
"Menikahlah dengan Emira! Ku mohon, biarkan aku pergi dengan tenang," kata Dara. Matanya berkaca-kaca. Dia ingin Alzam bahagia sebelum kepergiannya.
"Dara, aku ...," sahut Alzam. Tak kuasa berkata apapun. Dia tak tega pada istrinya. Apalagi kondisinya yang tidak baik.
"Ku mohon kabulkan permintaan terakhirku," kata Dara memegang tangan Alzam. Air matanya jatuh di tangan Alzam bercucuran tetes demi tetes.
Alzam menatap wajah istrinya. Menyeka air mata yang jatuh di pipinya.
"Ku mohon Mas," pinta Dara.
Alzam mengangguk. Mau tak mau menerima permintaan Dara. Meskipun sebenarnya Alzam memang mencintai Emira.
"Terimakasih Mas," jawab Dara. Dia tersenyum tipis. Melihat itu Alzam langsung memeluknya. Dia tak tega mendengar Dara mengatakan semua itu.
"Dara kau harus tetap hidup, kita akan berobat lagi," kata Alzam. Dia berharap Dara akan sembuh dan bisa hidup bersamanya.
"Aku tidak berharap banyak Alzam. Aku ingin mati dengan tenang," jawab Dara. Menangis di bahu Alzam.
"Dara, aku mencintaimu," kata Alzam.
"Aku juga mencintaimu Alzam," jawab Dara.
Dara langsung pingsan di bahu Alzam.
"Dara! Dara!" panggil Alzam saat Dara tak lagi memberikan tanggapan dan respon.
Alzam membalik tubuh Dara. Membopongnya naik ke lantai atas. Dia membawa Dara masuk ke kamarnya diikuti Emira yang membuntutinya dari belakang.
"Alzam, Dara kenapa?" tanya Emira.
Alzam tak berkata apapun. Membaringkan Dara di ranjangnya. Melihat itu Emira langsung mengambil minyak kayu putih. Mengoleskannya di bawah hidung Dara dan di beberapa bagian tubuh Dara biar hangat.
"Dara! Dara!" panggil Emira.
"Dara ingin kita menikah Emira," kata Alzam. Raut wajahnya tampak sedih.
__ADS_1
"Menikah?" Emira terkejut.
Alzam mengangguk sambil memegang tangan Dara.
"Apa kau mau menikah denganku Emira?" tanya Alzam.
Emira terdiam sesaat memikirkan ucapan Alzam. Meskipun itu bukan kali pertama Alzam mengatakannya.
Tiba-tiba Dara mulai tersadar. Matanya mulai terbuka perlahan. Melihat ke depan. Dia menatap Alzam kemudian beralih menatap Emira.
"Emira," ucap Dara.
Emira mendekat. Memegang tangan Dara yang satunya.
"Iya Dara," jawab Emira.
"Menikahlah dengan Alzam, tolong gantikan posisiku, aku tidak bisa menemaninya lagi," kata Dara. Air matanya kembali menetes di pipinya.
Melihat Dara berlinang air mata, Emira ikut bersedih.
"Kenapa kau berkata seperti itu. Kau akan sembuh Dara, kita akan membawamu berobat," sahut Emira.
Emira menyeka air mata di pipi Dara. Dia tak tega melihat Dara seperti itu.
"Emira ku mohon," pinta Dara.
Emira mengangguk.
"Terimakasih Emira," kata Dara.
Emira langsung mencium tangan Dara. Air matanya menetes tak beraturan. Dia yang biasa sekuat baja tapi kali ini dia sangat lemah tak berdaya.
***
Emira duduk di meja rias. Dia mengenakan gaun pengantin. Tampak cantik dan anggun. Wajahnya yang jarang dipoles make up membuatnya sangat berbeda dari sebelumnya. Lebih bersinar seperti seorang barbie. Dara menghampirinya sambil mendorong kursi rodanya.
__ADS_1
"Cantik sekali, Alzam pasti pangling," kata Dara memuji Emira.
"Kau juga cantik Dara," jawab Emira.
Dara terlihat pucat. Tapi dia tetap tersenyum. Dia senang melihat Emira jadi pengantin untuk suaminya.
"Terimakasih Emira, kau mau menggantikan posisiku," kata Dara.
"Jangan berkata seperti itu lagi. Aku tidak bisa mendengarnya lagi," sahut Emira.
"Semoga kalian bahagia. Memiliki keturunan yang akan meramaikan rumah ini," ujar Dara.
Emira bukannya senang justru menangis.
"Jangan menangis, hari ini hari bahagiamu," kata Dara.
Emira langsung memeluk Dara. Tubuh Dara yang lebih kurus darinya tampak lemah tak berdaya.
"Dara kau harus tetap semangat untuk sembuah agar kau bisa melihat anak-anak kita," ujar Emira.
Dara hanya tersenyum sambil meneteskan air matanya. Dia tidak bisa lebih lama lagi bersama Alzam dan Emira. Dara tahu diri esok atau lusa mungkin saja dia akan pergi selamanya.
Hari pernikahan itu tampak sederhana karena Dara yang masih sakit dan duduk di kursi roda. Hanya ada penghulu dan saksi. Pernikahan itu diadakan di ruang keluarga yang ada di rumah besar itu. Hanya ada penghulu, saksi, Bibi Nur, tukang kebun, dan sekuriti.
Pernikahan itu sengaja tidak dirayakan karena kondisi kesehatan Dara. Alzam duduk bersama Emira bersampingan. Mereka duduk lesehan di karpet. Di depan mereka ada meja untuk akad nikah. Penghulu duduk di depan keduanya. Dan para saksi duduk di samping.
"Sudah siap?"
"Siap," jawab Alzam dan Emira.
Akad nikah itu pun dimulai. Alzam terbata-bata saat mengucapkan ijab kabul. Mungkin karena hatinya yang sedang bersedih karena kondisi Dara.
"Kita ulang lagi, mohon dipersiapkan dengan matang."
"Iya," jawab Alzam.
__ADS_1
Ijab qobul itu diucapkan lagi oleh Alzam. Tetap saja dia masih terbata-bata. Berat mengucapkannya apalagi ada Dara di sampingnya.
"Ya Allah kenapa berat sekali aku melangkah," batin Alzam.