
Alzam sedang bertemu klien disebut restoran untuk membahas kerjasama bisnisnya. Perasaan Alzam tidak tenang, dia merasa mengkhawatirkan Dara. Selesai bertemu klien di restoran itu, Alzam menelpon ke Dara. Dia ingin tahu keadaan istrinya.
Kriiiing ... kriiiing ... kriiiing ...
Bella terkejut melihat ada telpon dari Alzam ke handphone Dara. Dia bingung harus mengangkatnya atau tidak.
"Aduh Alzama nelpon Dara lagi, gimana nih? apa aku bohong saja?" ucap Bella.
Dia tak mungkin bicara yang sebenarnya, Bella harus pintar bersandiwara. Dia mengangkat handphone Dara yang terus berdering.
"Assalamu'alaikum," ucap Alzam.
"Wa'alaikumsallam," sahut Bella.
"Hallo sayang," ucap Alzam.
"Sialan kenapa harus ingat Dara terus sih? wanita penyakitan saja ngapain masih disimpan," ucap Bella dalam hatinya.
"Maaf Alzam, Dara sedang tidur, aku terpaksa mengangkat telpon darimu takutnya penting," sahut Bella.
"Bella?" Alzam terkejut yang berbicara bukan Dara tapi Bella.
"Iya," jawab Bella.
"Dara sedang tidur? Apa dia baik-baik saja?" tanya Alzam.
"Dia baik-baik saja," jawab Bella.
"Sampaikan salamku pada Dara kalau dia sudah bangun," ujar Alzam.
"Pasti," sahut Bella.
Kemudian Alzam menutup telponnya walaupun hatinya masih saja tidak enak. Dia melihat foto Dara di handphonenya. Entah kenapa dia begitu merindukannya.
***
Dara seharian meminta-minta di jalanan. Dia sampai kelelahan kehausan dan sangat lapar.
Wajahnya terlihat pucat dan penglihatannya mulai kabur. Dara tidak sadarkan diri, kedua preman itu membawa Dara ke basecamp mereka.
"Bro dia bakal mati gak? Repot kalau dia mati."
"Iya juga Bro, tapi semakin dia sakit semakin terlihat ngenes jadi kita bisa dapat uang banyak."
"Bener juga, baru kali ini kita dapat duit banyak semenjak dia ngemis untuk kita."
"Biarin aja dia semakin sakit, biar duit kita tambah banyak. Tar juga sadar, kalau masih belum sadar siram air dingin juga tar bangun."
Kedua preman itu meninggalkan Dara dari ruangan itu. Tak lama Dara sadar, dia berbaring lemah di lantai.
"Alzam, apa kita tidak akan bertemu lagi. Aku merasa hidupku takkan lama lagi, tubuhku sakit sekali. Alzam aku rindu padamu, aku ingin melihatmu sekarang," ucap Dara sambil meneteskan air matanya.
Dara sangat kesakitan dan kondisinya melemah. Dia takut akan mati sebelum bertemu Alzam. Air matanya tak hentinya menetes terus menerus.
***
__ADS_1
Emira mengenakan setelan jas bersama Nike menuju ke sebuah hotel tempat mereka janjian bertemu dengan Pak Setiawan. Disepanjang perjalanan menuju ke hotel dia merasa hatinya tak tenang tapi tidak tahu kenapa dia jadi seperti itu. Nike melihat Emira yang terlihat aneh langsung bertanya pada Emira sambil menyetir mobilnya.
"Emira, kau terlihat seperti mencemaskan sesuatu kenapa?" tanya Nike.
"Entahlah Nike, hatiku tak tenang, aku merasa mencemaskan Dara, apa dia baik-baik saja ya?" jawab Emira.
"Sebentar lagi misi kita selesai, kita sudah melengkapi bukti, tinggal diserahkan hari ini ke Pak Setiawan. Setelah itu kita kembali ke markas untuk melaporkan misi telah selesai. Barulah kau bisa pulang ke rumah Dara," ucap Nike.
"Iya kau benar, aku harus menyelesaikan misi ini dulu, lagi pula aku harus profesional saat menjalankan misi," ucap Emira.
Nike dan Emira masuk ke kamar hotel itu. Pak setiawan sudah menunggu mereka.
"Selamat sore Pak Setiawan," sapa Nike.
"Sore, silahkan duduk!" sahut Pak Setiawan.
Nike dan Emira duduk di sofa yang berada di depan Pak Setiawan.
"Ini semua bukti yang Anda butuhkan kami telah melengkapinya," ucap Nike menyodorkan bukti itu pada Pak Setiawan.
"Terimakasih, kalian memang bisa diandalkan," ucap Pak Setiawan.
"Kalau begitu misi kami selesai, selamat sore Pak Setiawan," ujar Nike.
"Sore," jawab Pak Setiawan.
Emira hanya memberi senyuman.
Nike dan Emira ke luar dari kamar hotel itu. Mereka akan kembali ke markas untuk laporan pada Bos Luan kalau misi sudah terselesaikan.
***
Byuuur ...
"Dingin ... in ... in ...," keluh Dara.
"Hei kau sudah bangun, nih makanlah itu sarapanmu," ucap preman itu memberikan nasi bungkus pada Dara.
"Aku tidak makan makanan sembarangan, aku sedang sakit kanker rahim stadium 3," ujar Dara.
"Wah, bagus kita bisa buat selebaran yang ditempel dipunggungmu untuk biaya berobatmu. Jadi uang yang kita dapatkan lebih banyak."
"Iya, dibutuhkan sumbangan untuk pengobatan kanker rahim stadium 3, terdengar seperti tambang emas yang berkilau."
"Tolong lepaskan aku, suamiku akan membayar kalian dengan uang yang kalian butuhkan," ujar Dara.
"Memangnya kami percaya, kau ini gelandangan mana mungkin punya suami yang kaya."
Dara hanya menangis.
Kedua preman itu meninggalkan Dara sendirian. Dara begitu sedih tak bisa berbuat apapun dengan kondisinya saat ini.
Kedua preman itu membawa Dara ke jalan raya. Mereka sengaja pergi pagi-pagi buta sesuai jam berangkat kerja para karyawan. Mereka merapikan penampilan Dara biar terlihat sangat ngenes. Mereka sengaja mengotori baju yang dipakai Dara dan mengambil penutup kepalanya.
"Berikan penutup kepalaku, ku mohon," pinta Dara.
__ADS_1
"Tanpa penutup kepala ini kau kelihatan lebih ngenes dengan kepala botakmu itu."
"Ini baru akting sempurna, aku tak sabar lagi betapa banyak uang yang akan kau hasilkan untuk kami hari ini."
"Kalian jahat padahal aku ingin orang sakit yang tak berdaya," ujar Dara sambil menangis.
"Bagus menangislah biar kau terlihat lebih ngenes."
"Udah bro anterin aja ke jalan."
"Oke."
Mereka berdua meninggalkan Dara di jalan raya itu. Dara sedang meminta-minta di jalan raya sambil mendorong kursi rodanya. Wajahnya yang pucat, tubuhnya yang kurus kering dan kepalanya botak serta baju yang compang camping membuat orang yang melintas dan melihatnya iba. Mereka memberi Dara uang lebih untuknya.
Saat sedang lampu merah di jalan raya, Dara mendorong kursi rodanya ke tengah jalan. Tangannya meminta-minta pada setiap mobil yang berjejer di jalan raya itu. Tak sengaja dia melihat mobil milik Alzam di seberang jalan.
"Itu mobil milik Alzam, aku harus kesana menghampirinya," ujar Dara. Dia mendorong kursi rodanya secepat mungkin untuk menghampiri mobil Alzam, sampai pada akhirnya Dara terjatuh karena kursi rodanya kehilangan keseimbangan, mobil Alzam pun pergi dari tempat itu. Dara hanya bisa menangis melihat mobil Alzam yang semakin menjauh.
"Mas Alzam ... Mas Alzam ... hik ... hik ... hik ..." Dara berteriak.
Dara hanya bisa menangis dan merayap berusaha mengejar mobil Alzam yang semakin menjauh dan menjauh hingga tak terlihat oleh mata Dara lagi.
***
Alzam sampai dirumah besar miliknya, dia langsung turun dari mobilnya masuk ke dalam rumahnya. Senyumanya mengembang tak sabar ingin bertemu dengan Dara istri tercintanya. Sebelum pulang, dia sudah mengirim pesan ke no telpon Dara, kalau hari ini Alzam akan pulang ke rumah. Baru masuk ke dalam, Bibi Nur memberinya kopi yang tadi dibuatkan Bella.
"Diminum Tuan, Nona Bella tadi menyuruh saya memberi kopi ini pada Tuan," kata Bibi Nur.
"Iya Bi, kebetulan haus," sahut Alzam. Kemudian meneguk kopi itu hingga habis.
"Saya pamit ke belakang Tuan," ujar Bibi Nur.
Alzam mengangguk. Membiarkan wanita paruh baya itu pergi meninggalkannya.
"Kok jadi ngantuk banget," batin Alzam setelah meminum kopi itu. Bergegas Alzam memutuskan untuk naik ke lantai atas. Dia membuka pintu kamar Dara, terlihat seorang perempuan tidur di ranjang kamar itu, Alzam mengira itu adalah Dara. Dia langsung menghampiri dan memeluknya. Perempuan itu langsung membalas pelukan Alzam. Dia memakai baju yang seksi dan terbuka.
"Bella ...," ucap Alzam.
"Alzam sayang, aku sudah siap jadi milikmu," ucap Bella memeluk erat Alzam.
"Bella kamu ngapain di ranjang Dara dan tidur di sini," ucap Alzam.
"Karena aku adalah calon istrimu, Alzam," sahut Bella.
"Bella apa yang kau bicarakan! kau sudah gila!" bentak Alzam berusaha melepas pelukan Bella.
"Aku gila karena mencintaimu Alzam," ucap Bella. Dia membaringkan Alzam di bawahnya. Alzam berusaha memberontak tapi pengaruh obat tidur membuatnya lemas tak berdaya. Rasa kantuknya sangat berat. Alzam mencoba tetap sadar. Hal itu dimanfaatkan Bella untuk mengikat tangan dan kaki Alzam dengan rantai yang sudah disiapkannya. Sekarang Alzam tak bisa melawannya. Bella mulai melepas pakaian Alzam satu per satu. Setelah itu Bella melepas pakaiannya. Mereka sama-sama tanpa sehelai benang. Bella mulai beraksi mencium Alzam.
"Bella lepaskan aku! kau gila!" bentak Alzam menghindari ciuman Bella.
"Alzam kau tinggal menikmati semua yang ku berikan padamu sekarang," ucap Bella.
Saat Bella mau melakukan hal yang lebih serius, Alzam berusaha mengelak dan berteriak minta tolong
Braag ...
__ADS_1
Pintu kamar itu terbuka secara keras oleh kaki Emira.