Ranjang Bayangan Sang Agen

Ranjang Bayangan Sang Agen
Pembohong Kalian


__ADS_3

"Iya, aku tidak hamil dan tidak pernah menikah dengan Alzam," jawab Emira.


"Kau bohongkan Emira?" tanya Dara dengan suara kencang.


Emira terdiam. Matanya memerah. Berkaca-kaca. Tak mampu menatap Dara. Dia merasa sangat bersalah dan menyesal.


"Kenapa? Kenapa kau bohong pada orang yang sekarat ini Emira!" kata Dara mulai berurai air mata. Dia tak percaya Emira tega membohonginya. Padahal dia sangat percaya dan simpati padanya.


Emira hanya terdiam. Membiarkan Dara meluapkan semua emosinya. Dia tahu tidak selamanya kebohongan itu akan membawa kebaikan. Dan saat ini dia memanen apa yang sudah dilakukan sebelumnya. Sebuah kebohongan kecil yang akhirnya menimbulkan masalah besar di kemudian hari.


"Kau sengaja berbohong karena aku akan mati, jadi kau bisa dengan mudah melakukan apapun sesukamu, iyakan?" Kata Dara.


"Kenapa Emira? Aku salah apa padamu?" ujar Dara.


"Emira tidak salah, tapi akulah yang salah Dara," jawab Alzam. Dialah yang meminta Emira untuk berbohong. Menjadi istri kedua Alzam di mata Dara. Padahal hanya sebuah sandiwara.


"Mas," sahut Dara.


"Iya akulah yang meminta Emira untuk berpura-pura jadi istri keduaku, aku yang menyewa Emira, dia seorang agen rahasia," ujar Alzam.


"Apa? Kau menyewanya? Emira agen rahasia?" Dara semakin terkejut. Tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ternyata Alzam yang sudah merencanakan semua ini.


"Maafkan aku Dara," ucap Alzam. Dia juga menunduk. Tak berani menatap mata Dara. Rasa bersalahnya begitu besar. Sampai-sampai Alzam tak berani melihat mata Dara yang terluka.


"Kenapa? Kenapa kau berbohong? Kenapa kalian semua membohongiku?" Dara marah, kecewa, dan sedih dengan apa yang dilakukan dua orang yang sangat disayanginya.


"Itu karena aku tidak bisa menduakanmu Dara, saat itu aku hanya mencintaimu," jawab Alzam. Berterus terang dengan alasannya bersandiwara di depan Dara.


"Kau tahu aku memintamu menikah karena apa? Karena aku tidak bisa menjalankan kewajibanku Mas, aku ingin kau bahagia," jawab Dara. Suaranya mulai sendu. Dia begitu terluka dengan alasan Alzam bersandiwara.


"Aku tidak ingin kau terluka Dara, bagaimana bisa seorang wanita membagi suaminya untuk orang lain?" kata Alzam. Dia tidak bisa menyaksikan Dara terluka saat melihat Alzam berbagi cinta. Pasti akan menyakitkan untuk seorang wanita jika berbagi suami.


"Aku lebih terluka saat tahu kau berbohong Mas, aku seperti anak kecil yang kau permainkan. Padahal niatku baik untukmu hik hik hik ...," ujar Dara.


"Dara maafkan aku," ujar Emira.


"Ku pikir kau baik dan sayang padaku, ternyata kau hanya orang bayaran Alzam. Semua yang kau lakukan karena uangkan?" ujar Dara.


"Tidak, aku tulus melakukan semuanya Dara, aku sayang padamu," sahut Emira. Air matanya menetes di pipinya. Dia sudah tak mampu membendungnya lagi.


"Bohong, kalian pembohong, kalian ingin mentertawakanku kan, silahkan!" ujar Dara. Emosinya mulai naik. Dia tak bisa mengontrol dirinya lagi.

__ADS_1


Alzam coba mendekat. Dia tak ingin Dara emosi karena bisa mengganggu kesehatannya. Namun Dara menangkis tangan Alzam yang meraih tubuhnya.


"Jangan sentuh aku! Kau dan Emira tertawa dibalik air mataku," ujar Dara.


"Dara, maaafkan aku sayang," kata Alzam.


"Pergi! Pergi kalian!" titah Dara.


"Dara, biar aku yang pergi, jangan Alzam, kau butuh dia," sahut Emira.


"Tidak, kalian berdua sama saja. Aku tidak butuh kalian semua, pergi!" titah Dara.


Emira mendekat. Berusaha memeluk Dara tapi di didorong olehnya, untung saja Alzam menangkap Emira.


"Aku memang penyakitan, tak berdaya, bahkan hanya untuk ke toilet saja aku tidak bisa, bukan berarti kalian bisa seenaknya padaku," kata Dara sambil menangis tersedu-sedu.


"Dara, maafkan aku, aku sayang padamu," ujar Emira.


"Tidak kau hanya ingin uangkan?" sahut Dara. Di matanya Emira hanya melakukan semuanya karena uang.


"Sayang, kami tidak berniat membohongimu, semua ini karena kami sayang padamu," tambah Alzam.


"Alzam ayo kita ke luar dulu, biarkan Dara tenang dulu," ajak Emira.


Alzam mengangguk. Ke luar bersama Emira. Mereka berjalan ke ruang keluarga yang ada di lantai atas. Duduk di sofa. Baik Alzam dan Emira sama-sama terlihat sedih.


"Semua ini salahku, seharusnya aku tidak membohongi Dara," ujar Alzam.


Emira membuang nafas gusarnya. Dia tahu Alzam terbebani saat Dara memintanya menikah lagi.


"Apa yang kau lakukan tadinya untuk kebaikan Darakan? tapi mungkin kebaikan itu bukan sebuah kebohongan, jadi apa yang terjadi pada Dara sekarang, hal yang wajar," kata Emira.


"Saat itu aku tidak bisa menikah lagi, sedangkan Dara mendesakku, apa yang harus ku lakukan?" ujar Alzam.


"Aku mengerti kau terpaksa karena kau mencinta Dara, jika aku jadi kau pasti juga bingung harus berbuat apa," sahut Emira.


Alzam mengacak rambutnya dengan kedua tangannya. Terlihat sedang pusing memikirkan masalah yang sedang dihadapinya.


"Dara pasti kecewa, aku takut kesehatannya kembali menurun," ujar Alzam.


"Saat ini bicara apapun dengan Dara percuma, dia sedang emosi, butuh waktu untuk tenang," sahut Emira.

__ADS_1


"Aku jadi melibatkanmu dalam masalah pribadiku, padahal kau seorang profesionalis," kata Alzam.


"Tidak masalah, aku sayang Dara terlepas meskipun ini sebuah misi," jawab Emira.


"Makasih Emira, atas semuanya," ujar Alzam.


Emira mengangguk.


Alzam bersandar di sofa. Terlihat penat dan lelah. Baru pulang dari luar negeri justru mendapat masalah besar.


"Kau mau buatkan teh atau kopi?" tanya Emira.


"Boleh, aku mau teh saja," jawab Alzam.


"Semangat Alzam! Kita bisa melewati semua ini," kata Emira.


"Asal ada kau bersamaku Emira," sahut Alzam.


Emira mengangguk.


"Ya sudah, aku buatkan teh dulu," kata Emira.


Alzam tersenyum.


Segera Emira turun ke lantai bawah. Masuk ke dapur membuatkan Alzam teh hangat. Sambil memikirkan masalah Dara.


"Semoga semua ini segera selesai," batin Emira sambil mengaduk teh hangatnya.


Kemudian Emira membawa teh hangat itu naik ke lantai atas. Memberikan teh hangat itu untuk Alzam.


"Makasih Emira," ucap Alzam.


Emira mengangguk. Dia duduk di seberang Alzam. Melihat Alzam menyeruput teh hangat itu.


"Gimana Alzam manis tak?" tanya Emira.


"Manisnya sudah kau borong Emira," jawab Alzam.


"Kau menggoda, tak takut aku menghajarmu?" tanya Emira.


Alzam tersenyum. Meletakkan teh hangat itu di meja. Setidaknya bebannya sedikit berkurang dengan teh hangat buatan Emira.

__ADS_1


__ADS_2