
Alzam masuk ke dalam kamar Dara. Dia melihat Dara sudah tidur sambil memeluk foto pernikahan mereka dulu. Alzam mendekatinya dan mengambil foto itu perlahan. Dia meletakkan foto pernikahan itu ke tempat semula. Menyelimuti Dara dan mencium keningnya. Mata Alzam berkaca-kaca saat melihat istrinya yang sedang sakit belum juga kunjung sembuh. Dia bisa merasakan betapa sakit yang dirasakan Dara.
"Dara sayang, semoga kau cepat sembuh, kau harus kuat. Aku juga rindu masa-masa dahulu saat kita baru menikah. Aku selalu mencintaimu Dara, jika nanti hatiku mencintai wanita lain, apa kau akan terluka? Aku tidak ingin melihatmu bersedih. Aku tidak tahu dengan perasaanku, akhir-akhir ini aku merasa nyaman bersama Emira, dia gadis yang baik dan berbeda dari gadis lainnya. Aku ingin dia berada di sisiku dan membantuku merawatmu," ucap Alzam dalam hatinya.
Setelah itu, Alzam berdiri. Berjalan menuju toilet. Membersihkan tubuhnya kemudian berganti baju tidur. Alzam berbaring di samping Dara. Dia memeluk Dara yang sedang tidur.
Tak lama Dara terbangun melihat Alzam sedang memeluknya sambil tidur. Dara memeluk kembali Alzam dengan erat. Seolah dia tak bertemu dengan Alzam dalam waktu yang lama. Dara meneteskan air matanya. Dia takut masa-masa seperti ini besok akan berakhir. Dia menghirup aroma tubuh Alzam yang selalu membuatnya rindu. Mungkin aroma ini besok atau lusa tak mampu dia cium kembali.
"Alzam aku ingin selalu bersamamu seperti ini.Tapi takdir berkata lain, aku akan meninggalkanmu jauh suatu saat nanti. Aku ingin bisa memelukmu lebih lama lagi dan mengulang hari-hari yang telah kita lalui dulu. Aku mencintaimu Alzam," ucap Dara dalam hatinya. Dia tahu umurnya sudah tak lama lagi. Dia berharap bisa menikmati sisa hidupnya bersama Alzam. Meskipun itu sebentar tapi itu cukup untuknya.
Dara meneteskan air matanya, dia mengingat waktu bersama Alzam. Kenangan yang tak pernah bisa digantikan oleh apapun. Kenangan yang selalu ada di hati dan pikiran Dara. Mungkin raganya akan pergi tapi cintanya tetap ada untuk Alzam.
Malam berganti pagi, matahari mulai terbit. Burung-burung mulai bersiul. Hembusan angin segar menyapu seluruh permukaan. Cahaya matahari yang begitu menghangatkan, membuat setiap insan bersemangat untuk menjalani hari. Pagi itu Emira mengajak Dara jalan-jalan pagi seperti biasanya. Dara begitu senang saat berada di luar rumah. Dia melihat berbagai bunga di taman bunga yang berada di halaman samping rumah besarnya.
"Emira aku tak sabar menunggu perutmu membesar dan melahirkan, apa aku masih bisa menyaksikannya? Atau aku sudah pergi," ujar Dara.
"Kau tidak boleh berkata seperti itu Dara, aku yakin kau akan sembuh. Kau bisa melihat perutku membesar dan melahirkan," jawab Emira. Getir harus mengatakan kebohongan itu pada Dara. Rasa bersalahnya berkecamuk di hatinya. Meronta-ronta ingin rasanya berteriak. Kalau semua itu bohong.
"Aku ingin menggendongnya, dia pasti akan bahagia bisa tumbuh di keluarga kita. Dia punya dua ibu dan ayah," ujar Dara..
Emira memegang bahu Dara. Mengelusnya. Dia tidak tahu terbuat dari apa hati Dara. Di saat sakit dia bisa membagi suaminya. Padahal dia sendiri pasti sangat membutuhkan suaminya.
"Maafkan aku Dara, atas semua sandiwara ini," batin Emira. Seandainya bisa dan tidak melukai hati Dara, dia ingin jujur kalau dia tak bisa membohongi wanita yang begitu baik dan kuat itu.
Tak lama Alzam datang menghampiri mereka yang sedang melihat-lihat bunga mawar di taman.
"Pagi," sapa Alzam.
"Pagi," sahut Dara dan Emira bersamaan. Sambil melirik ke arah Alzam.
"Dara apa kau suka bunga mawar?" tanya Alzam.
"Iya Mas," jawab Dara.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan memetikkan bunga mawar merah itu untukmu," ucap Alzam.
Dara mengangguk.
Segera Alzam memetikkan Dara bunga mawar merah. Kemudian mendekati Dara sambil membawa setangkai bunga mawar merah.
"Ini untukmu Dara," ucap Alzam memberikan bunga mawar merah itu pada Dara.
"Makasih Mas," sahut Dara.
"Iya sayang," jawab Alzam.
"Mas petikkan bunga mawar untuk Emira juga," pinta Dara.
"Ee ...," ucap Alzam.
"Tidak usah Dara," sahut Emira.
"Kau istri Mas Alzam juga, jadi Mas Alzam harus memberi bunga mawar untukmu," ujar Dara.
"Mas ayo petikkan Emira bunga mawar," pinta Dara.
Alzam mengangguk.
Bergegas Alzam memetik lagi satu bunga mawar merah. Menghampiri Emira. Berdiri di depannya. Jantungnya berdebar tak karuan lagi. Saat berada di dekatnya.
"Emira ini untukmu," ucap Alzam memberikan bunga mawar merah itu pada Emira.
"Iya, makasih Alzam," sahut Emira sambil mengambil bunga mawar dari Alzam.
"Apa kau tak suka bunga mawar?" tanya Dara melihat ekpresi Emira yang tak terlihat senang saat mendapatkan bunga mawar itu.
"Iya aku kurang suka bunga," jawab Emira. Dia memang tak suka bunga. Apalagi bunga mawar merah.
__ADS_1
"Nanti kau akan suka bunga, baunya harum dan indah," sahut Dara.
"Iya Dara," sahut Emira.
Setelah mereka jalan-jalan pagi, mereka masuk ke dalam rumah untuk sarapan bersama. Emira menyuapi Dara terlebih dahulu, setelah Dara makan Emira mengantarkan Dara ke kamarnya setelah sarapan pagi. Emira turun kembali ke ruang makan untuk sarapan, ternyata Alzam masih di meja makan itu. Emira duduk dan makan menggunakan tangannya.
"Emira kau biasa makan pakai tangan, tak pernah pakai sendok?" tanya Alzam.
"Aku sudah terbiasa seperti ini, memakai sendok jika makan sesuatu yang berkuah saja," jawab Emira.
"Aku akan menghadiri pembukaan butik temanku, apa kau mau sesuatu? Baju atau tas?" tanya Alzam.
"Tidak, bajuku sudah banyak," sahut Emira.
"Kau tas wanita gimana?" tanya Alzam.
"Aku lebih suka ransel, itu terlalu feminim untukku," jawab Emira.
"Kau memang wanita yang tidak banyak maunya ya, beruntung sekali jika bisa memilikimu," ungkap Alzam.
"Apa? Kau bilang apa tadi?" tanya Emira.
"Maksudku orang yang bisa memilikimu pasti sangat beruntung," sahut Alzam.
"Kau itu belum mengenalku, aku ini tidak bisa jadi gadis pada umumnya. Kau lihat aku, terkadang ayah dan ibuku suka ngomel karena aku seperti ini, mereka bilang aku akan sulit mendapatkan jodoh jika tidak bersikap manis, lemah lembut dan berpenampilan menarik," jawab Emira.
"Aku suka kau apa adanya Emira, tak perlu merubah dirimu seperti orang lain. Kau spesial dan berbeda dari wanita lainnya," sahut Alzam.
"Bicaramu aneh Alzam, aku tak suka dipuji berlebihan. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing," jawab Emira. Dia merasa Alzam agak berbeda. Emira jadi canggung.
"Emira jika ada yang memintamu jadi istri kedua beneran, apa kau bersedia?" tanya Aditya.
"Pertanyaanmu terlalu menantang Alzam, menikah sekali saja aku belum. Ini jadi istri kedua, aku tidak tertarik," jawab Emira.
__ADS_1
"Aku tidak bisa membohongi Dara, dia ingin kita memiliki anak, bagaimana jika waktunya tak banyak, akan sangat bersalah jika kita membohonginya," ucap Alzam.
Emira terdiam. Ekspresi di wajahnya berubah dingin. Perkataan Alzam membuatnya bingung seribu bahasa.