Ranjang Bayangan Sang Agen

Ranjang Bayangan Sang Agen
Memburuk


__ADS_3

Emira dan Nike akhirnya bertarung dengan mereka. Mereka mengeluarkan senjata andalan agar tak berisik dan terlalu lama baku hantam. Pistol bius yang dibawanya. Sambil baku hantam mereka menembakkan pistol itu. Satu per satu dari mereka tumbang.


"Beres, ayo!" ajak Emira.


Nike mengangguk.


Mereka berdua ke luar dari tempat itu, masuk ke saluran pembuangan air. Meskipun jorok dan bau, hanya itu cara aman keluar dari markas itu dengan selamat.


Emira dan Nike keluar dari saluran pembuangan air di sebuah jalan raya. Mereka berjalan menelusuri jalan sambil mencari tumpangan.


"Emira kenapa kau ditugaskan untuk menyusulku?" tanya Nike.


"Bos Luan yang memintaku," jawab Emira.


"Terus Dara siapa yang merawat?" tanya Nike.


"Bos Luan mengutus agen level S untuk merawat Dara," jawab Emira.


"Agen level S? Siapa?" tanya Nike.


"Aku belum tahu, aku cek dulu ya siapa dia," jawab Emira. Dia langsung mengaktifkan Clever untuk mengetahui siapa yang menggantikannya sementara.


"Clever ON," ucap Emira.


"Yes Clever ON," sahut Clever.


"Cari data agen level S yang menggantikan misiku merawat Dara!" titah Emira.


"Oke," sahut Clever langsung memunculkan profil Bella. Segera Emira dan Nike memperhatikan profil Bella.


"Emira, kalau dilihat dari profilnya dia masih baru, dia bahkan sering gagal dalam menjalankan misi, kalau gak salah dia pernah satu tim denganku," ucap Nike.


"Iya, di sini terlihat dia belum pernah menyelesaikan misi level S dengan baik," ucap Emira.


"Saat dia ikut denganku juga dia tidak benar-benar bekerja dengan benar," tambah Nike.


"Tapi kenapa Bos Luan menugaskan dia untuk merawat Dara?" tanya Emira.


"Mungkin hanya dia agen yang sedang kosong, agen lain mungkin sedang menjalankan misi," jawab Nike.

__ADS_1


Seketika Emira langsung mengkhawatirkan Dara, dia tidak tahu apa Bella bisa merawat Dara dengan benar.


"Kau terlihat cemas Emira?" tanya Nike.


"Aku mencemaskan Dara, Nike," jawab Emira. Dia sudah menganggap Dara saudaranya. Jika terjadi sesuatu pada Dara, Emira tidak bisa menerimanya.


"Kalau begitu kita harus segera menyerahkan bukti ini pada Pak Setiawan," ucap Nike.


Pak Setiawan adalah Gubernur dari daerah tersebut. Mereka mendapatkan misi dari Pak Setiawan. Dia ingin menangkap orang yang menyebabkan konflik dan kerusuhan hanya tidak memiliki bukti. Maka dari itu dia menyewa agen rahasia untuk mencari bukti itu.


***


Dara sedang berjalan-jalan di taman bunga dengan Alzam. Hari ini Alzam mengajak Dara jalan-jalan ke tempat umum supaya dia tidak jenuh di rumah saja. Bella cemberut melihat kedekatan Alzam dan Dara.


"Kenapa Alzam mau sih sama cewek jelek penyakitan itu. Udah badannya kurus kering, botak lagi. Cantikan juga aku," ucap Bella dalam hatinya.


Alzam mengajak Dara melihat berbagai jenis bunga di taman itu. Dara terlihat senang sekali melihat berbagai bunga.


"Kau senang Dara?" tanya Alzam.


"Aku senang sekali, di sini indah sekali," jawab Dara.


Mereka berdua tersenyum menikmati pemandangan yang indah memanjakan mata dan udara yang sejuk.


"Dara, aku ke toilet dulu ya sebentar," ucap Alzam.


"Iya Mas," sahut Dara.


Alzam menitipkan Dara pada Bellla. Alzam pergi ke toilet. Bella mengajak Dara berteduh di bawah pohon. Dia memikirkan rencana untuk mencelakai Dara.


"Di atas pohon itu ada sarang lebah madu, aku akan membuatnya mengeroyok Dara," batin Bella. Dia memiliki ide licik untuk membuat Dara celaka.


Saat Dara sedang asyik melihat bunga-bunga, Bella melempar batu ke arah sarang lebah madu sampai sarangnya terjatuh, eh bukannya mengejar Dara. Tapi lebah madu itu mau mengejarnya. Bella langsung lari terbirit-birit dikejar lebah madu itu.


"Aduh kenapa jadi mengejarku lebah madunya, gimana ini mana gak ada kolam air, bisa disengat habis mukaku," ucap Bella. Dia berlari kencang sampai kelelahan, akhirnya lebah madu itu berhasil mengejarnya. Habis muka Bella disengat lebah madu.


"Aw ... aw ... aw ... sakit ... sakit ...," ucap Bella kesakitan.


Setelah puas lebah madu akhirnya pergi meninggalkan Bella. Muka Bella pada merah terkena sengatan lebah madu.

__ADS_1


"Gagal lagi malah babak belur begini," ujar Bella.


Tak lama Alzam dan Dara menghampiri Bella yang terduduk di bawah. Memegang mukanya.


"Bella kau kenapa?" tanya Alzam.


"Iya mukamu," tambah Dara.


"Di gigit lebah," jawab Bella berbalik melihat Alzam dan Dara.


Seketika Alzam tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Melihat muka Bella penuh benjolan memerah.


"Bella kok bisa kaya gitu?" tanya Dara.


"Gak tahu," jawab Bella.


Rencananya untuk mengerjai Dara justru menjadi senjata makan tuan.


***


Satu Bulan Kemudian


Dara dan Alzam pergi ke rumah sakit untuk check up. Alzam menemani Dara menemui Dokter yang menangani penyakit kanker rahimnya. Dokter itu memberitahu ada perkembangan yang memburuk pada Dara. Sel kanker di rahim Dara menyebar, kecil harapan untuk Dara bisa sembuh kembali. Alzam sedih mendengar penjelasan Dokter. Ke luar dari ruangan Dokter dengan wajah murung.


"Alzam kenapa?" tanya Dara.


"Aku tak berguna, aku tidak bisa membuatmu sembuh," jawab Alzam. Tubuhnya lemas tak bertenaga mendengar ucapan Dokter tadi.


"Aku sudah ikhlas Alzam, apalagi ada Emira yang akan melanjutkan tugasku," sahut Dara.


Alzam langsung memeluk Dara. Perih hatinya mendengar Dara mengatakan hal itu. Dia takut kehilangannya.


"Kau harus berjanji, jika aku mati, hiduplah bahagia bersama Emira," ujar Dara.


"Tidak, kau pasti sembuh Dara," ucap Alzam.


"Aku sudah ikhlas apapun yang akan terjadi Alzam, tolong ikhlaskan kepergianku nanti," ujar Dara.


Alzam menangis. Perih hatinya Dara berkata seperti itu. Seakan dia akan benar-benar pergi untuk selamanya.

__ADS_1


                            


__ADS_2