Ranjang Bayangan Sang Agen

Ranjang Bayangan Sang Agen
Gagal Lagi


__ADS_3

Alzam bangun di pagi itu membawa Dara jalan-jalan santai di halaman rumahnya. Dara begitu menikmati pagi itu apalagi ditemani oleh suami tercintanya . Dara tersenyum gembira sambil melihat pemandangan di halaman rumahnya.


"Dara apa kau suka pagi ini aku mengajakmu ke sini untuk berjemur pagi sekalian jalan-jalan melihat embun pagi?" tanya Alzam.


"Iya, aku senang sekali Alzam," jawab Dara.


"Bagaimana kalau kau jalan di atas rerumputan? ada embunnya pasti akan menyenangkan," ujar Alzam.


"Boleh, aku mau," sahut Dara.


Alzam membantu Dara berdiri dan memapahnya berjalan di antara rerumputan di pagi hari itu.


"Gimana? Apa menyenangkan?" tanya Alzam.


"Iya menyenangkan, sudah lama kakiku tidak menginjak rumput ini," jawab Dara.


"Mulai hari ini kau akan sering jalan-jalan pagi bersamaku," sahut Alzam.


Dara mengangguk senang.


Selesai jalan-jalan pagi Alzam dan Dara kembali ke kamar. Mereka mandi lalu berganti pakaian. Alzam mengajak Dara turun ke bawah untuk sarapan. Mereka masuk ke ruang makan. Duduk di kursi.


"Alzam, Dara mau sarapan ya?" tanya Bella.


"Iya," jawab Alzam dan Dara bersamaan.


"Kalau begitu biar aku yang masak," ucap Bella.


"Tidak usah, ada Bibi Nur," sahut Alzam.


"Tolong izinkan aku memasak untuk kalian," pinta Bella.


"Baiklah, Bella boleh memasak untuk kita," sahut Dara.


Bella langsung senang bisa masak untuk Alzam meskipun atas persetujuan Dara. Dia langsung pergi ke dapur untuk memasak.


"Pokoknya Alzam akan kesemsem sama masakanku, cinta itukan berawal dari perut," ucap Bella. Dia mulai memasak di dapur, tangannya tak sengaja menyenggol garam yang terletak tepat di atas panci sup, dan tumpah ke sayur sup yang dia buat tapi Bella tidak menyadarinya karena repot memasak masakan lain. Pikirannya dipenuhi Alzam sampai lupa memberi garam di masakannya. Lagi pula garamnyakan sudah tumpah semua ke sup. Selesai memasak Bella menghidangkan masakannya di meja makan. Dia begitu senang bisa masak untuk Alzam.


"Ayo di makan," ujar Bella.


Alzam dan Dara mengangguk. Mereka mulai makan.

__ADS_1


"Em ..., supnya asin banget," ucap Alzam.


"Asin?" Bella terkejut.


"Supnya asin banget Bella," tambah Alzam.


Bella penasaran dan mencoba mencicipi sup buatannya. Beneran asin sampai lidahnya getir saat merasakannya.


"Iya asin banget," jawab Bella.


"Gak papa ada masakan lainnya," sahut Dara.


"Sialan, kesan pertama yang buruk," batin Bella kesal.


"Iya," jawab Bella.


Alzam dan Dara mencoba masakan yang lain.


"Ini hambar dan cuma manis aja," gumam Alzam.


"Iya," tambah Dara.


"Masa sih?" ujar Bella tak percaya.


"Sialan aku gagal lagi, ini semua karena tadi aku kebanyakan bengong mikirin Alzam, jadi masakanku tidak enak," ucap Bella dalam hatinya.


***


Emira turun dari atap bangunan itu, robot belalang kembali lagi padanya, Emira memasukkan dia kembali ke ranselnya.


Sekarang Emira mengaktifkan alat penditeksi gerakan manusia agar saat ada orang mendekat, Clever akan memberitahunya.


Emira berjalan dengan sangat hati-hati memasuki ruangan demi ruangan sambil  mengendap-endap. Dia ingin tahu ada apa saja di markas itu. Emira harus mencari bukti lebih banyak untuk menjerat Pak Muhgandir dan Bos Lexis ke penjara.


Saat Emira menuju ke sebuah ruangan bawah tanah, dia masuk ke ruangan itu. Di dalam ruangan itu ada sebuah sel yang dijaga tiga orang pengawal Bos Lexis. Emira langsung melemparkan gas tidur pada mereka dari kejauhan.


Penjaga itu seketika tertidur, bergegas Emira langsung masuk ke dalam sel. Dia berjalan-jalan di antara sel-sel yang ada di dalam.


"Tempat apa ini begitu gelap? Ini sel tapi seperti gua," gumam Emira. Dia mengaktifkan cahaya penerangan yang ada pada Clever. Ternyata Nike ada di salah satu sel itu. Emira langsung menghampiri Nike temannya dengan senang hati.


"Emira," ucap Nike.

__ADS_1


"Kau ternyata ada di sini, pantas aku mencari dari kemarin tidak ketemu," ujar Emira.


"Ceritanya panjang," sahut Nike.


"Oke, aku bebaskan dulu," sahut Emira. Dia langsung menyabotase kunci sel itu dan mengeluarkan Nike.


"Nike apa yang terjadi sampai kau bisa disel ini?" tanya Emira.


"Emira sebenarnya aku sudah mendapatkan bukti pertemuan Pak Muhgandir dan Bos Lexis tapi aku keburu ketahuan, semua bukti itu dan alat-alatku diambil oleh Bos Lexis," jawab Nike.


"Berarti kita harus mengambil bukti itu tanpa diketahui mereka, kita tak mungkin melawan mereka yang begitu banyak, lagi pula kita tak boleh membunuh tanpa sebab sesuai peraturan," ujar Emira.


"Ya kau betul," sahut Nike.


"Pasti bukti itu ada di ruangan kerja Bos Lexis," ucap Nike.


Emira mengangguk.


Mereka mengendap-endap untuk memasuki ruangan kerja Bos Lexis. Di depan ruangan kerja itu dijaga dua pengawal.


"Nike sepertinya kita harus melempar gas tidur pada dua orang itu," ucap Emira.


"Ya, kau benar," sahut Nike.


Emira mengeluarkan gas tidur, lalu dilempar ke arah kedua orang penjaga pintu itu. Penjaga  pintu itu seketika mereka tertidur. Emira dan Nike masuk ke ruangan itu. Mereka segera mencari ransel milik Nike.


"Eliza ini ranselku sudah ada," ucap Nike.


"Apa semuanya sudah ada di ranselmu?" tanya Emira.


"Iya sudah ada," jawab Nike setelah memeriksa ranselnya.


"Ayo kita ke luar dari markas ini Nike," ujar Emira.


Setelah mendapatkan ranselnya kembali mereka mencari cara ke luar dari tempat itu.


"Nike kita tak mungkin lewat pintu depan. Kita lewat saluran pembuangan air saja. Itu mengarah ke jalan raya," ujar Emira.


"Oke," sahut Nike.


Saat sedang berjalan mereka berpapasan dengan lima orang pengawal Bos Lexis.

__ADS_1


"Emira," ucap Nike.


Emira mengangguk paham yang diinginkan Nike.


__ADS_2