
Emira melihat Alzam hampir diperkosa Bella. Tanpa pikir panjang, Emira langsung berlari menghampiri Bella yang naik di atas tubuh Alzam. Dia menarik rambut Bella menjauh dari tubuh Alzam. Kemudian Bella membanting Belma ke lantai.
Bruuug ...
Suara tubuh Bella terjatuh di lantai karena dibanting Emira.
"Aw ...," keluh Bella sambil memegang punggungnya.
Emira menghampiri Bella dan mencengkram pipi Bella sekuat mungkin.
"Bella kau itu pagar makan tanaman ya, aku tak menyangka kau mencoret nama baik seorang agen rahasia. Aku jijik melihatmu bahkan bila harus berbicara denganmu, kau tak punya malu dan harga diri!" bentak Emira.
"Agen Emira kau naif, kau sendiri mau bertahan ditempat ini dan merawat wanita penyakitan itu untuk apa? kalau bukan karena suaminya yang tampan dan kaya," jawab Bella
"Aku tak serakus dirimu yang hanya mementingkan kepentinganmu sendiri sampai mengorbankan orang lain," sahut Emira.
"Kau tak rakus, lalu kematian Leonard? Apa itu tidak disebut rakus?" tanya Bella. Mengingatkan luka lama Emira akibat kematian Leonard.
"Tau apa kau tentang urusanku Bella? Kau hanya berusaha mengalihkan permasalahan ini demi menyelamatkan dirimu sendiri," sanggah Emira. Menatap Bella dengan tajam.
"Apa aku salah mencintai seseorang?"
tanya Bella.
"Tidak salah, tapi cintamu itu buta dan gila, kau tahu Alzam sudah menikah tapi kau ingin merebutnya paksa. Di mana kehormatanmu sebagai seorang perempuan baik-baik? Heh!" ujar Emira dengan suara keras penuh penekanan.
"Aku tidak peduli lagi tentang kehormatan, pokoknya aku mau Alzam," sahut Bella. Tak peduli yang lainnya asal memiliki Alzam.
Emira melepas cengkramannya semakin kuat. Kemudian menarik lengannya ikut bersamanya masuk ke dalam toilet. Emira mendudukkannya di bak mandi. Menyiramnya dengan air dingin.
"Dingin ...," keluh Bella.
"Cuci pikiran kotormu, jangan membuat rumah ini tercemar," ujar Emira.
"Aku tidak peduli, aku mau Alzam," jawab Bella.
Emira mengikat kedua tangan dan kaki Bella. Membiarkan air sower mengucur ke bawah. Airnya bertambah sangat dingin.
"Emira kau gila? Aku bisa mati kedinginan," ujar Bella.
"Diamlah di situ sampai aku kembali!" titah Emira.
Dia ke luar dari kamar Bella, dan masuk ke kamar Dara tempat Alzam dirantai di ranjang itu. Melihat Alzam hanya mengenakan kolor Emira menutup matanya sambil membuka rantai di tangan dan kaki Alzam.
__ADS_1
"Alzam rantainya sudah terbuka semua, segeralah memakai pakaianmu setelah itu mari kita cari Dara bersama-sama," ujar Emira.
"Terimakasih Emira," jawab Alzam.
"Sama-sama," sahut Emira. Kemudian dia ke luar kamar. Mengambil sesuatu yang tadi dibelinya. Dia masuk ke kamar, kembali menghampiri Bella di toilet.
"Bella aku punya hadiah untukmu," ujar Emira.
Bella melihat sekantong plastik besar cacing tanah di tangan Emira.
"Emira jangan, itu menjijikkan," ujar Bella ketakutan.
"Ini sangat pas untuk memuaskan hastrat gilamu, dia bisa merayap di seluruh tubuhmu, kau akan puas!" kata Emira.
"Gak, gak, jangan Emira, ku mohon!" pinta Bella.
Emira tak menggubris. Mematikan sower airnya. Menuang cacing tanah di plastik ke dalam bak air mandi.
"Emira geli, Emira aku takut, ampun," rengek Bella. Cacing-cacing tanah itu merayap di tubuhnya. Emira hanya melihatnya dengan senyuman licik.
"Katakan padaku di mana Dara kau tinggalkan?" tanya Emira.
"Aku tidak tahu," jawab Bella.
"Benarkah? Kau mau aku menaruh semut rang-rang juga kebetulan aku juga membelinya," ujar Emira.
"Aku tidak tahu," jawab Bella.
"Bella di mana Dara berada?" tanya Emira. Tatapannya dingin. Menatap tajam Bella
"Aku tidak akan memberitahumu di mana Dara berada," jawab Bella.
"Benarkah kau tak ingin memberi tahuku?" tanya Emira.Dia mengeluarkan setoples ulat bulu di tangannya.
"Kau tahu ini apa? Ulat-ulat bulu ini akan beraksi di tubuhmu," ujar Emira.
"Ampun, jangan Emira. Aku phobia ulat bulu," pinta Bella.
"Sepertinya boleh juga bermain sebentar denganmu. Untung aku sempat membaca profilmu kemarin, jadi aku tahu kau phobia ulat bulu," kata Emira sambil tersenyum.
Emira mengeluarkan satu ekor ulat bulu dan menaruhnya di bahu Bella.
"Ih ... geli ... gatal ... gatal ..., ampun Emira," ucap Bella.
__ADS_1
"Ini baru satu Bella, coba bayangkan jika setoples ulat bulu ini merayap di tubuhmu bersama para cacing pasti seru sekali," ujar Emira.
"Jangan, aku menyerah. Akan ku beri tahu di mana Dara berada tapi ku mohon jangan beri aku ulat bulu itu," pinta Bella.
"Bagus, kau dan ulat bulu ini sama-sama kegatelan. Untung aku masih berbaik hati padamu hari ini. Cepat katakan di mana Dara!" titah Emira.
"Aku meninggalkannya di Pasar Semanggi," ucap Bella.
"Ooo..., kau meninggalkannya berarti kau jahat sengaja melukainya?" tanya Emira.
"Iya," jawab Bella.
"Setelah ini aku akan membawamu ke penjara Bella. Disana kau tak perlu capek-capek bekerja. Tinggal duduk manis, tempat tinggal dan biaya makan gratis," ujar Emira.
"Ampun Emira jangan bawa aku ke penjara," ucap Bella.
"Seharusnya kau memikirkan ini sebelum bertindak jauh tapi kau malah mengikuti pikiran kotormu," kata Emira.
Emira melepas ikatan Bella. Melempar baju padanya.
"Pakai!" titah Emira.
Bella segera memakai baju yang diberikan Emira.
Kemudian Emira memplaster mulut Bella, mengikat tangannya, membawanya ke kamar tamu. Untuk sementara dia di tahan di situ sampai menemukan Dara. Emira kembali menemui Alzam di kamar Dara. Saat dia sedang berjalan ternyata Alzam sudah ada di depan pintu kamar Dara.
"Emira bagaimana dengan Dara? Apa Bella sudah mengaku dimana keberadaan Dara?" tanya Alzam.
"Sudah, dia meninggalkan Dara di Pasar Semanggi," jawab Emira.
"Pasar itu sangat jauh dari sini," sahut Alzam.
"Itu sebabnya kita harus segera menemukan Dara," ucap Emira.
"Ya kau benar," sahut Alzam.
Alzam dan Emira pergi mengendarai mobilnya menuju ke Pasar Semanggi.
Sampai di sana, mereka berpencar untuk mencari Dara. Emira menanyakan ke setiap pedagang dan orang yang lewat sambil menunjukkan foto Dara. Tapi belum juga ada hasil begitupun dengan Alzam. Berjam-jam sudah mereka mencari di pasar dan area yang ada di dekat pasar itu tapi belum kunjung juga menemukan Dara.
"Emira kita harus mencari Dara ke mana lagi?" tanya Alzam.
"Tunggu, aku berpikir dulu," jawab Emira.
__ADS_1
Dia berpikir cara menemukan Dara, setelah dia memiliki ide. Dia memberi tahu ide itu pada Alzam. Dan mereka mulai menjalankan ide yang disarankan Emira.