
"Iya, mereka menyewa pembunuh bayaran untuk menyingkirkan Dara, Ibu Yeni juga mendorong Dara agar jatuh ke tangga saat di rumah sakit selain itu aku hampir saja ditabrak Ibu Yeni," jawab Emira.
"Mereka benar-benar nekad," ujar Alzam.
"Aku rasa mereka harus diberi pelajaran agar tak lagi melakukan hal itu," ujar Emira.
"Apa yang harus ku lakukan pada mereka?" tanya Alzam.
"Ikan hidup di air, jika pasokan airnya kita hentikan dia akan kelabakan," jawab Emira.
"Maksudnya?" tanya Alzam. Dia tidak tahu maksud pembicaraan Emira.
"Kau harus tegas pada mereka, kau sudah tahukan Haidan bukan anakmu, jadi tak ada lagi hubungan antara kau dengan mereka, hentikan segala ikatan atau kontribusimu untuk mereka, dengan begitu mereka takkan bisa berbuat apa-apa," jawab Emira.
Alzam terdiam. Benar juga kata Emira. Sudah saatnya dia terbebas dari Fanny dan keluarganya. Toh Alzam bukan ayahnya Haidan.
"Iya aku setuju dengan saranmu, selain itu mereka harus dilaporkan ke polisi karena melakukan percobaan pembunuhan," ujar Alzam.
"Sebaiknya soal pembunuhannya tidak perlu kau laporkan ke polisi," ujar Emira.
"Kenapa?" tanya Alzam. Dia tidak tahu kenapa Emira melarangnya melaporkan mereka ke polisi.
"Itu karena kau akan berurusan dengan Pembunuh Bayaran Serigala Hitam, dan itu sangat berbahaya," jawab Emira. Dia tidak ingin Alzam dan Dara dalam bahaya. Berurusan dengan Pembunuh Bayaran Serigala Hitam bukan perkara yang mudah. Mereka bisa melakukan apapun jika keamanan mereka terusik.
"Tapi Ibu Yeni dan Fanny pasti akan menyuruh mereka membunuh Dara lagi," ujar Alzam.
"Soal itu kau tak perlu khawatir, mereka takkan berulah lagi, aku jamin," sahut Emira.
Alzam mengangguk. Perkataan Emira tidak perlu diragukan lagi. Dia bukan orang sembarangan, tentunya sangat tahu Pembunuh Bayaran Serigala Hitam.
"Tinggal kau urus dua ular itu, putuskan rantai makanannya," ujar Emira.
"Ternyata kau memang pintar dan hebat, tak sia-sia aku menyewamu," puji Alzam.
"Aku melakukan ini semua untuk Dara," jawab Emira.
"Untukku tidak?" tanya Alzam.
"Untuk apa untukmu?" jawab Emira.
__ADS_1
"Untuk suamimu," jawab Alzam.
Emira tersenyum. Bisa aja Alzam membuat candaan untuknya.
"Aku ke kamarku dulu, pikirkan kata-kataku Alzam," ujar Emira. Dia berjalan beberapa langkah ke depan.
"Terimakasih Badak," ucap Alzam.
Langkah kaki Emira terhenti saat Alzam memanggilnya badak.
"Alzam kau ya, bisa tidak jangan memanggilku badak heh," sahut Emira.
"Bukannya tak apa aku memanggilmu Badak, kitakan lagi berdua," jawab Alzam.
"Terserah kau saja, asal enak didengarnya," sahut Emira. Dia kembali berjalan meninggalkan Alzam.
***
Pagi itu Emira mengantarkan Dara untuk kemoterapi ke rumah sakit. Dia menyetir mobilnya sendiri dan Dara duduk di sampingnya. Emira tidak bisa memberitahu Dara tentang apa yang terjadi pada Alzam dan Fanny demi kondisi kesehatan Dara, walaupun begitu Emira yakin lambat laun Dara pasti akan tahu.
Sampai diparkiran rumah sakit, Emira membantu Dara turun dari mobil. Tak sengaja Emira melihat Ibu Yeni dan Fanny turun dari mobil juga. Jarak mobil mereka cukup jauh jadi Ibu Yeni dan Fanny tidak melihat Emira dan Dara.
"Emira berat tidak?" tanya Dara saat Emira mengangkatnya ke kursi roda.
"Tidak, aku sudah terbiasa membopong orang," sahut Emira. Dia membopong Dara dari dalam mobil ke kursi rodanya. Kemudian Emira membawa Dara masuk ke rumah sakit. Dia mengantarkan Dara kemoterapi. Saat Dara mau masuk ruangan kemoterapi, Emira berbicara padanya.
"Dara selama kau kemoterapi di dalam, aku mau pergi ke luar sebentar. Aku akan kembali sebelum kemoterapimu selesai," ujar Emira.
"Oke, Emira terimakasih sudah mengantarku dan menemaniku," ucap Dara.
"Sama-sama, semangat Dara! Kau pasti akan segera sembuh," sahut Emira sambil menyemangati Dara.
Dara mengangguk. Tersenyum pada Emira.
Setelah itu Dara masuk ke ruang kemoterapi diantar perawat. Sedangkan Emira ke luar dari rumah sakit. Dia berjalan di jalan raya untuk membeli sesuatu. Setelah yang dibutuhkannya terbeli, dia kembali ke rumah sakit.
Emira berjalan ke area parkiran mobil, lalu menghampiri mobil Fanny.
"Sepertinya mobilnya memakai alarm mobil yang masih standar, berarti Clever bisa meredam alarm itu supaya tidak aktif saat aku menyentuh pintu mobilnya," ucap Emira.
__ADS_1
Tak berpikir panjang Emira meminta bantuan Clever untuk menonaktifkan sementara alarm mobil milik Fanny.
"Clever ON," ucap Emira.
"Yes Clever ON," sahut Clever.
"Tolong non aktifkan alarm mobil ini selama setengah jam," pinta Emira.
"Oke," sahut Clever. Langsung menjalankan permintaan Emira.
Setelah Clever menonaktifkan alarm mobil, Emira menggunakan sarung tangan khusus supaya sidik jarinya tak tertinggal di mobil itu.
Dia langsung mengeluarkan kunci khusus miliknya untuk membuka pintu mobil milik Fanny.
Lalu dia meletakkan sesuatu yang dibelinya tadi ke dalam mobil itu. Emira juga membuka sedikit kaca mobil itu. Kemudian Emira menutup dan mengunci kembali pintu mobil itu.
"Ibu Yeni dan Fanny, aku memberi kalian sedikit kejutan, semoga kalian suka," ucap Emira. Tersenyum dengan kejutan yang akan diberikan pada Ibu Yeni dan Fanny.
Emira kembali lagi ke dalam rumah sakit untuk menjemput Dara. Dia duduk di kursi tunggu, tak lama Dara ke luar dari ruangan kemoterapi. Emira membawa Dara ke luar dari rumah sakit. Mereka pulang kembali ke rumah besar Alzam.
Di sisi lain, Ibu Yeni dan Fanny baru ke luar dari rumah sakit. Mereka berjalan menuju ke parkiran mobil. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi yang berada di depan mobil. Fanny menutup pintu mobilnya. Tak lama tikus-tikus putih yang cukup banyak berjalan ke sana ke sini di dalam mobil itu. Dan sebagian merayap ditubuh Ibu Yeni dan Fanny. Mereka berteriak ketakutan.
"Aaaaaaaaaaaaa ...," ucap Ibu Yeni dan Fannny berteriak bersamaan. Mereka ketakutan dan geli. Tikus-tikus itu bergerak memenuhi ruangan mobilnya.
"Fanny tolong buang tikus di dada Ibu, takut nih," ucap Ibu Yeni.
"Ibu masih untung, coba liat di rambutku ada tikus yang lagi merayap, gimana nih Bu?" ucap Fanny.
"Fanny tolong Ibu, masuk ke dalam rok ibu," ujar Ibu Yeni.
"Ibu tolong aku dulu, nanti kalau tikusnya pipis dirambutku, gimana?" tanya Fanny.
"Fanny tikusnya makin banyak dan berjalan mendekati kita," ucap Ibu Yeni.
"Aduh tikusnya ada satu lagi yang merayap di masuk ke dadaku Bu, geli, takut nih," guman Fanny.
"Ini malah pada ngumpul di rok Ibu ada dua, Fanny Ibu takut," ucap Ibu Yeni.
Mereka berhasil dikerjai oleh Emira. Ibu Yeni dan Fanny ketakutan dengan tikus-tikus putih itu. Mereka mati kutu saat tikus-tikus putih itu merayap di tubuh mereka.
__ADS_1