, kecil," ucap Fanny sombong. Merasa uang segitu tak banyak.
"Ya udah bayar Nona," sahut pelayan.
Fanny mengambil tas cangklong miliknya. Mengambil dompet di dalam tas. Tetapi tidak menemukan dompetnya. Fanny panik.
"Loh kok dompetku gak ada," ucap Fanny.
"Jangan pura-pura, bayar Nona!" sahut pelayan.
"Dompetku hilang," jawab Fanny.
"Alasan klasik, kalau gak punya uang jangan seenaknya merusak fasilitas," ujar pelayan.
__ADS_1
Fanny dimarahi pelayan. Akhirnya mau tak mau harus cuci piring di restoran itu. Melihat itu Emira tersenyum. Dia yang menggunakan hoodie berwarna hitam dicipuskan ke kepalanya dan kaca mata hitam. Berdiri dari kursi yang tak jauh dari tempat duduk Alzam dan Fanny tadi. Dia meletakkan dompet di atas meja itu. Kemudian meninggalkan tempat itu.
'