Ranjang Bayangan Sang Agen

Ranjang Bayangan Sang Agen
Promo Novel Baru


__ADS_3

Assalamu'alaikum


Mampir yuk di novel baru author


berjudul Menjemput Luka


"Shera aku ingin kita bercerai." Kata cerai itu keluar dari mulut Bagas begitu saja.


"Bercerai?" Ucapku terkejut.


"Iya."


"Kenapa kita harus bercerai Mas? selama ini pernikahan kita baik-baik saja, aku pun tidak merasa melakukan kesalahan, bahkan kita hampir tak pernah bertengkar," ucapku terkekeh.


"Kita harus bercerai." Bagas kembali menegaskan kata-kata cerai dari mulutnya.


"Beri aku alasannya, kenapa kita harus bercerai? 10 tahun kita bersama Mas." Aku terus menyakinkan suamiku.


"Aku seorang wanita, Shera." Bagas mengucapakan kata-kata yang sebenarnya menyakitkan untuknya sendiri.


"Apa? kau seorang wanita Mas?" Tanyaku penuh keragauan. Berharap itu hanya sebuah kebohongan.


"Iya, aku seorang wanita sepertimu." Bagas kembali menegaskan ucapannya.


Aku sedang berdiri didepannya langsung terduduk dilantai. Berlinang air mata. Seolah semua ini mimpi dan aku ingin segera bangun. Aku tertawa sembari menangis. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Aku banyak menghabiskan waktu bersamanya. Kenangan-kenangan indah itu terlintas dipikiranku. Tubuhku lemas tak berdaya, untuk menatapnya saja aku tak mampu. Selama ini Mas Bagas selalu baik hati dan perhatiaan. Aku bahkan merasa hidup seakan disurga. Dia memberiku segalanya, harta, cinta dan tahta. Dia melindungiku dari apapun yang akan menyakitiku. Tapi kini kenyataan seolah mentertawakanku. Aku seperti orang bodoh yang tak tau apa-apa.


Mas Bagas duduk di depanku sambil menundukkan kepalanya. Dia tak berani menatapku yang sedang bersedih.


"Kenapa? kenapa baru sekarang kau bilang Mas?"


Aku terus mempertanyakan alasannya selama ini membohongiku.

__ADS_1


"Maafkan aku Shera, maafkan aku." Hanya kata maaf yang terlontar dari bibir suamiku.


"Aku mencintaimu Mas, semua ini rasanya seperti tersambar petir tapi aku tak mati." Aku menangis dan menangis. Kebenaran ini terlalu mendadak atau aku terlanjur cinta padanya.


"Maaf Shera, aku tak berniat menyakiti hatimu." Mas Bagas menangis didepanku sambil menundukkan kepalanya.


"Hik hik hik." Aku hanya bisa menangis tak mampu marah apalagi memberontak pada takdir.


Bagas menatap wajahku yang sembab, dia membelai pipiku yang basah karena air mata.


"Jangan menangis, aku juga tidak ingin semua kenyataan ini hadir. Aku ingin hidup bersamamu." Ujar Bagas sembari menangis memegang kedua pipiku.


"Hik hik hik, apa ini takdir atau hukuman untuk kita Mas?" Tanyaku dalam keputusasaan.


"Bukan, aku juga tidak tahu. Semua ini bukan salah kita berdua. Aku juga baru tahu kalau aku seorang wanita dulunya," ucap Bagas.


"Mas hik hik hik, kita sudah bahagia kenapa harus seperti ini? hik hik hik." Aku terus menangis. Rasanya berat menerima kenyataan dan takdir ini.


"Siapa yang bersalah? apa ini karena dosa kita atau Allah sedang menguji kita?" Ujarku.


"Sabar Shera, Allah pasti akan memberi yang terbaik untuk kita. Aku yakin kau akan bahagia nantinya meski tidak bersama denganku," ucapnya menenangkan hatiku.


"Astagfirullah, hik hik hik. Ya Allah berilah hamba kesabaran." Ujarku terus menyebutNya sambil terisak tangis.


Aku tak ingat apapun lagi setelah itu. Mungkin aku pingsan karena terus menangis. Saat aku bangun aku tak menemukan Mas Bagas disampingku. Aku beranjak dari ranjang. Keluar kamar. Ku dengar suara pertengkaran hebat antara Mas Bagas dan ibunya. Aku hanya mengintip dari luar pintu kamar ibunya yang sedikit terbuka.


"Hanya karena harta kau membuatku jadi seorang laki-laki, serakah," ucap Mas Bagas pada ibunya.


"Bagas, lihat hidupmu sekarang. Bergelimang harta, dan kau bisa bahagia bersama istrimu," kata ibunya.


"Bahagia? kau mematahkan semua kebahagiaanku Bu. Kau membuatku menyakiti orang yang paling ku cintai Bu."

__ADS_1


"Kau sendiri yang bodoh. Sudah jadi laki-laki untuk apa mengungkap identitasmu lagi. Tinggal bahagia aja kok repot."


"Ku pikir kau akan merasa bersalah Bu, tapi aku salah. Kau memang Ibu yang tak punya hati. Demi kepentinganmu sendiri kau korbankan aku. Kenapa aku harus terlahir dari wanita gila harta sepertimu?"


"Tak tahu diri. Masih untung ibu dulu tak membuangmu dan tetap mempertahankanmu. Kalau tidak, kau sudah tinggal dijalanan."


"Aku lebih baik tinggal dijalanan dari pada tinggal diistana ini tapi hidupku seperti boneka yang terus kau atur, bahkan jenis kelaminku pun kau atur."


Hatiku semakin teriris mendengar semuanya. Aku pikir tadi itu mimpi. Atau Mas Bagas mungkin sedang mencari alasan untuk menceraikanku. Tapi semua ini benar. Dan ibunyalah yang membuat semua ini terjadi.


Aku berlari keluar rumah. Rasanya hidupku hancur berkeping-keping. Kebahagian kemarin seakan berlalu tanpa jejak. Aku terus menangis dibawah guyuran air hujan yang membasahi tubuhku. Kaki terus melangkah tanpa arah. Air mataku menyatu dengan air hujan. Aku terduduk dan menangis meminta Allah merubah semuanya menjadi mimpi dan saat aku bangun masih ada Mas Bagas.


"Hik hik hik."


"Shera ayo pulang." Suara Mas Bagas dibelakangku sambil membawa payung untuk meneduhi tubuhku dari hujan.


"Mas aku mencintaimu, kenapa semua ini terjadi begitu saja? hik hik hik."


"Shera, aku yakin kita akan bahagia, walaupun kita tak bersama. Tak perlu menyesali takdir dan menangisinya."


"Allah menakdirkan jalan yang berbeda untuk kita Mas."


Mas Bagas memelukku dari belakang. Kami hujan-hujanan bersama.


"Menangislah untuk hari ini dan tersenyumlah untuk hari esok, aku tidak ingin melihat air mata ini jatuh lagi dipipimu."


"Hik hik hik Mas."


Tak peduli seberapa deras air hujan yang turun. Air mataku tak berhenti menetes. Langit seperti mengetahui apa yang ku rasakan sekarang.


"Sheraaa aku mencintaimuuuu." Teriak Bagas untuk terakhir sebelum hari esok kata itu takkan diucapkan lagi.

__ADS_1


"Mas Bagas! Aku mencintaimu!" Akupun ikut berteriak di antara suara air hujan yang deras.



__ADS_2