
Satu bulan berlalu Dara masih koma. Alzam dan Emira setiap hari bolak balik ke rumah sakit. Mereka tak lelah berharap agar Dara segera sadar. Alzam dan Emira duduk di kursi yang terletak di luar ruang ICU. Mereka masih terdiam. Masing-masing memikirkan sesuatu di dalam pikirannya.
"Alzam apa yang kau pikirkan?" tanya Emira.
Alzam membuang nafas gusarnya. Berat dan sesak beban di dadanya. Sampai menumpuk dan membuatnya sulit bernafas.
"Kalau Dara siuman, aku ingin mengajak Dara berobat ke luar negeri," kata Alzam.
"Ke luar negeri?" Emira terkejut.
"Iya, kesehatan Dara semakin menurun, aku tidak ingin menyesal nantinya," kata Alzam.
"Kau benar, berusahalah maksimal, bagaimana hasilnya gimana nanti," jawab Emira. Dia tersenyum. Semoga masih ada harapan untuk Dara kembali sehat.
"Emira," ujar Alzam.
"Ya," sahut Emira.
"Jika aku pergi nanti maukah kau menungguku kembali?" tanya Alzam.
Emira terdiam. Mencerna perkataan Alzam.
"Menunggu untuk apa?" tanya Emira.
"Menikah beneran denganku," jawab Alzam.
"Alzam, ada sesuatu yang harus kau tahu," ujar Emira. Sudah saatnya Emira mengatakan hal ini pada Alzam.
"Apa?" tanya Alzam. Dia penasaran apa yang mau dikatakan Emira padanya. Seperti sesuatu yang penting.
"Kemungkinan aku adiknya Dara yang hilang," jawab Emira.
Alzam langsung terdiam saat Emira mengatakan hal itu.
"Jika kau adiknya Dara, berarti aku tidak ...," ujar Alzam berat mengatakannya.
"Kau tidak bisa menikahiku," jawab Emira. Tak mungkin Alzam menikahi kakak beradik sekaligus.
Alzam terdiam. Harapan untuk menikahi Emira akan pupus.
"Aku akan jadi adik iparmu, jadi kita tetap keluarga," kata Emira.
"Emira, katakan padaku apa kau mencintaiku, setidaknya aku tahu itu," ujar Alzam.
__ADS_1
Emira terdiam. Pertanyaan Alzam sulit dijawabnya. Dia mengingat semua yang dilewatinya bersama Alzam.
"Ku mohon jawab itu saja sudah cukup jika memang kita tidak bisa bersama," kata Alzam.
Emira menbuang nafas gusarnya. Menyiapkan diri untuk mengatakan isi hatinya pada Alzam.
"Iya," jawab Emira. Hanya satu kata ke luar dari mulutnya. Kemudian dia berdiri. Meninggalkan Alzam. Baru beberapa langkah. Seorang perawat yang baru saja masuk untuk mengecek kondisi Dara, memanggil Alzam.
"Nyonya Dara siuman," kata perawat.
Alzam dan Emira tersenyum. Mereka berjalan ke arah ruang ICU tempat Dara dirawat. Masuk ke dalam bersama perawat. Mereka langsung menghampiri Dara.
"Sayang," ucap Alzam mendekat. Mencium kening Dara dan memegang tangannya.
"Dara," sapa Emira.
Dara melihat ke arah Alzam dan Emira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mas, Emira," sahut Dara.
Baik Alzam dan Emira tersenyum. Senang melihat Dara sudah sadar. Dara mengangkat tangannya ke udara meminta agar Emira memegang tangannya. Bergegas Emira memegang tangan Dara.
"Aku senang saat aku sadar ada orang-orang yang ku sayangi," kata Dara.
Emira mengangguk tersenyum. Begitupun dengan Alzam. Mereka sangat bahagia saat melihat Dara sudah bisa memanggil nama mereka.
"Aku juga merindukanmu Mas," jawab Dara.
"Selain itu aku juga merindukanmu Emira," tambah Dara.
"Aku juga merindukanmu Dara," sahut Emira.
Mereka bertiga saling meluapkan rasa rindu yang selama ini dirasakannya. Berbagi cerita suka cita. Dara terlihat bahagia bisa berjumpa dengan Alzam dan Emira. Orang yang dia sayangi dan cintai.
***
Satu minggu berlalu. Emira dan Dara pergi ke rumah sakit untuk tes DNA. Mereka pergi bersama Alzam ke rumah sakit itu. Alzam tak menyangka Emira mungkin saja adik kandung Dara. Pertemuannya dengan Emira saat di hotel itu adalah jalan yang mempertemukan Emira dan Dara. Dia senang jika nanti Emira memang benar adik Dara, meskipun itu akan membuat dirinya tak mungkin menikahi Dara. Alzam tidak perlu khawatir lagi mencari orang yang harus merawat Dara. Setelah selesai melakukan tes DNA di laboratorium yang ada di rumah sakit, mereka kembali ke rumah tinggal menunggu hasilnya keluar beberapa hari ke depan.
Emira mengantarkan Dara ke kamarnya untuk beristirahat. Setelah itu dia ke luar dari kamar Dara, Alzam meminta Emira untuk bicara berdua dibalkon ruang keluarga di lantai atas.
"Emira jika benar kau adik Dara, apakah kau akan tinggal di sini selamanya?" tanya Alzam.
"Tidak tahu, aku ini seorang agen rahasia yang mungkin bisa saja kembali ke markas lagi setelah Dara sembuh," jawab Emira.
__ADS_1
"Dara begitu menyayangimu, dia pasti tidak ingin kau jauh darinya," ucap Alzam.
"Maka dari itu berjanjilah padaku Alzam, jangan pernah menyakiti Dara, bahagiakanlah dia! kalau tidak, aku akan menghajarmu dengan tanganku sendiri," tutur Emira.
"Aku berjanji, tidak akan menyakiti Dara lagi dan akan membahagiakannya," ucap Alzam.
Emira tersenyum tipis melihat ke depan.
"Lalu bagaimana jika kau bukan adik Dara, maukah kau menjadi istriku?" tanya Alzam.
"Aku seorang agen, mungkin tak bisa diam di tempat, apa kau bisa memberiku izin jika aku tetap jadi agen?" tanya Emira.
"Asal kau kembali setelah melakukan tugasmu, aku akan memberimu izin," jawab Alzam.
Emira terdiam.
"Apa kau bersedia?" tanya Alzam.
Emira mengangguk.
Kemudian Emira melihat ke langit yang dipenuhi bintang dan bulan yang terang. Angin malam yang begitu dingin terasa dikulitnya. Emira menghirup dalam-dalam udara di malam hari itu melepas semua penat di hatinya.
"Emira rambutmu begitu panjang seperti rapunzel, apakah rambutmu tidak menghalangi pekerjaanmu sebagai agen rahasia?" tanya Alzam.
"Tidak, aku ingin tetap merawatnya. Kalaupun dipotong paling sedikit saja karena kepanjangan.
Tapi aku takkan pernah memotongnya jadi pendek," jawab Emira.
"Memang kenapa kau mempertahankan rambut panjangmu?" tanya Alzam.
"Dulu saat aku kecil ada seorang anak laki-laki yang bilang padaku kalau rambutku indah seperti rapunzel. Sejak saat itu aku terus mempertahankan rambut panjang ini," kata Emira.
"Apa anak laki-laki itu berarti untukmu? Sepertinya kau terus mengingatnya?" tanya Alzam.
"Karena dia aku jadi tomboy seperti ini," kata Emira.
"Kok bisa gimana ceritanya?" tanya Alzam.
"Saat usiaku 8 tahun, aku diganggu teman-temanku bahkan mereka sampai menyakitiku, ada seorang anak laki-laki menolongku. Dia memberiku topi dan bola yang dibawanya padaku. Sejak saat itu aku jadi suka memakai topi dan bermain bola. Begini deh jadinya aku jadi tomboy," jawab Emira.
Alzam terdiam. Seperti teringat sesuatu.
"Emira, apa kau sudah pernah bertemu dengannya lagi?" tanya Alzam.
__ADS_1
"Belum, itu pertemuan pertamaku dan sampai sekarang aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Entah di mana dia sekarang," jawab Emira.
"Dia ada di dekatmu Emira," jawab Alzam.